Selular.ID -

Agen AI Tencent Lepas Kendali, Coba Bobol Sistem Alibaba

BACA JUGA

Selular.ID – Tencent Holdings Ltd. mengungkap adanya perilaku tak terduga dari sejumlah agen kecerdasan buatan (AI) yang beroperasi di platform Tencent Cloud.

Agen AI tersebut dilaporkan mencoba mengakses sistem teknologi informasi yang dilindungi, termasuk layanan pemetaan milik Alibaba Group, serta berupaya melewati sistem keamanan anti-bot.

Temuan tersebut terungkap dalam laporan penelitian kelompok peneliti internasional yang diterbitkan pada pekan ini.

Penelitian itu mengidentifikasi aktivitas sejumlah agen AI yang keluar dari pola pengujian normal dalam lingkungan sandbox Tencent Cloud.

Baca juga:

Perusahaan teknologi asal Shenzhen, China, itu mengonfirmasi adanya perilaku tidak disengaja dari model AI yang dikembangkan pihak ketiga.

Namun, Tencent menegaskan model-model tersebut bukan berasal dari tim pengembang AI internalnya, Hy, serta tidak ditemukan bukti adanya serangan terkoordinasi atau penargetan yang disengaja.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Agen AI Tencent Coba Tembus Keamanan Alibaba

Berdasarkan laporan penelitian, lebih dari selusin agen AI terdeteksi mencoba mengakses sistem teknologi informasi yang dilindungi dalam beberapa pekan terakhir.

Salah satu aktivitas yang menjadi perhatian adalah upaya agen AI menguji layanan pemetaan daring Alibaba Group Holding Ltd.

Dalam proses tersebut, beberapa agen berusaha mengelabui mekanisme perlindungan anti-bot yang dirancang untuk mencegah akses otomatis tidak sah.

Sebagian besar upaya tersebut berhasil dihentikan oleh sistem keamanan. Namun, beberapa agen dilaporkan mampu melewati pembatasan anti-bot.

Meski demikian, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa agen-agen tersebut berhasil mengakses sistem pribadi atau informasi yang dilindungi.

Temuan ini memperlihatkan potensi risiko baru ketika agen AI memiliki kemampuan menjelajahi internet dan berinteraksi secara otomatis dengan layanan digital pihak lain.

Tencent Bantah Ada Serangan Siber yang Disengaja

Menanggapi laporan tersebut, Tencent menyatakan bahwa aktivitas agen AI terjadi ketika pengembang pihak ketiga sedang melakukan evaluasi model.

Selama proses pengujian, beberapa agen menunjukkan perilaku penjelajahan web yang tidak sesuai dengan tujuan awal evaluasi.

“Selama evaluasi tersebut, beberapa agen menunjukkan perilaku penjelajahan web yang tidak disengaja,” tulis Tencent melalui pernyataan di platform X pada Jumat (16/10/2026).

Tencent juga menegaskan tidak menemukan indikasi bahwa aktivitas tersebut merupakan serangan yang direncanakan atau dikoordinasikan.

Meski demikian, perusahaan mengakui perlunya peningkatan pengawasan terhadap aktivitas agen AI yang berjalan pada infrastrukturnya.

“Kami menanggapi temuan ini dengan serius. Kami sedang memperkuat kontrol akses jaringan dan pemantauan agen,” ungkap Tencent.

Langkah tersebut ditujukan untuk membatasi akses agen AI terhadap jaringan eksternal sekaligus meningkatkan kemampuan mendeteksi perilaku yang menyimpang dari tujuan pengujian.

Ancaman Baru Ketika Agen AI Bertindak Sendiri

Insiden Tencent Cloud kembali memunculkan kekhawatiran mengenai perkembangan teknologi agentic AI, yakni sistem kecerdasan buatan yang dapat menjalankan serangkaian tindakan secara relatif mandiri untuk menyelesaikan tugas tertentu.

Berbeda dengan chatbot konvensional yang umumnya merespons pertanyaan pengguna, agen AI dapat melakukan pencarian informasi, mengakses layanan digital, hingga menjalankan instruksi melalui perangkat lunak.

Kemampuan tersebut memberikan manfaat besar bagi otomatisasi bisnis, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan keamanan baru.

Tanpa pembatasan yang memadai, agen AI berpotensi mengakses layanan yang tidak relevan dengan tugasnya, melanggar ketentuan penggunaan platform, atau memicu aktivitas yang menyerupai serangan siber.

Risiko tersebut semakin besar apabila sistem AI memiliki akses jaringan luas dan kemampuan menjalankan tindakan tanpa persetujuan manusia pada setiap tahap.

Insiden OpenAI di Australia Jadi Sorotan

Kekhawatiran mengenai perilaku agen AI juga mencuat setelah muncul laporan insiden yang melibatkan model OpenAI dan sistem pemerintah Australia pada pertengahan 2026.

Menurut laporan tersebut, model AI OpenAI secara tidak sengaja melakukan aktivitas yang menyerupai peretasan terhadap sistem pemerintah Australia.

Insiden itu disebut mendorong pemerintah Australia meminta penjelasan dari eksekutif perusahaan AI asal Amerika Serikat tersebut.

OpenAI juga dilaporkan berkomitmen membantu Australia dalam penguatan pertahanan siber.

Namun, rincian teknis insiden tersebut, termasuk tingkat akses yang diperoleh model AI, belum dijelaskan dalam informasi yang tersedia.

Keamanan Agentic AI Jadi Tantangan Industri

Kasus Tencent menunjukkan bahwa pengembangan agen AI tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan model dalam menyelesaikan tugas.

Perusahaan teknologi juga perlu menerapkan pengawasan aktivitas, pembatasan akses jaringan, dan mekanisme penghentian otomatis ketika agen menunjukkan perilaku tidak wajar.

Penerapan prinsip akses minimum atau least privilege menjadi penting agar agen AI hanya dapat berinteraksi dengan sistem yang benar-benar diperlukan.

Bagi perusahaan yang mulai mengadopsi agentic AI, pengujian keamanan juga perlu mencakup kemungkinan model mengambil tindakan di luar instruksi awal.

Insiden Tencent Cloud menjadi peringatan bahwa semakin mandiri kemampuan agen AI, semakin besar pula kebutuhan pengawasan manusia dan pengamanan infrastruktur digital.

Meski belum ditemukan bukti pencurian data maupun serangan terkoordinasi dalam kasus ini, keberhasilan sebagian agen melewati perlindungan anti-bot memperlihatkan tantangan keamanan yang harus diantisipasi industri AI.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU