Selular.ID – Ericsson meluncurkan sistem Integrated Sensing and Communication (ISAC) untuk jaringan 5G operator selular.
Teknologi ini dirancang untuk melacak drone dan objek bergerak lainnya di area yang luas, di tengah persaingan yang semakin ketat di antara para vendor dan operator.
ISAC mengubah jaringan komunikasi menjadi sebuah sensor dengan cara menganalisis sinyal radio yang dipantulkan oleh objek, mirip dengan cara kerja radar.
Platform dari Ericsson ini memungkinkan pihak di sektor pertahanan, keamanan publik, dan infrastruktur kritis untuk mendeteksi serta melacak objek bergerak, bahkan objek yang tidak terhubung ke jaringan tersebut.
Setelah melalui serangkaian pengujian dalam beberapa bulan terakhir, vendor asal Swedia ini berencana untuk melaksanakan uji coba komersial berskala kecil yang berfokus pada fungsi penginderaan (sensing) bersama pelanggan terpilih pada tahun depan, dengan penerapan yang lebih luas diperkirakan akan terjadi pada 2028.
Kemampuan komunikasi terintegrasi nantinya akan ditambahkan seiring dengan pengembangan ISAC menuju teknologi 6G.
Meskipun ISAC digadang-gadang sebagai kemampuan unggulan untuk jaringan 6G di masa depan, sejumlah demonstrasi dan uji coba telah dilakukan pada bagian-bagian tertentu dari jaringan 5G.
Sistem Ericsson ini menyasar objek-objek yang berada di ketinggian rendah di area yang luas; sistem ini berfungsi melengkapi radar dan sensor lainnya, bukan menggantikannya.
Sistem ini mengombinasikan perangkat radio 5G yang memiliki kemampuan penginderaan, edge computing, kecerdasan buatan (AI), dan pemrosesan sinyal untuk mendeteksi serta melacak objek, sekalipun objek tersebut tidak terhubung ke jaringan.
Baca Juga:Â Presiden Direktur Ericsson Nora Wahby Sebut Penetrasi Jaringan 5G di Indonesia Capai 30% di Tahun 2030
Ericsson mencatat bahwa mengamati objek dari berbagai sudut dapat meningkatkan akurasi dan membantu menjaga pelacakan agar tidak terputus. Hal ini dimungkinkan karena sistem mengirim dan menerima sinyal penginderaan dari beberapa lokasi jaringan yang terpisah.
Sistem ini beroperasi menggunakan menara, backhaul, dan spektrum yang sudah ada, serta mampu meneruskan data pelacakan kepada sistem keamanan dan komando yang memiliki wewenang.
Ericsson menyatakan bahwa pengujian yang telah divalidasi menunjukkan sistem mereka mampu melacak drone mikro dari jarak beberapa kilometer dengan penentuan posisi 3D yang presisi, meskipun hasilnya bergantung pada profil penerbangan target, kondisi medan, dan konfigurasi sistem.
AT&T dan Ericsson mengadakan demonstrasi pendeteksian drone di dekat Stadion AT&T di Arlington, Texas, selama turnamen sepak bola Piala Dunia FIFA beberapa bulan lalu.
Vendor tersebut bersama perusahaan ICT milik negara Finlandia, Erillisverkot, juga telah melakukan demonstrasi langsung di pelabuhan kargo Helsinki, dengan memanfaatkan data penginderaan dari beberapa titik jaringan untuk mendeteksi drone berukuran kecil yang terbang di ketinggian rendah.
Baru-baru ini, Ericsson menyebutkan bahwa mereka telah mengalokasikan dana sebesar $100 juta untuk teknologi ISAC (Integrated Sensing and Communications) dan menargetkan peluncuran produk komersial dalam waktu dua tahun—tepat sebelum perdebatan mengenai standar yang diperkirakan akan berlangsung pada Konferensi Komunikasi Radio Dunia (World Radiocommunication Conference) 2027.
Sejumlah vendor dan operator lain juga turut mengembangkan teknologi ISAC. Samsung dan Verizon telah menguji pemetaan kepadatan kerumunan secara hampir waktu nyata (near-real-time) di Dallas, Texas.
Begitu pun dengan Verizon dan Qualcomm. Kedua perusahaan itu telah menguji coba pelacakan drone serta kendaraan darat di kampus Qualcomm di San Diego, California.
Selain Samsung dan Qualcomm, raksasa teknologi China Huawei juga telah mengembangkan teknologi serupa.
CEO Ericsson Federal, Christopher Ling, sebelumnya mengungkapkan bahwa menurut informasi yang diterima Ericsson, Huawei telah mengoperasikan lebih dari 300 sistem yang mendukung teknologi ISAC—yang mengindikasikan keunggulan awal dalam hal penerapan—meskipun ia menambahkan bahwa angka tersebut mungkin tidak sepenuhnya akurat.
Baca Juga:Â Ericsson: Indonesia Peringkat Kedua Pengguna AI Multimodal Harian


