Selular.ID – Telkom Indonesia membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun sepanjang Januari hingga September 2026, tumbuh 3,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan bisnis Data, Internet & IT Services sebesar 8,3% menjadi Rp71,5 triliun, seiring penguatan empat segmen bisnis utama dan berlanjutnya transformasi perusahaan melalui program TLKM 30.
Dari sisi profitabilitas, Telkom mencatat EBITDA sebesar Rp55,5 triliun atau meningkat 2% secara tahunan (year-on-year/YoY), dengan margin EBITDA 48,9%.
Sementara itu, laba bersih tercatat Rp14,4 triliun dengan margin 12,7%. Jika menggunakan perhitungan laba bersih normalisasi, nilainya mencapai Rp16,5 triliun atau tumbuh 3,9% YoY, dengan margin 14,6%.
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan perusahaan terus memperkuat bisnis inti dan menjalankan transformasi untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.
Menurutnya, peningkatan konsumsi data dan kebutuhan layanan digital yang semakin andal menjadi peluang bagi TelkomGroup untuk mengoptimalkan kapabilitas konektivitas dan infrastruktur.
“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal,” ujar Nanang dalam keterangan resmi laporan kinerja kuartal III 2026, Senin (2/11/2026).
Empat Segmen Bisnis Telkom Catat Pertumbuhan
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Telkom mencatat pertumbuhan dari empat segmen bisnis utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Kinerja tersebut mencerminkan kontribusi bisnis konektivitas, infrastruktur digital, solusi teknologi informasi, hingga layanan jaringan internasional.
Pada segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband, pendapatan tercatat Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5% YoY.
Sementara itu, Telkomsel membukukan pendapatan Rp82,9 triliun, meningkat 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan Telkomsel terutama ditopang bisnis digital yang menghasilkan pendapatan Rp60,7 triliun atau naik 7,7% YoY.
Strategi pengelolaan nilai pelanggan, penyederhanaan produk, dan penguatan monetisasi layanan menjadi beberapa faktor pendukung kinerja tersebut.
Dampaknya terlihat pada peningkatan rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) seluler Telkomsel sebesar 7,1% menjadi Rp45.400.
Sementara itu, data yield, yakni pendapatan yang diperoleh dari konsumsi data, meningkat 6,5% YoY.
Untuk layanan fixed broadband, IndiHome mencatat pendapatan Rp19,1 triliun. Meski perusahaan tengah melakukan penataan basis pelanggan, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan secara kuartalan.
Pada kuartal III 2026, jumlah pelanggan IndiHome meningkat 1,2% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 9,63 juta pelanggan. ARPU juga naik 3,2% secara kuartalan menjadi Rp217.700.
Bisnis Data Center dan Infrastruktur Digital Menguat
Segmen B2B Infrastructure membukukan pendapatan Rp7,1 triliun, meningkat 5,5% YoY. Pertumbuhan ini didukung layanan data center, konektivitas, serta penyewaan infrastruktur yang dikelola TelkomGroup.
Di bisnis menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) mencatat pendapatan dari bisnis menara dan fiber to the tower (FTTT) sebesar Rp7,01 triliun, tumbuh 1,8% YoY.
Mitratel membukukan EBITDA Rp5,81 triliun dan laba bersih Rp1,55 triliun. Margin EBITDA tercatat 82,9%, sedangkan margin laba bersih mencapai 22,2%. Perusahaan mempertahankan tingkat profitabilitas tersebut melalui pengelolaan biaya yang lebih efektif.
Sementara itu, bisnis data center TelkomGroup melalui NeutraDC mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 17% YoY menjadi Rp1,39 triliun hingga September 2026. EBITDA NeutraDC meningkat 35% YoY dengan margin EBITDA mencapai 40,9%.
Kontribusi pertumbuhan berasal dari fasilitas data center di Singapura dan Cikarang, seiring meningkatnya kebutuhan pelanggan serta permintaan komputasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
NeutraDC juga mengembangkan layanan Neutra Compute untuk memenuhi kebutuhan komputasi tersebut.
Dalam pengembangan jangka panjang, NeutraDC menargetkan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi mencapai 1 gigawatt (GW).
Untuk mendukung ekspansi tersebut, TelkomGroup tengah menjajaki kemitraan strategis yang mencakup penguatan kemampuan teknis, akses pasar, dan pendanaan.
Segmen B2B ICT dan Bisnis Internasional Ikut Tumbuh

Pada segmen B2B ICT, Telkom membukukan pendapatan Rp11,2 triliun, meningkat 3,1% YoY. Bisnis usaha kecil dan menengah atau Small and Medium Enterprises (SME) menjadi salah satu pendorong utama dengan pendapatan Rp3,3 triliun, tumbuh 10,2%.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan jumlah pelanggan Indibiz sebesar 10,9% YoY menjadi 771,1 ribu pelanggan. Indibiz merupakan layanan Telkom yang menyasar kebutuhan konektivitas dan solusi digital bagi pelaku usaha, khususnya segmen UKM.
Selain itu, bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution mencatat pertumbuhan 6,2% YoY. Peningkatan ini memperlihatkan kontribusi layanan konektivitas berkecepatan tinggi dalam portofolio solusi digital korporasi.
Segmen International juga mencatatkan kinerja positif. Pendapatannya mencapai Rp8,9 triliun, meningkat 5,8% YoY. Salah satu pendorongnya adalah pendapatan jaringan yang tumbuh 50,2% menjadi Rp1,37 triliun.
Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan kebutuhan konektivitas internasional dari perusahaan penyedia layanan cloud berskala global atau global hyperscalers serta operator jaringan internasional atau global carriers.
Melalui PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin), TelkomGroup juga memperluas infrastruktur jaringan kabel laut. Salah satunya proyek ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026.
Selain itu, proyek INSICA ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026.
Pengembangan jaringan tersebut turut mendukung penguatan Batam sebagai hub kabel laut internasional yang terintegrasi dengan fasilitas data center NeutraDC.
Nanang mengatakan pengembangan konektivitas internasional menjadi bagian dari strategi TelkomGroup untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital regional dan global.
“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global,” kata Nanang.
Transformasi TLKM 30 Fokus pada Streamlining

Di tengah pertumbuhan bisnis, Telkom melanjutkan program transformasi TLKM 30 yang terdiri dari empat pilar strategis, yaitu Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.
Keempat pilar tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan, menyederhanakan portofolio perusahaan, mengoptimalkan nilai aset, serta memperkuat peran Telkom sebagai strategic holding.
Pada pilar Operational & Service Excellence, TelkomGroup melanjutkan disiplin pengelolaan biaya dan arus kas untuk menjaga efisiensi operasional sekaligus mendukung keberlanjutan investasi. Pengelolaan tersebut juga mencakup penyesuaian biaya operasional dan karyawan, termasuk pembayaran program pensiun dini atau Early Retirement Program (ERP).
Sementara itu, Streamlining menjadi salah satu prioritas transformasi sepanjang 2026. Hingga kuartal III, Telkom telah menyelesaikan penataan 14 entitas perusahaan, terdiri dari divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, dan penggabungan dua entitas.
Dari sisi investasi, belanja modal atau capital expenditure (capex) TelkomGroup mencapai Rp15,7 triliun. Rasio capex terhadap pendapatan tercatat 13,8%, dengan 94,3% alokasi investasi diarahkan ke segmen B2C dan B2B Infrastructure untuk memperkuat kapabilitas konektivitas digital.
Nanang menyebut penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi bagian penting untuk membentuk organisasi yang lebih ramping, sederhana, dan adaptif.
“Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi langkah penting untuk membawa TelkomGroup menjadi organisasi yang lebih lean, simple, dan agile,” ujarnya.
InfraNexia Rampungkan Konsolidasi Aset Wholesale Fiber
Salah satu perkembangan penting dalam pilar Unlock Value adalah penyelesaian pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026.
Melalui langkah tersebut, lebih dari 90% aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia. Entitas ini akan mengembangkan bisnis infrastruktur fiber melalui model carrier-neutral dan open-access.
Model carrier-neutral memungkinkan infrastruktur jaringan dimanfaatkan oleh berbagai penyedia layanan tanpa bergantung pada satu operator tertentu. Sementara open-access membuka akses penggunaan jaringan bagi mitra dan pelaku industri secara lebih luas.
Pemisahan tersebut menjadi bagian dari upaya Telkom mengoptimalkan pemanfaatan aset fiber sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.
Infrastruktur yang terkonsolidasi juga diharapkan dapat mendukung efisiensi pengelolaan jaringan dan memperkuat layanan konektivitas bagi berbagai segmen pelanggan.
TelkomGroup masih akan melanjutkan agenda transformasi melalui empat pilar TLKM 30, termasuk penguatan kualitas layanan, optimalisasi aset, dan penataan struktur bisnis.
Nanang menyampaikan perusahaan menargetkan dapat menutup 2026 dengan kinerja yang semakin solid. TelkomGroup juga akan melanjutkan peningkatan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan melalui pengembangan kapabilitas konektivitas serta infrastruktur digital.
Kinerja sembilan bulan pertama 2026 tersebut menjadi dasar bagi Telkom dalam melanjutkan penguatan bisnis inti, pengembangan data center, perluasan konektivitas internasional, serta konsolidasi portofolio perusahaan hingga akhir tahun.


