Selular.ID – Microsoft menemukan 1.416 titik kerentanan keamanan pada ekosistem Windows, termasuk Windows 10, Windows 11, dan Windows Server.
Temuan tersebut mendorong perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu meminta pengguna segera memasang pembaruan keamanan atau security patch Oktober 2026.
Dari total kerentanan yang dilaporkan, sebanyak 85 celah masuk kategori kritis atau berisiko tinggi.
Sementara itu, 67 kerentanan berkaitan dengan remote code execution (RCE), yakni celah yang berpotensi memungkinkan penyerang menjalankan kode berbahaya dari jarak jauh.
Baca juga:
- Perplexity AI Lokal Kini Bisa Diakses di PC Windows dengan NVIDIA RTX
- Apple Siapkan Sinkronisasi Clipboard iPhone dan Windows di Uni Eropa
Melansir PCWorld, Minggu (18/10/2026), lebih dari 1.000 celah keamanan ditemukan pada berbagai versi Windows 10, Windows 11, dan Windows Server.
Yang lebih mengkhawatirkan, satu kerentanan dilaporkan telah dieksploitasi dalam serangan nyata, sedangkan dua celah lainnya telah diketahui publik sebelum pembaruan keamanan dirilis.
67 Celah Windows Berisiko Dieksploitasi dari Jarak Jauh
Kerentanan berjenis remote code execution menjadi salah satu ancaman serius karena dapat membuka peluang bagi penyerang untuk menjalankan perintah atau kode berbahaya pada sistem yang rentan.
Dalam kondisi tertentu, eksploitasi RCE dapat digunakan untuk menyusupkan malware, mengganggu layanan, atau mengakses informasi tanpa izin.
Namun, tingkat bahayanya bergantung pada karakteristik masing-masing celah, termasuk apakah eksploitasi membutuhkan autentikasi atau interaksi pengguna.
Dari 1.416 kerentanan yang dilaporkan, sebagian besar lainnya dikategorikan berisiko tinggi dan berpotensi memengaruhi keamanan perangkat apabila tidak segera ditangani.
Temuan ini menjadi perhatian bagi pengguna komputer pribadi maupun perusahaan yang mengoperasikan Windows Server untuk mendukung sistem bisnis dan layanan digital.
Satu Celah Keamanan Sudah Dieksploitasi Hacker
Microsoft juga mengungkap adanya satu celah keamanan yang telah dimanfaatkan dalam serangan di dunia nyata.
Kondisi tersebut meningkatkan urgensi pemasangan pembaruan karena ancamannya tidak lagi sebatas potensi serangan.
Selain itu, terdapat dua kerentanan lain yang informasinya telah diketahui publik sebelum perbaikan keamanan tersedia.
Meski demikian, informasi yang tersedia belum merinci identitas CVE, metode serangan, maupun produk spesifik yang terdampak oleh ketiga kerentanan tersebut.
Pengguna dan administrator sistem disarankan memeriksa buletin keamanan resmi Microsoft untuk mengetahui pembaruan yang relevan dengan perangkat masing-masing.
Cara Update Windows 10 dan Windows 11
Untuk mengurangi risiko eksploitasi, pengguna perlu memastikan perangkat menggunakan pembaruan keamanan terbaru yang masih didukung Microsoft.
Pada Windows 11, pengguna dapat membuka menu Settings → Windows Update → Check for updates, kemudian mengunduh dan memasang pembaruan yang tersedia.
Pengguna Windows 10 dapat memeriksa pembaruan melalui Settings → Update & Security → Windows Update, sepanjang perangkat masih memenuhi syarat menerima pembaruan keamanan.
Perlu diperhatikan, dukungan reguler Windows 10 telah berakhir pada 14 Oktober 2025.
Karena itu, pengguna Windows 10 perlu memastikan perangkat tercakup program Extended Security Updates (ESU) atau mempertimbangkan migrasi ke sistem operasi yang masih didukung.
Sementara itu, administrator Windows Server perlu memeriksa kompatibilitas pembaruan dengan aplikasi dan layanan perusahaan sebelum menerapkannya, terutama pada sistem yang menjalankan operasional penting.
Pengguna Windows Diminta Jangan Menunda Update
Pembaruan keamanan menjadi langkah penting untuk menutup celah yang berpotensi dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Selain memasang patch, pengguna sebaiknya mengaktifkan perlindungan antivirus, menghindari file mencurigakan, dan melakukan pencadangan data secara berkala.
Bagi perusahaan, pengelolaan pembaruan keamanan perlu menjadi bagian dari strategi perlindungan infrastruktur teknologi informasi.
Temuan 1.416 kerentanan yang dilaporkan pada Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa keamanan Windows membutuhkan pembaruan dan pemantauan berkelanjutan.
Terlebih, adanya celah yang telah dieksploitasi menunjukkan bahwa menunda pemasangan patch dapat memperbesar risiko serangan siber.


