Selular.ID -

Investor Mulai Tinggalkan Euforia AI, Bisnis Data Center Terancam?

BACA JUGA

Selular.ID – Industri kecerdasan buatan (AI) mulai menghadapi tekanan besar di tengah ekspansi pembangunan data center yang membutuhkan investasi jumbo.

Investor kini semakin selektif mengucurkan pendanaan karena mempertanyakan kemampuan perusahaan AI menghasilkan keuntungan di tengah tingginya biaya infrastruktur, komputasi, dan energi.

Perubahan sikap investor tersebut muncul setelah perusahaan teknologi berlomba memperluas kapasitas pusat data untuk memenuhi kebutuhan pengembangan AI generatif dan layanan komputasi berbasis cloud.

Namun, ekspansi yang membutuhkan modal besar tidak selalu diikuti kepastian keuntungan dalam jangka pendek.

Baca juga:

Mengutip Reuters, Minggu (18/10/2026), investor mulai mengalihkan perhatian dari pertumbuhan agresif menuju kualitas bisnis, kemampuan menghasilkan keuntungan, serta keberlanjutan pendanaan perusahaan teknologi.

Investor Mulai Selektif Danai Perusahaan AI

Mitra firma hukum internasional Freshfields, Harry Evans, mengatakan perubahan sentimen investor semakin terlihat dalam aktivitas pendanaan dan transaksi perusahaan teknologi.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

“Pembicaraan bergeser dari pertumbuhan dengan segala cara menjadi fokus yang jauh lebih tajam pada kualitas,” ujar Evans.

Menurutnya, investor kini tidak lagi sekadar mempertimbangkan potensi pertumbuhan pasar AI, tetapi juga menilai fundamental perusahaan secara lebih ketat.

Beberapa indikator yang menjadi perhatian mencakup valuasi, tingkat utang atau leverage, serta kemampuan model bisnis menghasilkan keuntungan.

Perubahan tersebut juga tercermin dari tekanan terhadap saham sejumlah perusahaan teknologi yang sebelumnya menikmati optimisme tinggi terhadap perkembangan AI.

Meski demikian, Evans memperkirakan aktivitas transaksi di sektor ini masih dapat bertahan hingga 2027 karena prospek bisnis AI dan infrastruktur digital dinilai tetap menjanjikan.

Merger dan Akuisisi Data Center Asia Bisa Tembus Rp350 Triliun

Di tengah meningkatnya kehati-hatian investor, bisnis data center justru masih menunjukkan peluang pertumbuhan besar.

Data Dealogic memperkirakan aktivitas merger dan akuisisi atau mergers and acquisitions (M&A) yang melibatkan pusat data di Asia berpotensi mencapai rekor US$21,3 miliar pada 2026.

Nilai tersebut setara sekitar Rp351,45 triliun dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS.

Angka itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan nilai transaksi sepanjang 2025 yang mencapai sekitar US$10 miliar.

Dalam miliar dolar AS. Angka 2026 merupakan proyeksi berdasarkan data Dealogic yang dikutip dalam laporan Reuters.

Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap infrastruktur data center belum mereda, meskipun pendanaan untuk perusahaan AI mulai diperketat.

Kebutuhan daya komputasi yang terus meningkat membuat pusat data tetap menjadi aset strategis bagi penyedia layanan cloud, perusahaan teknologi, dan pengembang AI.

Namun, besarnya nilai transaksi tidak otomatis mencerminkan keuntungan yang diperoleh operator data center.

Data Center Dihantui Krisis Lahan dan Listrik

Di balik prospek investasi yang besar, industri data center menghadapi sejumlah tantangan serius.

Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan lahan yang sesuai untuk pembangunan fasilitas pusat data berskala besar.

Selain membutuhkan lokasi strategis dan konektivitas memadai, data center AI juga memerlukan pasokan listrik berkapasitas tinggi dengan tingkat keandalan yang konsisten.

Ketersediaan energi menjadi semakin penting seiring meningkatnya penggunaan server dan akselerator komputasi untuk melatih serta menjalankan model AI.

Persoalan lainnya mencakup kebisingan fasilitas, dampak lingkungan, dan ketidakpastian regulasi terkait pembangunan proyek baru.

Hambatan tersebut dapat meningkatkan biaya investasi sekaligus memperpanjang waktu pengembangan fasilitas.

Seorang sumber yang bekerja pada perusahaan investasi platform data center Asia mengungkapkan bahwa perusahaannya telah memperketat kriteria penilaian investasi akibat meningkatnya risiko geopolitik dan perubahan kebijakan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa investor kini semakin berhati-hati sebelum menanamkan modal pada proyek infrastruktur digital bernilai besar.

Ekspansi AI Tak Lagi Cukup Mengandalkan Modal Besar

Perubahan sikap investor menjadi tantangan baru bagi perusahaan AI yang selama ini mengandalkan pendanaan eksternal untuk memperluas kapasitas komputasi.

Pengembangan model AI membutuhkan investasi berkelanjutan untuk pembelian perangkat keras, pembangunan infrastruktur, konsumsi energi, serta operasional pusat data.

Di sisi lain, perusahaan harus mampu membuktikan bahwa teknologi yang dikembangkan dapat menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang sebanding dengan biaya tersebut.

Bagi industri data center, peluang pertumbuhan tetap terbuka karena kebutuhan infrastruktur AI diperkirakan terus meningkat.

Namun, keberhasilan investasi akan semakin bergantung pada efisiensi operasional, kepastian pasokan listrik, ketersediaan lahan, serta kemampuan perusahaan mengelola risiko regulasi dan lingkungan.

Dengan potensi transaksi data center Asia mencapai US$21,3 miliar pada 2026, industri AI masih memiliki daya tarik investasi yang besar.

Namun, era ketika perusahaan teknologi mudah memperoleh pendanaan hanya bermodalkan janji pertumbuhan tampaknya mulai bergeser menuju tuntutan keuntungan yang lebih nyata.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU