Selular.ID – Kredivo mencatat sebanyak 48 persen masyarakat yang memperoleh akses kredit pertama melalui platform PayLater tersebut merupakan perempuan.
Peningkatan akses kredit pertama ini tumbuh hingga 10 kali lipat dibandingkan posisi pada tahun 2019, yang mengindikasikan semakin terbukanya inklusi keuangan formal bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses pembiayaan.
Berdasarkan Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo yang dirilis di Jakarta pada Jumat (30/10/2026), perluasan akses kredit tersebut diiringi oleh peningkatan pemanfaatan pembiayaan untuk kegiatan produktif.
Sepanjang tahun 2025, sebanyak 54 persen total kredit yang disalurkan Kredivo dialokasikan untuk kebutuhan produktif.
Secara khusus, sebanyak 48 persen dari total penerima kredit modal usaha Kredivo merupakan pelaku usaha perempuan, di mana jumlah pengguna yang mengakses kredit modal usaha secara keseluruhan melonjak hingga 15 kali lipat dibandingkan tahun 2019.
Indina Andamari, Chief Marketing Officer Kredivo, menyampaikan bahwa penyediaan akses pembiayaan yang setara menjadi kunci utama dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya perempuan yang kerap menghadapi hambatan administrasi di lembaga keuangan konvensional.
Menurutnya, sejak berdiri pada 2016, Kredivo percaya bahwa inklusi keuangan harus memberikan kesempatan yang setara, termasuk bagi laki-laki maupun perempuan untuk mengakses pembiayaan.
Akses kredit yang sesuai kebutuhan dan kemampuan dapat menjadi salah satu enabler bagi perempuan untuk mengembangkan usaha, memperkuat kemandirian ekonomi, hingga berdampak pada kesejahteraan keluarga.
“Karena itu, kami ingin memastikan semakin banyak perempuan tidak hanya terjangkau layanan kredit, tetapi juga dapat memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab,” ujar Indina Andamari.
Data Bank Dunia pada tahun 2020 menunjukkan bahwa sekitar 60 persen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia dimiliki oleh perempuan.
Kendati demikian, sebagian besar pelaku usaha perempuan masih menemui kendala saat mengajukan pembiayaan ke sektor perbankan formal akibat keterbatasan agunan fisik, ketiadaan riwayat kredit (credit history), serta ketidaklengkapan dokumen bukti pendapatan.
Kehadiran teknologi finansial (fintech) seperti Kredivo memberikan alternatif penilaian kelayakan kredit melalui data alternatif untuk menjangkau segmen tersebut.
Penelitian Kredivo yang bekerja sama dengan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menemukan bahwa kemudahan akses terhadap kredit produktif berasosiasi positif dengan peningkatan posisi tawar (bargaining power) perempuan di lingkup rumah tangga.
Akses pembiayaan modal usaha memberikan kontribusi langsung terhadap kapasitas perempuan dalam mengelola sumber daya finansial, menentukan pilihan ekonomi keluarga, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Paksi Walandouw, Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, menggaris bawahi bahwa dampak perluasan inklusi keuangan tidak sekadar diukur dari angka pertumbuhan pengguna, melainkan dari transformasi peran demografis dan ekonomi penggunanya.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Kredivo turut memperluas akses kredit bagi perempuan, dengan 48% pengguna yang pertama kali mengakses kredit melalui Kredivo adalah perempuan.
Hal ini menjadi indikasi positif bagi inklusi keuangan, mengingat akses terhadap sumber daya ekonomi dapat memengaruhi posisi tawar perempuan, baik dalam keluarga maupun aktivitas ekonomi yang lebih luas.
“Dari perspektif demografi, dampak inklusi keuangan tidak hanya dilihat dari terbukanya akses pembiayaan, tetapi juga dari bagaimana akses tersebut mendukung kapasitas perempuan dalam mengelola sumber daya, menentukan pilihan ekonomi, dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan secara lebih mandiri,” terang Paksi Walandouw.
Guna menjaga kualitas portofolio pembiayaan di tengah percepatan akuisisi pengguna baru, Kredivo mengombinasikan perluasan akses pasar dengan penerapan prinsip penyaluran kredit yang bertanggung jawab (responsible lending).
Platform ini menjalankan berbagai program literasi keuangan seperti Generasi Djempolan, Kredinspirasi, #AutoMikir, #AndaiAndaPandai, dan KrediCast. Berdasarkan evaluasi internal, sebanyak 65,7 persen pengguna Kredivo telah masuk dalam kategori cakap finansial (well-literate).
Kombinasi antara perluasan jangkauan layanan, peningkatan literasi keuangan, dan pemanfaatan sistem manajemen risiko berbasis kecerdasan buatan menjadi strategi Kredivo untuk memastikan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Baca Juga:DBS Indonesia dan Kredivo Dorong Inklusi Finansial, Beri Pinjaman Lebih dari 1 Juta
Langkah ini diproyeksikan terus memperkuat porsi pembiayaan UMKM sektor informal di Indonesia sekaligus mendorong pemerataan inklusi keuangan nasional secara terukur.


