Selular.ID -

Meski Semakin Canggih, Agen AI Belum Sepenuhnya Bisa Menggantikan Peran Manusia

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Kelak, saat agen AI canggih mencoba melakukan panggilan telepon untuk menegosiasikan tagihan layanan kabel, bisa jadi justru manusia sungguhan—bukan perangkat lunak tersebut—yang akan bernegosiasi dengan pihak layanan pelanggan.

Hal ini dikarenakan agen AI, yang ditenagai oleh model dasar (foundation models) mutakhir dari perusahaan seperti Meta dan OpenAI, belum mampu melakukan tindakan di seluruh web secara andal, terutama yang melibatkan panggilan telepon.

Mantan CEO Yahoo, Marissa Mayer, yang kini memimpin perusahaan rintisan (startup) agen AI bernama Dazzle AI, mengungkapkan bahwa model AI papan atas saat ini memang piawai dalam menemukan layanan renovasi rumah secara daring bagi konsumen, namun bisa saja gagal saat harus memesan dan menjadwalkan pengerjaan perbaikan atap.

“Kami mengandalkan model-model canggih tersebut untuk memberikan saran yang tepat serta daftar kandidat yang baik, namun kami tetap melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan bahwa layanan yang kami tawarkan benar-benar dapat kami pertanggungjawabkan,” ujar Mayer, merujuk pada cara Dazzle menyerahkan tugas-tugas tertentu kepada kontraktor manusia.

Asisten digital berbasis kecerdasan buatan kini kembali menarik perhatian, berkat upaya perusahaan seperti Meta, OpenAI, dan lainnya yang mempromosikan teknologi ini sebagai sarana yang mampu menangani berbagai tugas, misalnya mencari sepatu di internet.

Muse dari Meta, Dots dari OpenAI, dan berbagai agen lainnya mampu melakukan banyak tugas saat menjelajahi web. Namun, teknologi ini masih dalam tahap awal dan sering kali terbentur hambatan digital.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Meghan Joyce, CEO perusahaan rintisan agen digital Duckbill, hambatan tersebut biasanya muncul pada tugas-tugas yang mengharuskan agen AI untuk melakukan panggilan telepon, menjadwalkan janji temu dokter atas nama seseorang, atau memesan jasa pembersihan furnitur (seperti sofa) dari penyedia layanan lokal.

Untuk tugas-tugas yang memerlukan penilaian dunia nyata, Joyce menyatakan bahwa manusia masih lebih unggul daripada AI.

Oleh karena itu, perusahaan yang mengembangkan asisten digital untuk konsumen perlu melibatkan manusia untuk mengambil alih tugas-tugas tersebut.

Itulah sebabnya Duckbill baru saja meluncurkan antarmuka pemrograman aplikasi (API) yang dirancang agar perusahaan pengembang agen pribadi dapat terhubung dengan pekerja kontrak manusia.

“Kami menggunakan model yang tidak jauh berbeda dengan Uber, di mana kami memecah tugas-tugas besar menjadi bagian-bagian kecil yang sederhana,” ujar Joyce, merujuk pada perusahaan layanan transportasi daring tempat ia pernah bekerja sebelumnya.

Perusahaan pengembang agen dapat menggunakan API Duckbill untuk mendelegasikan tugas-tugas yang kemungkinan besar sulit diselesaikan oleh agen AI. Duckbill kemudian memecah tugas-tugas tersebut menjadi bagian-bagian kecil yang dapat dikerjakan oleh orang dewasa pada umumnya secara konsisten dan andal.

“Lalu, kami memantau apa yang terjadi,” kata Joyce.

Agen yang Bingung

Mayer mengungkapkan bahwa model AI terkadang masih kekurangan akal sehat. Ia menceritakan pengalaman seorang pengguna tingkat lanjut (super user) Dazzle AI yang mencoba menggunakan teknologi tersebut untuk menangani serangkaian proyek renovasi rumah secara bersamaan, yakni penggantian atap, perbaikan jendela yang rusak, dan pembelian permukaan meja kaca.

Namun, menurut Mayer, agen AI tersebut justru tertukar antara kaca jendela dan kaca untuk meja, sehingga asisten digital itu “berusaha mencari tahu apakah kaca meja tersebut bisa dipasang pada jendela.”

Mayer menjelaskan bahwa kekeliruan ini tidak berlangsung lama karena teknologi Dazzle segera menandai tugas tersebut dan menyerahkannya kepada manusia untuk diselesaikan.

“Dalam hitungan detik, manusia berhasil membereskannya. Padahal, jika dibiarkan, agen AI mungkin akan menghabiskan jumlah token yang sangat besar,” ujar Mayer.

“Atau bahkan, mereka mungkin tidak akan pernah menemukan solusi yang tepat.” Shivani Poddar, CEO dari perusahaan rintisan agen AI personal Wajo AI, juga melibatkan tenaga kerja manusia untuk menangani panggilan telepon, bahkan menyelesaikan tes CAPTCHA yang dirancang untuk mencegah bot mengakses situs web.

“Menurut saya, kombinasi AI dan manusia—atau AI kolaboratif—adalah hal yang diperlukan untuk benar-benar menyelesaikan pekerjaan,” ujar Poddar, seraya menekankan bahwa pengguna akan berhenti memanfaatkan teknologi tersebut jika agen AI tidak mampu menuntaskan tugas-tugas yang diberikan.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU