spot_img
BerandaNewsTelcoProses Refarming Frekuensi 2,3 Ghz Rampung, Layanan 4G dan 5G Lebih Maksimal

Proses Refarming Frekuensi 2,3 Ghz Rampung, Layanan 4G dan 5G Lebih Maksimal

-

Jakarta, Selular.ID – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengumumkan telah rampung melakukan proses refarming atau penataan ulang pita frekuensi radio 2,3Ghz di sembilan klaster. Hal ini dilakukan guna meningkatkan kualitas konektivitas digital berbasis seluler, dengan mengalokasikan penggunaan spektrum frekuensi radio secara efisien.

“Maka dengan rampungnya proses refarming di sembilang klaseter yang mulai dilakukan pada 14 Juli sampai 28 september ini, menandakan kualitas selular di Indonesia semakin baik, optimal, sehingga layanan yang diterima masyarakat berada di level terbaik,” Terang Menteri Kominfo Johnny G. Plate, dalam Konferensi Pers ‘Penyelesaian Refarming 2,3 Ghz’, Rabu (29/9).

Johnny menceritakan berbagai manfaat dihasilkan dari tuntasnya proses refarming ini, antara lain perbaikan kualitas layanan selular terlebih Smartfren dan Telkomsel menggelar jaringan 4G maupun yang terbaru yaitu 5G menggunakan frekuensi 2,3 Ghz.

“Kemudian meningkatkan, dan memberi kemudahan untuk upgrade mobile broadband 4G ke 5G, meningkatkan efesiensi pembangunan jaringan 4G sampai menambah kapasitas jaringan 4G untuk mengatasi kepadatan jaringan,” sambungnya.

Sementara itu President Director Smartfren Merza Fachys yang juga hadir dalam acara tersebut menjelaskan, alokasi pita yang sudah berdampingan (contiguous) ini akan membuat seluruh operator yang memanfaatkan 2,3 Ghz akan maksimal.

“Dampakan secara teknis akan lebih optimal dari pemanfaatan frekuensi tidak terpecah-pecah letaknya, dampaknya kepada masyarkat, pun ke pelanggan layanan kami jauh lebih meningkat,” tuturnya.

Lalu menurut Nugroho, Direktur Network Telkomsel juga menjelaskan, refarming yang dilakukan di 2,3 Ghz yang tentu juga dimanfaatkan untuk 5G memiliki manfaat yang cukup luas.

“Misal jika operator memiliki frekuensi 30 Mhz, maksimum kecepatan download yang bisa dirasakan pelangan melalui 5G hanya 700 Mbps. Tetapi setelah mendapatkan penambahan, dan di tata ulang secara contiguous maka kecepatan unduh bisa meningkat menjadi 1 Gbps. Pemanfaatnya tentu banyak, contoh di negara maju yang dengan arsitektur standalone, itu bisa melakukan layanan online face recognition yang dimana dilakukan perekaman wajah secara massal kemudian di kirim ke server, layanan ini tidak mungkin dilakukan tanpa frekuensi yang cukup,” tandasnya.

Artikel Terbaru