Babak Baru Tuduhan Pelanggaran Undang-Undang Valas Oleh Xiaomi

Xiaomi Mi Store

Selular.ID – Vendor asal China Xiaomi terbilang mencapai kesuksesan fenonemal di India. Sejak 2018, perusahaan yang didirikan oleh Lei Jun itu, mampu menyalip Samsung sebagai penguasa pasar ponsel di negeri Bollywood itu.

Namun kini, seiring dengan ketegangan yang melibatkan China dan India karena klaim perbatasan, bisnis Xiaomi tengah dalam tekanan besar.

Pemerintah India diketahui telah menyita sejumlah aset milik Xiaomi karena dinilai melanggar undang-undang valuta asing (valas). Uang sebanyak 55,51 miliar rupee atau sekitar Rp 10,5 triliun milik Xiaomi telah disita.

Dalam perkembangan terbaru, Xiaomi menyebutkan bahwa para eksekutif puncaknya menghadapi ancaman “kekerasan fisik” dan paksaan selama interogasi oleh badan penanggulangan kejahatan keuangan India.

Seperti dilaporkan Reuters (9/5), pejabat dari Direktorat Penegakan memperingatkan mantan Direktur Pelaksana Xiaomi, Manu Kumar Jain, bersama dengan Chief Financial Officer Sameer B.S. Rao, dan keluarga, berada pada “konsekuensi yang mengerikan” jika mereka tidak menyampaikan pernyataan seperti yang diinginkan oleh agensi.

Di lain pihak, Direktorat Penegakan mengeluarkan pernyataan yang mengatakan tuduhan Xiaomi “tidak benar dan tidak berdasar” dan eksekutif perusahaan telah digulingkan “secara sukarela di lingkungan yang paling kondusif”.

Baca Juga: Top 5 India: Xiaomi Pimpin Q1, Realme Menang Banyak

Xiaomi telah diselidiki sejak Februari dan pekan lalu agensi India menuduh perusahaan  telah melakukan pengiriman uang ilegal ke luar negeri “dengan kedok pembayaran royalti”. Meskipun Xiaomi “tidak memanfaatkan layanan apa pun” dari mereka.

“Jumlah yang sangat besar atas nama royalti dikirimkan atas instruksi entitas induk grup China mereka,” kata agensi tersebut.

Namun vendor yang berbasis di Beijing itu, telah membantah melakukan kesalahan, dengan mengatakan pembayaran royaltinya adalah sah.

Pada Kamis (5/5), seorang hakim mendengar pengacara Xiaomi dan menunda keputusan agensi India untuk membekukan aset bank. Sidang berikutnya ditetapkan pada 12 Mei 2022.

Baca Juga: Mantan Bos Xiaomi India Diselidiki Karena Melanggar UU

Sejauh ini perusahaan menuduh telah terjadi intimidasi oleh lembaga penegak hukum ketika para eksekutif muncul untuk diinterogasi beberapa kali pada April lalu.

Jain dan Rao pada kesempatan tertentu “diancam dengan konsekuensi yang mengerikan termasuk penangkapan, kerusakan pada prospek karir, tanggung jawab pidana dan kekerasan fisik jika mereka tidak memberikan pernyataan sesuai perintah” agensi, menurut pengajuan di Pengadilan Tinggi negara bagian Karnataka selatan.

Para eksekutif “mampu menahan tekanan untuk beberapa waktu, (tetapi) mereka akhirnya mengalah di bawah pelecehan dan tekanan yang ekstrem dan bermusuhan dan tanpa sadar membuat beberapa pernyataan,” tambah  sumber itu.

Dalam pernyataan kepada media, Direktorat Penegakan mengatakan bahwa mereka adalah “agen profesional dengan etika kerja yang kuat dan tidak ada paksaan atau ancaman kepada pejabat perusahaan pada setiap titik waktu”. Xiaomi sendiri sejauh ini menolak berkomentar dengan alasan menunggu proses hukum.

Baca Juga: Kejar Indonesia, India Bersiap Lelang Spektrum 5G, Targetkan Waktu Peluncuran Maret 2023

Halaman berikutnya

Berkat tangan dingin Jain, Xiaomi mampu menguasai pasar smartphone India.