Selular.ID – Tahun ini ada yang berbeda dari Strategi yang ditempuh oleh Infinix. Di tengah keterbatasan memori yang mendera industri smartphone, menurunnya daya beli masyarakat, dan terus melemahnya rupiah, Infinix justru berupaya mengubah jati diri.
Dari brand yang terkenal di segmen mid to low end, Infinix yang merupakan pilar kesuksesan induk perusahaan, Transsion Group di banyak negara, termasuk Indonesia, kini merangsek ke segmen premium.
Sejak beberapa bulan terakhir, Infinix secara aktif beralih dari pemain pasar negara berkembang yang berfokus pada harga terjangkau ke segmen ponsel pintar premium.
Perubahan strategi itu, secara langsung menantang raksasa industri yang sudah “bulukan” di segmen ini, seperti Apple dan Samsung.
Perubahan strategi ini bertujuan untuk merebut segmen menengah hingga atas dengan menawarkan perangkat keras kelas unggulan dengan harga yang sangat kompetitif.
Langkah Infinix di segmen premium, tercermin dari perangkat unggulan, seperti Note 60 Ultra. Smartphone ini menantang dominasi Samsung dan Apple dengan fitur-fitur kelas high end yang semakin memanjakan pengguna.
Tengok saja dari sisi desain dan layar yang terkesan sangat elegan. Di bagian ini, Infinix menampilkan kaca belakang yang melengkung, sentuhan akhir unggulan yang ramping, dan layar AMOLED dengan refresh rate tinggi (144Hz) yang setara dengan model Galaxy dan iPhone kelas atas.
Pada sistem kamera Note 60 Ultra sudah mengusung resolusi tinggi. Dilengkapi dengan kamera utama hingga 200MP, sangat mengandalkan fotografi berbasis AI dan stabilisasi cahaya rendah yang lebih baik.
Fitur lain adalah pengisian daya super cepat. Fitur ini, membedakan Infinix dari kecepatan pengisian daya standar Apple dan Samsung dengan baterai besar dan kemampuan pengisian daya ultra cepat, hingga 120W.
Pada bagian otak, Note 60 Ultra didukung oleh prosesor MediaTek Dimensity premium yang mampu menangani game mobile berat dan aplikasi intensif.
Dengan harga kompetitif, sekitar US$600, Infinix mengandalkan strategi “pembunuh flagship” untuk memenangkan hati konsumen yang menginginkan spesifikasi kelas atas tanpa label harga mewah.
Lantas apa yang menyebabkan Infinix kini lebih membidik segmen premium? Padahal selama ini brand image yang sudah terbentuk di benak konsumen, Infinix lekat dengan ponsel dengan budget terjangkau, namun tetap menawarkan fitur-fitur terdepan.
Setidaknya ada empat jawaban terkait dengan perubahan strategi tersebut.
Mengatasi Batasan “Hanya Ponsel Murah”: Awalnya dikenal karena kepemimpinan rasio harga-kinerja di pasar negara berkembang, merek ini berisiko kehilangan pengguna seiring bertambahnya usia dan mereka mencari estetika, daya tahan, dan dukungan perangkat lunak yang lebih baik.
Meningkatkan jajaran produknya memungkinkan Infinix untuk mempertahankan pelanggan setia mereka.
Memamerkan Inovasi Teknologi: Infinix menggunakan perangkat ultra-premium seperti Infinix NOTE 60 Ultra untuk membuktikan kemampuan R&D-nya.
Ini termasuk mengintegrasikan fitur-fitur seperti konektivitas satelit dua arah, sistem kamera 200MP yang canggih, dan sinyal super AI tingkat lanjut.
Meningkatkan Prestise Merek melalui Desain: Bermitra dengan desainer otomotif mewah seperti Pininfarina membantu Infinix bertransisi dari membuat ponsel murah yang “eksperimental dan berisik” menjadi perangkat keras premium yang ramping dan menarik bagi khalayak global yang lebih luas.
Memperluas Margin Keuntungan: Pasar ponsel pintar kelas bawah dan murah sangat jenuh dan menghasilkan margin keuntungan yang rendah.
Beralih ke segmen harga menengah hingga tinggi dan premium memungkinkan perusahaan untuk berinvestasi lebih banyak dalam teknologi mutakhir dan pemasaran global.
Baca Juga: Infinix Dominasi Ajang Selular Award ke-23, Sukses Borong 5 Penghargaan Sekaligus
Permintaan Smartphone Premium Terus Meningkat
Perubahan fokus Infinix ke segmen premium, sejatinya bukan sekedar tren sesaat. Pasalnya, jika mengacu berbagai riset, permintaan smartphone khususnya segmen premium terus meningkat.
Tengok saja laporan lembaga riset pasar terkemuka, NIQ. Dalam Selular Telco Outlook 2025 di Jakarta, Rabu (26/11/2025), NIQ memaparkan pasar smartphone di tanah air sepanjang periode Januari hingga September 2025.
Terungkap bahwa, saat ini minat konsumen telah beralih dari perangkat kelas menengah ke flagship.
Laporan NIQ mencatat bahwa penjualan smartphone di kelas harga menengah (Rp 5 juta – Rp 10 juta) dan di atas Rp 10 juta mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, jika dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
Menurut catatan NIQ, smartphone premium terutama dberbandrol seharga di atas Rp 10 juta, meningkat hingga 67%. Sedangkan untuk segmen harga Rp 5 juta – Rp 10 juta tumbuh 10,6%.
Di sisi lain, smartphone segmen harga di bawah Rp 5 jutaan justru mengalami penurunan hingga 82,7%. Sejaalan dengan melemahnya daya beli masyarakat sepanjang 2025.
Sementara, di sisi nilai transaksi, segmen premium menjadi penyumbang terbesar.
Untuk produk di atas Rp 10 juta berkontribusi sebesar 31,7% terhadap total nilai penjualan, diikuti dengan segmen Rp 5 juta – Rp. 10 juta dengan persentase 20,6%.
Laporan ini juga memperkirakan pasar smartphone di Indonesia akan berkembang lebih baik pada 2026, jika dibandingkan dengan 2025 lalu.
Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti meningkatnya pendapatan kelas menengah, pergeseran gaya hidup yang menjadikan ponsel sebagai investasi jangka panjang, penetrasi 5G oleh operator, dan ketersediaan layanan pendukung seperti kecerdasan buatan (AI).
Sebagian masyarakat kini melihat ponsel kelas atas sebagai kebutuhan untuk produktivitas dan status sosial.
Persaingan yang ketat antar vendor juga memberikan keuntungan bagi pengguna. Pemain baru di segmen ini, seperti Infinix, diharapkan mendapat daya tarik lebih dari konsumen dengan inovasi dan teknologi terbaru yang dibawa, namun dengan harga yang lebih terjangkau.
Tantangan Infinix di Segmen Premium
Meski segmen premium menjajikan berbagai keuntungan yang dapat diraih, termasuk margin yang lebih tinggi, namun memasuki pasar ini sesungguhnya tidaklah mudah.
Terdapat berbagai tantangan yang dihadapi Infinix saat berupaya membangun jati diri baru di segmen premium.
Salah satu poin paling kritikal adalah perlunya membangun narasi dan perceive value yang relevan dengan kebutuhan konsumen.
Pasalnya, berbeda dengan entry level dan menengah, konsumen premium tidak hanya membeli produk, tetapi juga nilai atau gengsi.
Tantangannya adalah menciptakan cerita merek (branding) yang otentik dan konsisten agar relevan dengan selera konsumen kelas atas.
Persaingan dengan pemain lama yang sudah menguasai pasar juga menjadi tantangan tersendiri. Harus diakui, sebagai new comer, Infinix bakal dihadapkan pada persaingan ketat dalam merebut pangsa pasar.
Sejak bertahun-tahun, merek-merek mapan telah memiliki loyalitas konsumen kuat. Mencuri pasar dari merek-merek seperti Samsung dan Apple yang sudah dikenal luas oleh konsumen berduit tebal, merupakan perjuangan yang tak mudah.
Persoalan lain yang juga menjadi concern adalah kualitas tanpa celah. Seperti diketahui, konsumen di segmen premium sangat kritis. Satu saja ditemukan cacat pada produk atau layanan dapat merusak reputasi merek secara keseluruhan.
Tantangan lain yang mengemuka adalah investasi awal yang masif. Beralih ke segmen premium, Infinix bakal menghadapi lonjakan biaya.
Biaya pengembangan produk premium terbilang mahal karena mencakup investasi tinggi pada R&D (Riset & Pengembangan), penggunaan material terbaik, teknologi mutakhir, dan proses kendali mutu yang ketat. Tingginya biaya ini ditujukan untuk menciptakan nilai tambah yang tidak bisa ditiru oleh kompetitor
Selain pengembangan produk, upaya membangun pengalaman pelanggan (customer experience) juga membutuhkan modal yang sangat besar.
Pasalnya, produk premium membutuhkan pengemasan (packaging) yang bersifat ekslusif, layanan purna jual yang prima, serta komunikasi pemasaran yang konsisten demi membangun kepercayaan pelanggan.
Baca Juga: Infinix Note 60 Series Panen Award, Perkuat Ambisi Smartphone Premium



