Selular.ID -

Pasar Smartphone 2026: Kelangkaan Memori Mempercepat Premiumisasi

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Kelangkaan pasokan memori DRAM (Dynamic Random-Access Memory) dan memori flash NAND yang parah, terutama didorong oleh permintaan pusat data AI yang besar, memaksa vendor ponsel pintar untuk lebih memprioritaskan model premium.

Dengan biaya memori naik secara signifikan yang menggerogoti anggaran, produsen terpaksa meninggalkan ponsel terjangkau untuk melindungi profitabilitas, sehingga mengakibatkan pasar terpolarisasi secara historis.

Dalam laporan terbaru, lembaga riset pasar Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone vendor-vendor yang sebelumnya fokus pada segmen mid to low end terdampak parah.

Xiaomi misalnya, diprediksi akan menurun 28 persen sepanjang 2026, dibandingkan dengan proyeksi penurunan 4 persen untuk Samsung, sementara Apple diperkirakan akan tetap stabil.

Dengan keterbatasan memori yang belum terlihat ujungnya, pasar smartphone premium menjadi semakin penting. Respons industri pun semakin tampak struktural dari pada sementara atau tren sesaat.

Analis Omdia, Le Xuan Chiew, mengatakan penyesuaian taktis vendor tidak boleh dilihat sebagai reaksi jangka pendek tetapi sebagai perubahan jangka panjang yang akan membentuk daya saing dan keberlanjutan selama bertahun-tahun.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Strategi yang mendasarinya sederhana: menjual lebih sedikit perangkat dengan harga lebih tinggi daripada mengejar volume yang tidak lagi didukung oleh ekonomi memori saat ini.

Senada dengan Counterpoint dan Omdia, laporan IDC sepanjang kuartal pertama 2026 mencerminkan tren tersebut. Harga jual rata-rata di seluruh industri telah mencapai rekor $550 selama kuartal tersebut, naik $100 dari tahun sebelumnya.

Pemicunya jelas, produsen ponsel sengaja mengurangi kehadiran mereka di segmen harga lebih rendah untuk melindungi margin.

Kiranjeet Kaur, Associate Director untuk Perangkat Konsumen di IDC, mengatakan kekuatan Apple dan Samsung di segmen premium memungkinkan mereka untuk membatasi kenaikan harga.

Berbeda halnya dengan Xiaomi, Oppo, dan Vivo yang terpaksa mempercepat langkah mereka menuju smartphone dengan harga lebih tinggi hanya untuk mempertahankan profitabilitas.

Strategi tersebut tercermin dalam kinerja kuartal kedua. Omdia mengaitkan pertumbuhan Samsung sebagian besar dengan permintaan yang kuat untuk Galaxy S26 Ultra, yang didorong oleh layar privasi dan fitur AI.

Sementara itu, pertumbuhan Apple berasal dari apa yang digambarkan Omdia sebagai salah satu siklus pembaruan iPhone terkuat dalam sejarah perusahaan, yang berpusat pada seri iPhone 17 yang mempertahankan harganya daripada mengandalkan perangkat generasi lama untuk mendorong volume penjualan.

Baca Juga: Bagaimana Samsung dan Apple Dominasi Pasar Smartphone Di Tengah Krisis Memori Berkepanjangan

Premiumisasi Bukan Lagi Sekedar Trend

Sekedar diketahui, “premiumisasi” smartphone adalah tren pasar di mana produsen mengalihkan fokus dari penjualan perangkat kelas bawah dengan volume tinggi dan margin rendah ke model kelas atas dengan harga lebih tinggi.

Hal ini melibatkan pengintegrasian teknologi canggih (misalnya, prosesor AI, layar lipat), penggunaan material premium, dan pemanfaatan prestise merek untuk meningkatkan Harga Jual Rata-Rata (Average Selling Price/ASP).

Misalnya, produsen seperti Xiaomi dan OnePlus sengaja menjauh dari segmen margin rendah untuk meningkatkan profitabilitas dan posisi merek mereka.

Tren ini disorot dalam Analisis Pasar Premium Counterpoint Research, yang mencatat bahwa pangsa pasar segmen premium terus tumbuh karena konsumen semakin memprioritaskan kemampuan prosesor, kamera, dan kinerja jangka panjang.

Bagi konsumen banyak keuntungan yang didapat saat berganti ke perangkat premium. Salah satunya adalah siklus penggantian yang lebih panjang. Karena ponsel modern semakin tangguh, konsumen pun bisa memakainya selama 3 – 4 tahun.

Di sisi lain, merek-merek kini mengandalkan penjualan perangkat yang lebih mahal, tahan lama, dan kaya fitur untuk mempertahankan pendapatan.

Begitu pun dengan akses ke pembiayaan yang terbilang mudah. Dengan tumbuhnya permintaan, toko-toko fisik terutama modern store, maupun e-commerce kini berlomba-lomba menawarkan produk smartphone premium terbaru.

Rencana cicilan yang agresif, ketersediaan kredit, dan program pembelian kembali yang ditawarkan oleh toko-toko tersebut, terbukti menurunkan hambatan pembelian, membuat perangkat unggulan sangat mudah diakses oleh pasar massal.

Keuntungan lain adalah integrasi di dalam ekosistem. Tak dapat dipungkiri, ponsel premium sering berfungsi sebagai pintu gerbang ke ekosistem produk yang lebih luas, terintegrasi erat dengan perangkat lain, seperti jam tangan pintar, tablet, dan peralatan rumah pintar.

Hal itu semakin mendukung gaya hidup pengguna di era digital yang menawarkan beragam kemudahan, melalui perangkat yang digunakan sehari-hari.

Lonjakan Pasar Smartphone Premium di India dan Indonesia

Dengan kesadaran konsumen yang semakin tinggi, tak dapat dipungkiri, kebutuhan akan perangkat premium kini telah menjadi tren di banyak negara. Salah satu contoh negara yang paling cepat mengadopsi premiumisasi adalah India.

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar ponsel pintar terbesar kedua di dunia itu, sedang mengalami pergeseran premiumisasi besar-besaran.

Saat ini berdasarkan laporan Counterpoint, segmen premium (ponsel di atas ₹30.000) mencakup lebih dari 22% dari total pengiriman.

Didorong oleh meningkatnya pendapatan, kemudahan pembiayaan, dan keinginan akan fitur-fitur berbasis AI, konsumen di India rela melakukan upgrade ke model kelas atas, menyebabkan Harga Jual Rata-Rata (ASP) melonjak ke rekor tertinggi di atas $300.

Seperti halnya India, di Indonesia tren penggantian perangkat premium kini juga tengah happening.  Fenomena premiumisasi memang tengah mengubah lanskap pasar ponsel pintar.

Meskipun total pengiriman (volume) unit secara keseluruhan sempat terkontraksi atau turun karena lonjakan harga komponen global, nilai penjualan segmen ponsel mewah (flagship) justru meroket tajam.

Di sisi lain, ponsel kelas atas seperti lini iPhone dan Samsung S Series telah melampaui fungsi teknologi dan menjadi penanda kelas sosial atau simbol gaya hidup, yang mendorong pembelian impulsif di berbagai kalangan.

Pembeli saat ini tidak hanya melihat spesifikasi standar. Faktor kecanggihan AI, kualitas kamera, keamanan, dan dukungan pembaruan perangkat lunak jangka panjang juga menjadi prioritas utama yang umumnya hanya dapat dipenuhi oleh perangkat premium.

Dengan kesadaran konsumen yang semakin meningkat, banyak brand yang sebelumnya fokus pada pasar menengah ke bawah, kini mulai memprioritaskan segmen high-end.

Strategi itu tercermin dari manuver brand-brand China, seperti Oppo, Vivo, dan Xiaomi. Ketiga merek itu, selama lebih dari satu dekade menguasai pasar Indonesia. Dengan perubahan preferensi konsumen, dalam beberapa tahun terakhir, mereka mencoba peruntungan di segmen premium.

Meniru kiat Huawei yang telah memiliki citra merek yang kuat di segmen premium, ketiganya berusaha menaikkan citra merek, mengejar margin keuntungan yang lebih tinggi, sekaligus sebagai upaya menghadapi kejenuhan di pasar kelas menengah dan bawah.

Vivo misalnya, belum lama ini meluncurkan Vivo X300 Ultra. Ini adalah ponsel pintar unggulan ultra-premium yang dilengkapi sistem tiga kamera ZEISS canggih, prosesor Snapdragon yang bertenaga, dan baterai besar.

Smartphone ini menonjolkan keunggulan kamera utama 200MP, lensa telefoto 200MP kelas gimbal, dan kemampuan video professional setara kamera DSLR.

Tak mau kalah dengan Vivo, Oppo menawarkan Find X9 Series, masing-masing Find X9 Ultra, Find X9, dan Find X9 Pro. Perangkat kelas atas ini sangat berfokus pada pencitraan selular canggih dan performa kelas atas.

Di sisi lain, jajaran flagship premium terbaru dari Xiaomi adalah Xiaomi 17 Series, yang didukung oleh model-model high-end  seperti Xiaomi 17 Ultra dan Xiaomi 17.

Perangkat-perangkat unggulan Xiaomi itu, menghadirkan perangkat keras mutakhir, prosesor mobile kelas atas, dan kemampuan kamera yang canggih.

Baca Juga: TrendForce: Pasar Smartphone Global Turun 1,7 Persen

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU