Rudiantara Dorong Vendor Ponsel Lokal Bentuk Asosiasi

Semarang, Selular.ID – Serbuan ponsel asal Tiongkok benar-benar membuat peta pasar berubah drastis. Berkat agresifitas sejumlah pemain utama, seperti Oppo. Vivo, dan Xiaomi, pangsa pasar smartphone asal China di Indonesia terus melonjak siginifikan.

Lembaga riset terkemuka IDC, mengungkapkan pada 2015, vendor China baru menguasai 12%, namun meningkat menjadi 23% di tahun 2016, dan sudah mencapai 31% di kuartal pertama 2017.

Di sisi lain, penguasaan market share brand lokal terus menunjukkan penurunan. Pertengahan Juli 2017, IDC melaporkan bahwa ponsel merk dalam negeri hanya menguasai 17% pada kuartal pertama 2017. Angka itu turun dari 20% di kuartal sama 2016, dan 34% pada 2015.

Baca juga: Siapa Peduli Brand Smartphone Lokal

Melihat tren penurunan yang semakin tajam, Menkominfo Rudiantara menyarankan agar vendor-vendor lokal dapat bergabung dalam satu wadah atau asosiasi tersendiri.

Diharapkan dengan membentuk asosiasi, keberadaan ponsel lokal dapat menahan serbuan vendor global terutama brand-brand asal Tiongkok yang semakin deras menyerbu pasar Indonesia.

“Dengan membentuk asosiasi, vendor lokal dapat saling bertukar informasi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul. Keberadaan asosiasi sekaligus bisa untuk kepentingan bisnis yang lebih luas. Misalnya, meningkatkan daya tawar kepada pemasok. Hal ini dapat mempertahankan skala bisnis vendor-vendor lokal ketimbang bermain sendiri-sendiri”, ujar Rudiantara, di sela-sela kunjungan ke pabrik Advan di Semarang (28/5/2018).

Di sisi lain, tambah Rudiantara, keberadaan asosiasi yang khusus mewadahi vendor ponsel lokal, akan membuat pemerintah lebih mudah memetakan kebutuhan vendor ponsel lokal agar bisa terus bersaing dengan brand global. Misalnya, dalam bentuk kemudahan perizinan hingga insentif pajak.

Meski pangsa pasarnya terus melorot, brand lokal sesungguhnya tak surut bertarung di tengah gempuran vendor global. Saat ini Advan boleh dibilang menjadi raja ponsel lokal.

Brand yang memiliki pabrik di kawasan industri Candi, Semarang ini, mampu meningkatkan penjualan, ditengah menurunnya permintaan terhadap ponsel merk lokal lainnya.

IDC mengungkapkan, pangsa pasar Advan mencapai 7,7% pada Q1-2018. Dengan pangsa pasar sebesar itu, Advan mampu bertengger di posisi ketiga, di atas Asus dan Vivo. Posisi pertama dan kedua masih kuat ditempati oleh Samsung dan Oppo.

Baca juga: Top 5 Vendor Smartphone di Indonesia

Dengan pangsa pasar sebesar itu, bisa dibilang Advan menjadi raja ponsel lokal. Advan meninggalkan jauh rivalnya dengan perolehan market share 49%. Empat brand lainnya yang boleh dibilang masih bertaji adalah Evercoss, Andromax (Smartfren), dan Polytron.

Beberapa brand lain timbul tenggelam, seperti Mito, Axioo, Asiafone, HiCore, SPC Mobile, dan SpeedUp. Lainnya benar-benar tak lagi nongol alias khatam.

Padahal di era 2,5G, terutama pada kurun 2007 – 2011, brand ponsel lokal mampu merajai pasar Indonesia. Siapa tak kenal Nexian yang disebut-sebut sebagai ponsel sejuta umat asli Indonesia.

Popularitas Nexian bahkan mampu menyaingi Blackberry yang saat itu menjadi primadona. Sayangnya memasuki era smartphone, kiprah Nexian yang pernah menguasai 20% market share pada masa jayanya, ternyata harus terkubur dalam ketatnya persaingan.