Selular.ID – Amartha menegaskan bahwa perluasan akses layanan keuangan belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi akar rumput yang berkelanjutan.
Dalam diskusi panel bertajuk Infrastructure, Investment, Impact: Building Inclusive Financial Ecosystems pada rangkaian The 2026 Asia Grassroots Forum di Jakarta, 11 Juni 2026, perusahaan teknologi keuangan tersebut menyoroti pentingnya literasi keuangan, konektivitas digital, serta pendampingan sebagai fondasi ekosistem ekonomi yang inklusif.
Diskusi ini berlangsung di tengah meningkatnya tingkat inklusi keuangan nasional. Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), inklusi keuangan Indonesia telah mencapai sekitar 90 persen.
Namun, masih terdapat kesenjangan sekitar 25–30 persen dibanding tingkat literasi keuangan masyarakat.
Di sektor fintech, tantangannya bahkan lebih besar. Literasi keuangan tercatat baru mencapai 13 persen, sementara tingkat inklusinya berada di angka 36 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap produk dan layanan keuangan belum otomatis menghasilkan pemanfaatan yang optimal.
Tanpa pemahaman yang memadai, masyarakat berisiko menggunakan layanan keuangan tanpa kemampuan mengelola risiko dan merencanakan keuangan secara sehat.
Diskusi panel menghadirkan sejumlah tokoh lintas sektor, yakni Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, Komisaris Utama Amartha sekaligus Menteri Komunikasi dan Informatika RI periode 2014–2019 Rudiantara, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI periode 2020–2024 Sandiaga Uno, President Director Superbank Tigor M. Siahaan, serta Director and Chief Information Technology Officer PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk Yessie D. Yosetya.
Diskusi dimoderatori oleh Chairman AMVESINDO sekaligus perwakilan BNI Ventures, Eddi Danusaputro.
Para panelis sepakat bahwa pembangunan ekosistem keuangan inklusif harus melibatkan berbagai elemen secara bersamaan, mulai dari infrastruktur fisik dan digital, akses pembiayaan, pendidikan keuangan, hingga desain produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Veronica Tan menekankan pentingnya menempatkan perempuan sebagai aktor utama pembangunan ekonomi di tingkat akar rumput.
Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan keluarga dan menggerakkan komunitas lokal.
“Perempuan dan anak-anak termasuk kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim, krisis pangan, serta tekanan ekonomi keluarga. Karena itu, pemberdayaan perempuan perlu menjadi bagian dari agenda pembangunan yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu inisiatif Kementerian PPPA adalah program Kebun Pangan Perempuan yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pengelolaan lahan, penguatan komunitas, serta peningkatan kapasitas perempuan agar lebih berdaya secara ekonomi.
Dari perspektif kewirausahaan, Sandiaga Uno menilai pelaku usaha mikro memerlukan tiga aspek utama agar dapat berkembang, yakni akses pendidikan, akses pasar, dan akses pembiayaan yang tepat.
Menurutnya, akses pasar sering kali menjadi kebutuhan paling mendesak pada tahap awal usaha.
Pelaku UMKM perlu memastikan produknya dapat terserap pasar sebelum memperbesar pembiayaan.
Karena itu, edukasi keuangan menjadi faktor penting agar pelaku usaha tidak terjebak dalam skema pembiayaan yang tidak sehat.
Rudiantara menambahkan bahwa inklusi keuangan harus dibarengi dengan peningkatan literasi dan kesehatan finansial masyarakat.
“Inklusi keuangan saja tidak cukup. Masyarakat perlu memahami cara mengelola keuangan secara bijak, bukan sekadar memiliki akses terhadap produk keuangan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan literasi perlu disesuaikan dengan karakteristik masyarakat yang dilayani.
Untuk wilayah pedesaan, pendampingan langsung masih menjadi metode efektif dalam membentuk perilaku keuangan yang sehat.
Rudiantara juga mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen mitra Amartha berada di luar Pulau Jawa.
Untuk mendukung mereka, perusahaan mengandalkan lebih dari 9.000 tenaga lapangan yang memberikan edukasi dan pendampingan secara langsung.
Sementara itu, President Director Superbank Tigor M. Siahaan menyoroti pentingnya menghadirkan produk digital yang sederhana dan mudah digunakan.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang memerlukan bantuan agen untuk melakukan transaksi dasar seperti transfer dana.
Hal tersebut menunjukkan bahwa inovasi digital harus mempertimbangkan kemampuan dan kebiasaan pengguna.
Tigor mencontohkan fitur Celengan yang dikembangkan Amartha untuk membantu masyarakat membangun kebiasaan menabung secara rutin mulai dari nominal kecil.
Dari sisi infrastruktur digital, Yessie D. Yosetya menegaskan bahwa konektivitas merupakan prasyarat utama agar layanan digital dapat dimanfaatkan secara optimal.
Ia menyebut masih terdapat sejumlah wilayah, khususnya daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yang belum menikmati akses internet memadai.
Oleh karena itu, pembangunan jaringan telekomunikasi menjadi faktor penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan digital, termasuk layanan keuangan.
Yessie menjelaskan bahwa penggunaan internet umumnya berkembang dalam tiga tahap, yaitu untuk hiburan, peningkatan pengetahuan, dan produktivitas.
Tantangannya adalah mendorong masyarakat agar memanfaatkan internet tidak hanya sebagai sarana konsumsi konten, tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan kapasitas diri dan produktivitas ekonomi.
Diskusi dalam The 2026 Asia Grassroots Forum memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi inklusif memerlukan pendekatan yang terintegrasi.
Pembiayaan, literasi, konektivitas, teknologi, dan pendampingan perlu berjalan beriringan agar masyarakat akar rumput tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Amartha Dorong Kesehatan Finansial UMKM Lewat Asia Grassroots Forum



