Di Balik Mega Investasi US$800 Juta, Zankore By Indosat Dorong Indonesia Jadi Pusat AI Regional Asia Pasifik

BACA JUGA

Selular.ID – Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) telah meluncurkan Zankore by Indosat, sebuah usaha baru yang bertujuan membangun pabrik AI berkapasitas 1 gigawatt dan platform neocloud untuk mendorong ambisi Indonesia menjadi pusat AI regional di Asia-Pasifik.

Ooredoo Group yang berbasis di Qatar, perusahaan induk IOH, telah menginvestasikan US$800 juta untuk mendukung peluncuran dan pengembangan awal platform tersebut. Ooredoo Group memegang kepemilikan saham sebesar 49% dalam usaha baru ini.

Mitra lain dari Zankore adalah Nokia dan Nvidia. Nokia akan menyediakan infrastruktur jaringan AI, sementara Nvidia akan menyediakan perangkat keras dan perangkat lunak GPU.

Usaha baru ini telah membentuk dewan direksi sendiri, yang terdiri dari perwakilan pemegang saham utama, untuk memberikan kepemimpinan independen, pengawasan strategis, dan tata kelola.

Zankore by Indosat menargetkan penerapan awal kapasitas AI sebesar 200 megawatt pada paruh pertama 2027, dengan rencana untuk meningkatkan kapasitas hingga 1 GW setelah rampung sepenuhnya.

“Saat perusahaan beralih dari tahap eksperimen AI ke penerapan yang bersifat krusial bagi operasional (mission-critical), mereka membutuhkan lebih dari sekadar daya komputasi; mereka membutuhkan ekosistem AI yang terintegrasi,” ujar Presiden Direktur dan CEO IOH, Vikram Sinha.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Baca Juga: Indosat, Ooredoo, Nokia, dan Nvidia Bangun Infrastruktur AI Regional Zankore

“Dengan menghadirkan rangkaian teknologi AI yang lengkap—mulai dari model seperti Sahabat-AI hingga kapabilitas jaringan cerdas termasuk AI Grid dan AI-RAN—Zankore by Indosat menyediakan fondasi tepercaya untuk mempercepat adopsi AI dalam skala besar,” tambahnya.

Indonesia Sebagai Batu Loncatan

Melalui investasinya di Zankore, Ooredoo Group mendapatkan akses ke salah satu pasar infrastruktur digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Mengutip data industri, perusahaan mencatat bahwa permintaan kapasitas pusat data di Asia Tenggara diperkirakan akan tumbuh sekitar 3,5 kali lipat pada 2030.

Pertumbuhan itu terutama didorong oleh beban kerja AI, sehingga menciptakan permintaan jangka panjang yang berkelanjutan terhadap infrastruktur komputasi AI.

“Selama beberapa tahun terakhir, kami telah secara sistematis membangun salah satu portofolio infrastruktur digital terkemuka di kawasan MENA”, ujar CEO Ooredoo Group, Aziz Aluthman Fakhroo.

Melalui Zankore, imbuh Aziz Aluthman, pihaknya mengambil langkah logis berikutnya dengan menambahkan kemampuan komputasi AI ke dalam portofolio tersebut.

“Langkah itu memperluas jangkauan kami ke pasar Asia Tenggara yang tumbuh pesat—salah satu peluang infrastruktur AI paling dinamis saat ini,” pungkas Aziz.

“Kami meyakini bahwa AI akan menjadi penentu penciptaan nilai di pasar negara berkembang selama satu dekade mendatang. Peran kami adalah berinvestasi bersama mitra yang tepat dalam platform berskala besar yang mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham, sembari mendukung ambisi digital di pasar tempat kami beroperasi,” tambahnya.

Ia menyoroti bahwa Indonesia menawarkan titik masuk yang menarik berkat skala pasarnya yang besar, ekonomi digital yang tumbuh pesat, serta aspek ekonomi infrastruktur yang kompetitif. Namun, Zankore nantinya juga akan berekspansi ke pasar-pasar lain.

Usaha baru ini diproyeksikan akan menghasilkan pendapatan sekitar US$13 miliar dan akumulasi EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) sebesar US$9 miliar dalam kurun waktu lima tahun. Kontribusi EBITDA proporsional bagi Ooredoo Group diperkirakan mencapai sekitar US$600 juta.

Baca Juga: Saat Indosat, Softbank, dan Grab Mulai Panen Pendapatan Dari Investasi AI

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU