Selular.ID – Sebagian Anda mungkin pernah mengingat wajah Hengky Setiawan yang terpampang di badan banyak bus yang lalu lalang di Jakarta, sekitar satu dekade lalu. Dengan senyum yang khas, pria berkumis tipis ini berpose bak selebriti papan atas.
Ia tak kelihatan canggung bergaya sambil memamerkan ponsel Tiphone. Ponsel yang diproduksi PT Tiphone Mobile Indonesia, perusahaan miliknya.
Bukan hanya di badan bus, iklan senada yang menampilkan wajah Hengky lengkap dengan ponsel Tiphone ditangannya, juga terpampang di sejumlah billboard yang terletak di kawasan strategis.
Salah satunya di jalur tol keluar Bandara Sukarno Hatta. Membuat setiap orang yang akan menuju pusat kota, dengan jelas melihat wajah Hengky, termasuk mitra-mitra bisnisnya dari luar negeri yang kebanyakan berasal dari China.
Langkah Hengky yang menjadi brand ambassador Tiphone, bisa digolongkan sebagai ‘Out of Box’. Pasalnya, amat jarang seorang chairman mau turun gunung, bahkan menjadi bintang iklan sendiri produk yang dibuat perusahaannya.
Banyak yang terkaget-kaget, dengan gaya Hengky itu. Ada yang bilang ke-pedean. Tapi tentu saja banyak orang menyatakan salut karena tak mudah untuk seketika menjadi terkenal.
Sebagian lainnya menilai personal branding itu terbilang berani. Mengingat iklim bisnis di Indonesia tak mudah ditebak. Kondisi ini tak jarang menempatkan pebisnis dalam subyek tertentu, misalnya menyangkut perpajakan.
Terlepas dari pro dan kontra, keputusan untuk menjadi bintang iklan Tiphone, sejatinya berawal dari sikap pragmatisme Hengky.
Pada awalnya, ia berniat menjadikan pasangan artis yang tengah naik daun saat itu, Anang dan Krisdayanti, sebagai model iklan Tiphone.
Namun saat mendengar harga yang ditetapkan selangit, sementara budget yang tersedia terbatas, Hengky langsung berubah pikiran. Karena merasa tak ada pilihan lain, jadilah ia sendiri yang muncul memamerkan ponsel Tiphone.
‘Out of Box’ memang ciri khas yang sudah melekat dari seorang Hengky Setiawan. Si Jangkung, julukan yang disematkan oleh oleh rekan-rekannya memang terkenal dengan terobosan yang inovatif. Hebatnya, semua itu dilakukan secara learning by doing.
Untuk diketahui, Telesindo didirikan oleh Hengky Setiawan pada 1992 di Jakarta. Perusahaan ini bermula dari bisnis jual-beli ponsel bekas dan toko kecil, lalu berkembang menjadi salah satu jejaring distributor pulsa, kartu perdana, dan salah satu ritel ponsel terbesar di Indonesia lewat bendera Telesindo Shop.
Di bawah kepemimpinan Hengky Setiawan yang dijuluki sebagai “Raja Voucher”, Telesindo Shop yang resmi berbadan hukum pada 2001, berekspansi secara agresif dalam distribusi produk prabayar dan retailer ponsel dengan membangun banyak gerai di berbagai kota di Indonesia.
Di masa jayanya sebagai dealer nasional yang mengageni pemasaran voucher pulsa isi ulang produk operator seperti Telkomsel, Telkom Flexi dan Excelcomindo Pratama (XL), Telesindo berhasil mencatatkan omset fantastis, mencapai Rp 6,9 triliun lebih per tahun.
Membangun TiPhone dan Membawa Telesindo Melantai di Bursa
Namun bukan Hengky jika tidak ingin menjajal hal baru. Sebagai pebisnis yang memiliki nyali besar, Hengky tak ingin hanya menjadi distributor voucher pra bayar. Ia juga tak ingin hanya sekedar memasarkan merek-merek ponsel global, seperti Nokia, Samsung, LG, dan lainnya.
Rupanya keberhasilan Nexian di pasar Indonesia membuat Hengky tergiur. Seperti diketahui, di era berkembangnya teknologi 3G, Nexian sangat sukses di Indonesia pada 2008 hingga 2010.
Pada masa itu, merek ponsel lokal ini mampu merajai pasar karena mengusung beragam fitur yang tengah tren seperti dual SIM dan TV analog.
Desain Nexian juga bergaya BlackBerry yang saat itu tengah berjaya. Dengan keypad QWERTY ala BlackBerry, ponsel-ponsel besutan Nexian selalu diminati masyarakat Indonesia.
Tergiur keberhasilan yang diraih Nexian, pada 2008 Hengky membentuk PT TiPhone Mobile Indonesia (TMI). Lewat bendera TMI, Hengky memperkenalkan perangkat ponsel dengan merek Tiphone ke pasar domestik.
Seperti halnya Nexian dan merek-merek lokal lain yang saat itu tumbuh bak cendawan di musim hujan, Tiphone membidik segmen low end yang harganya terjangkau.
Tak hanya ponsel, pada pada 2010, Hengky juga masuk ke bisnis service ponsel dan content provider, dengan mendirikan PT Setia Utama Service dan PT Media Aplikasi.
Ekspansi terus berlanjut. Pada 2011, seluruh perusahaan yang dimiliki Hengky dikonsolidasikan ke dalam satu holding company, yaitu PT TiPhone Mobile Indonesia, untuk kemudian dibawa ke lantai bursa alias IPO pada 2012, dengan kode TELE.
Sepanjang 2011, TELE yang belakangan berganti nama menjadi PT Omni Inovasi Indonesia Tbk, sudah memiliki 500 toko, seratusan service center, 6.000 karyawan, dan ratusan ribu reseller aktif di seluruh Indonesia.
Telesindo yang merupakan mitra utama Telkomsel juga berhasil memenangkan penghargaan sebagai ritel selular nomor satu selama lima kali berturut-turut sejak 2006.
Kinerja TELE Menurun Drastis
Di luar bisnis voucher dan retailer ponsel yang selama ini sudah membesarkannya, Hengky juga masuk ke bisnis lain, seperti sektor properti, otomotif, dan teknologi digital.
Namun ambisi besar dan langkah ekspansi yang terlalu cepat, membuat Hengky tak mampu mengelola kerajaan bisnisnya dengan baik.
Tiphone misalnya, seiring dengan derasnya merek-merek China membanjiri pasar ponsel Indonesia, tak mampu bersaing karena keterbatasan fitur dan teknologi.
Merek yang pernah cukup popular itu, pada akhirnya lenyap. Tiphone mengikuti jejak Nexian dan merek-merek ponsel lokal yang keteteran menghadapi persaingan dengan merek-merek asal China.
Belakangan, tumpukan persoalan keuangan mulai membelit yang berdampak pada kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Laporan keuangan terakhir menunjukkan TELE mencatat penurunan tajam pendapatan sepanjang paruh pertama 2025.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dilaporkan perusahan, emiten yang dulu dikenal dengan bisnis distribusi telekomunikasi ini membukukan pendapatan sebesar Rp295 miliar. Jumlah itu anjlok tajam dibandingkan periode yang sama 2024 yang mencapai Rp1,46 triliun.
Penurunan pendapatan membuat laba kotor TELE anjlok menjadi hanya Rp1,1 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan Rp10,9 miliar pada semester I-2024.
Setelah memperhitungkan beban administrasi dan biaya keuangan, perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp27,3 miliar, meningkat dari rugi Rp18,9 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset per 30 Juni 2025 tercatat Rp93,75 miliar, sedikit turun dari Rp97,53 miliar pada akhir 2024. Aset lancar naik tipis menjadi Rp60,7 miliar, sementara aset tetap turun dari Rp35 miliar menjadi Rp28,3 miliar.
Namun, posisi liabilitas masih jauh lebih besar dibandingkan aset. Total liabilitas mencapai Rp4,83 triliun, sebagian besar berasal dari utang bank sebesar Rp3,18 triliun dan utang obligasi Rp866 miliar.
Kondisi ini membuat TELE masih mencatat defisiensi modal sebesar Rp4,74 triliun, naik dari Rp4,71 triliun dibandingkan akhir 2024.
Dari sisi arus kas, kegiatan operasi TELE menghasilkan arus kas negatif Rp4,17 miliar. Namun, perusahaan memperoleh tambahan dana dari penjualan aset tetap senilai Rp3,18 miliar.
Secara historis, kinerja TELE mulai tertekan sejak 2019, ketika perseroan mulai mencatatkan rugi bersih berturut-turut setelah sebelumnya konsisten membukukan laba sejak pencatatan saham perdana pada 2013.
TELE Akhirya Dinyatakan Bangkrut
Dengan kinerja yang terus menurun, sementara beban utang semakin berat dan tak mampu dilunasi oleh perusahaan, pada 9 Oktober 2025, TELE akhirnya resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
Keputusan ini terjadi karena perusahaan gagal memenuhi perjanjian perdamaian restrukturisasi utang senilai Rp3,2 triliun yang bermula sejak 2020.
Alhasil, sejumlah lini bisnis utama seperti PT Telesindo Shop dan PT Simpatindo Multi Media yang selama ini menjadi penopang pendapatan, ikut terseret dalam keputusan pailit yang dialami oleh induk usaha tersebut.
Dampaknya, ribuan investor ritel dan pemegang saham rugi besar karena aset perusahaan harus diprioritaskan untuk melunasi utang kepada kreditur konkuren serta perbankan terlebih dahulu.
Salah satu investor yang terdampak adalah PT Telkom. Lewat anak usaha PT PINS Indonesia, Telkom menguasai 1.754.641.247 saham TELE atau setara dengan 24% dari total saham perusahaan. Kendati demikian, dampak finansial ini dinilai kecil dan tidak mengganggu bisnis inti Telkom.
Terjerat Dugaan Investasi Bodong
Seperti sudah jatuh ditimpa tangga, barangkali itulah nasib yang dialami oleh Hengky Setiawan. Di tengah keputusan pailit terhadap TELE, citra mewah dan elegan yang selama ini melekat pada Hengky semakin tercoreng.
Siapa sangka crazy rich pemilik Telesindo group itu, terseret kasus hukum. Puluhan korban melaporkan dugaan penipuan berkedok investasi kepada pihak berwajib.
Kasus yang kini ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal (Direskrim) Polda Metro Jaya itu, bermula ketika PT Upaya Cipta Sejahtera (PT UCS) sahamnya dimiliki oleh Hengky Setiawan dan adiknya Welly Setiawan memiliki aset berupa saham PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk sebesar 37 persen atau setara 2,7 miliar lembar.
Namun pada 2018 saham 2,7 miliar lembar digadaikan oleh PT UCS ke bank Sinar Mas. Diketahui, dalam perusahaan ini, Hengky Setiawan menjabat sebagai Direktur Utama dan Welly Setiawan menjabat sebagai komisaris.
Kemudian, pada 2019-2020, PT UCS menerbitkan bilyet investasi dengan menjadikan Rp1 miliar saham PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk sebagai dasar jaminan
Kegiatan ini bahkan tidak memiliki izin dari OJK. Padahal saham yang dijadikan dasar jaminan sudah digadaikan sebelumnya. Sementara itu jumlah nasabah yang terdata lebih dari 300 orang dengan total kerugian mencapai sekitar Rp3,2 miliar.
Terlepas dari hasil penyelidikan pihak berwajib terhadap Hengky Setiawan, bangkrutnya TELE yang pernah begitu berjaya di industri retail ponsel domestik, memberikan pelajaran penting. Terutama dari sisi pengelolaan keuangan perusahaan.
Faktanya, selain kepemimpinan dan manajemen yang buruk, faktor utama yang sering menjadi alasan gulung tikarnya perusahaan adalah utang dalam jumlah besar yang sulit terbayar.
Seperti yang terjadi pada TELE, terlilit utang dengan bunga tinggi dapat membuat perusahaan kesulitan mencapai laba yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut.
Kondisi ini menjadi semakin berat ketika pembayaran bunga yang besar terus menyedot arus kas perusahaan. Akhirnya, perusahaan kesulitan menjalankan operasional dan mencapai target bisnis.
Bagi Hengky Setiawan, jalan panjang yang ditempuh dalam membangun Telesindo kini usai sudah. Dari pebisnis idaman yang mampu meraih sukses di usia muda, namanya memudar seiring dengan runtuhnya TELE dan persoalan hukum yang menyeretnya.
Baca Juga: Pasar Smartphone 2026: Kelangkaan Memori Mempercepat Premiumisasi



