Selular.ID – Bumi kehilangan sekitar 12,5 triliun ton es dari Greenland dan Antarktika sejak 1979, memperlihatkan dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Pencairan tersebut telah menyumbang kenaikan permukaan laut global sekitar 3,1 sentimeter, di luar kontribusi faktor iklim lainnya.
Besarnya es yang hilang setara dengan lapisan es setebal sekitar 1,5 meter jika digunakan untuk menutupi seluruh daratan Amerika Serikat.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Data.
Studi menunjukkan kehilangan lapisan es di dua wilayah kutub utama Bumi mengalami percepatan seiring meningkatnya suhu global.
Bukan Udara Panas, Laut Jadi Pemicu Utama
Menariknya, sekitar lima per enam kehilangan es bukan terjadi akibat udara yang semakin panas.
Penyebab terbesarnya justru air laut yang lebih hangat. Air tersebut mengikis lapisan es dari bawah sekaligus mempercepat aliran gletser menuju laut.
Ilmuwan es University of California, Irvine sekaligus salah satu penulis penelitian, Eric Rignot, memperingatkan dampaknya akan dirasakan wilayah pesisir di berbagai negara.
Baca juga:
- Indonesia dan Singapura Bersaing Jadi Pusat Pertumbuhan Mobile Banking di Asia Tenggara
- Apple Perpanjang Lisensi Paten Qualcomm, Tetap Bayar Royalti
“Kita sedang mencairkan wilayah kutub, permukaan laut meningkat di seluruh dunia dan akan memperburuk kerentanan wilayah pesisir,” kata Rignot, dikutip dari Phys.org, Sabtu (26/9/2026).
Jumlah es yang hilang tersebut menghasilkan hampir 3 kuadriliun galon air atau sekitar 11,3 kuadriliun liter.
Setiap 1 Cm Bisa Ancam Jutaan Orang
Dampak kenaikan permukaan laut menjadi perhatian karena perubahan beberapa sentimeter saja dapat memengaruhi jutaan penduduk.
Penulis utama penelitian sekaligus ilmuwan es Northumbria University, Ines Otosaka, menyebut setiap kenaikan permukaan laut 1 sentimeter berpotensi membuat sekitar 2-3 juta orang mengalami banjir setidaknya sekali dalam setahun.
Perubahan dramatis juga terlihat pada gletser. Jakobshavn di Greenland, misalnya, kini disebut mengalami kemunduran hingga sekitar 50 meter per hari.
Penelitian internasional yang dipimpin European Space Agency tersebut menggunakan 45 survei independen dan data dari 27 satelit.
Penggabungan data satelit NASA juga memungkinkan ilmuwan memperpanjang rekam pengamatan perubahan volume lapisan es Antarktika hingga 1979 dan Greenland hingga 1972.
Pencairan Es Makin Ngebut Sejak 2010
Data memperlihatkan lapisan es relatif stabil sepanjang 1970-an, 1980-an hingga awal 1990-an. Kehilangan massa kemudian meningkat dan mengalami percepatan terutama sejak 2010.
“Ada tren yang jelas bahwa lapisan es kehilangan lebih banyak massa dan peningkatannya terjadi dari dekade ke dekade, terutama jika melihat es yang mengalir ke laut,” ujar Otosaka.
Kehilangan es memang sempat melambat pada periode 2020-2023. Namun peneliti menilai kondisi tersebut dipengaruhi perubahan cuaca jangka pendek dan bukan pertanda berakhirnya tren pencairan.
Pengukuran setelah periode tersebut menunjukkan percepatan kehilangan es kembali berlanjut.
Di Antarktika, peningkatan salju di Antarktika Timur masih membantu mengimbangi pencairan lebih cepat yang terjadi di Lapisan Es Antarktika Barat.
Dampaknya Bisa Berlangsung Puluhan Tahun
Hal yang semakin mengkhawatirkan, lapisan es tidak serta-merta berhenti mengalami perubahan apabila pemanasan global berhasil dihentikan.
Peneliti memperkirakan terdapat jeda beberapa dekade antara perubahan iklim dan respons lapisan es.
Artinya, konsekuensi pemanasan yang terjadi sekarang berpotensi terus dirasakan dalam jangka panjang.
Para ilmuwan juga menyoroti sebagian besar kehilangan es berasal dari proses dinamis, bukan sekadar pencairan permukaan akibat temperatur udara.
Ilmuwan es New York University David Holland menilai dominasi proses tersebut patut menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan ketidakstabilan lapisan es.
Dengan data puluhan satelit dan survei independen, penelitian ini memberikan gambaran semakin kuat bahwa pencairan es Greenland dan Antarktika bukan fenomena sementara.
Jika tren terus berlanjut, kenaikan permukaan laut akan semakin meningkatkan ancaman banjir bagi kota dan masyarakat pesisir dunia selama beberapa dekade mendatang.


