Selular.ID – Lebih dari tiga dekade lalu sebelum berkembangnya ponsel pintar dan tren berbelanja secara online, siapa yang tak mengenal Global Teleshop.
Di masa jayanya, khususnya di era 2G hingga 3G, Global Teleshop adalah tempat yang sangat direkomendasikan bagi setiap orang untuk membeli gadget baru, baik ponsel, laptop atau tablet, juga aksesoris lain yang menunjang penampilan.
Sebagai salah satu pelopor jaringan toko ponsel modern pertama di Indonesia, Global Teleshop diuntungkan dengan melesatnya Nokia.
Kedekatan Global Teleshop dengan Nokia karena kehadiran Citra Multi Usaha Perkasa (CMUP). CMUP adalah pemilik Global Teleshop, yang merupakan salah satu distributor brand ponsel ternama asal Finlandia itu.
Bahu membahu dengan tiga distributor lainnya (Trikomsel Oke, Parastar Echorindo, dan Erajaya Swasembada), Global Teleshop di bawah naungan CMUP, berhasil menghantarkan Nokia sebagai penguasa pasar ponsel Indonesia.
Kesuksesan Nokia terbilang fenomenal, karena mampu melibas para pesaingnya, seperti Ericsson, Siemens, dan Samsung.
Begitu kuatnya dominasi Nokia di Indonesia, hingga mampu mempertahankan posisi puncak sepanjang lebih dari satu dekade (1999 – 2011). Membentang dari era 2G, 3G, hingga menjelang 4G.
Pada masa jayanya, Nokia bahkan menggenggam 60% pangsa pasar ponsel di Tanah Air. Rekor yang pastinya sulit dilewati oleh vendor lainnya, mengingat ketatnya kompetisi antar merek ponsel saat ini.
Harus diakui Global Teleshop bukan sekedar pionir, namun juga fenomena dalam industri retail ponsel modern.
Bayangkan, dari hanya 11 outlet pada tahun pertama didirikan (1997), jumlahnya terus bertambah setiap tahunnya.
Puncaknya pada akhir 2014, jaringan global Teleshop sudah menyebar ke lebih dari 40 kota dengan total gerai mencapai 352 toko.
Tak pelak, di tengah ketatnya kompetisi dengan pemain sejenis dan juga toko-toko tradisional, jumlah gerai sebanyak itu menjadikan Global Teleshop sebagai retailer ponsel modern terbesar di Tanah Air.
Six Star Services: Resep Sukses Global Teleshop
Jaminan asli bergaransi yang diusung Global Teleshop sejak pertama kali didirikan, membuat persepsi toko ini menancap kuat di benak konsumen hingga kini.
Padahal harga yang dibandrol Global Teleshop tidak lebih murah. Harga yang sedikit lebih mahal dibandingkan toko-toko lainnya, tak membuat konsumen berpindah karena kepercayaan konsumen, terutama karena jaminan purna jual tersebut.
Padahal saat itu, umumnya pedagang di berbagai pusat perbelanjaan, seperti ITC Roxy Mas yang merupakan pusat belanja ponsel terbesar di Asia Tenggara, kerap menjadikan harga murah sebagai strategi utama dalam mendatangkan pelanggan.
Jaminan produk asli bergaransi yang ditawarkan Global Teleshop adalah salah satu dari Layanan Enam Bintang (Six Star Services). Lima lainnya adalah lokasi strategis, banyak pilihan produk, harga bersaing, langsung aktif, dan pelayanan profesional.
Melalui Six Star Services yang begitu terkenal dan menjadi ciri khasnya, Global Teleshop sukses menciptakan ceruk pasar sendiri (blue ocean) yang sulit ditiru oleh para pesaingnya.
Dijual Ke Trikomsel Senilai Rp 910,11 Miliar
Namun tak ada yang abadi di dunia bisnis. Di puncak kesuksesannya, Hermes Thamrin pemilik Global Teleshop mengambil langkah drastis.
Pada 13 Juli 2012, industri selular nasional dikejutkan dengan penjualan 800 juta saham Global Teleshop senilai Rp 910,11 miliar kepada pesaingnya, Trikomsel.
Dengan tuntasnya proses akuisisi, Trikomsel yang dipimpin oleh Sugiono Wiyono, langsung menjadi pemegang saham mayoritas di Global Teleshop dengan kepemilikan 72%.
Penjualan Global Teleshop ke Trikomsel tentu membawa harapan agar kinerja Global Teleshop semakin apik di tangan pemilik baru yang nota bene merupakan pemain yang sudah ‘bulukan’ di bisnis retail ponsel.
Apalagi hampir berbarengan dengan proses akuisisi itu, Trikomsel sukses menghantarkan Global Teleshop melantai ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Sesuatu yang sudah diidamkan sejak lama oleh Hermes Thamrin.
Langkah IPO juga sejalan dengan rencana pengembangan dan perluasan bisnis perseroan serta membangun reputasi yang semakin kuat sebagai retailer ponsel nomor satu di mata publik.
Saat penawaran umum saham perdana atawa IPO (Initial Public Offering) pada Jumat (29/6/2012), jumlah saham yang dilempar Global Teleshop ke publik sebanyak 111,1 juta lembar atau setara 10% modal disetor.
Global Teleshop mematok Rp 1.150 per lembar. Sehingga total dana yang dapat diraup perseroan sebesar Rp 127,8 miliar.
Dari Perusahaan Sehat Menjadi Perusahaan yang Terus Merugi
Sukses melantai di bursa, membuat kinerja Global Teleshop ikut terkerek. Tengok saja 1,5 tahun pasca IPO, persisnya di akhir 2014, Global Teleshop mampu meraup pendapatan sebesar Rp 4,04 triliun, meningkat dibandingkan 2013 sebesar Rp 3,89 triliun.
Namun kinclongnya pencapaian Global Teleshop hanya pada periode itu. Mulai 2015 dan seterusnya, kinerja malah berbanding terbalik. Dari perusahaan yang selalu mencetak keuntungan menjadi perusahaan yang terus-terusan merugi.
Berdasarkan keterbukaan informasi dari BEI, per September 2015, Global Teleshop merugi hingga Rp 62,11 miliar.
Padahal periode yang sama tahun sebelumnya (September 2014), perusahaan masih meraih laba Rp 99,76 miliar.
Rugi yang diderita Global Teleshop karena pendapatan neto menurun hingga 30,8% menjadi Rp 2,17 triliun.
Kerugian yang dialami Global Teleshop salah satunya merupakan imbas dari melorotnya kinerja induk perusahaan, yaitu PT Trikomsel Oke Tbk.
Baca Juga: Bagaimana Habibie Menjadi Sosok Kunci di Balik Meraksasanya Telkomsel di Indonesia
Diketahui, Trikomsel tidak mampu membayar bunga dua seri obligasi yang jatuh tempo pada November 2015 dan Desember 2015.
Trikomsel juga menunda kewajiban pembayaran utang (PKPU) hingga 60 hari sejak diperpanjang pengadilan pada 18 April 2016.
Tak tanggung-tanggung, total nilai tagihan yang harus dibayarkan oleh Trikomsel mencapai lebih dari Rp 6 triliun.
Selain dampak dari persoalan keuangan Trikomsel, manajemen Global Teleshop menilai, turunnya kinerja perseroan tak lepas dari buruknya kondisi perekonomian sepanjang 2015.
Melemahnya rupiah terhadap Dollar AS yang hampir menyentuh Rp 15.000, mengakibatkan daya beli masyarakat melesu dan sehingga berdampak pada anjloknya penjualan ponsel.
Di sisi lain, kerasnya kompetisi terutama dengan para pemain e-commerce yang berani mematok harga lebih murah, semakin menambah tekanan terhadap kinerja Global Teleshop.
Demi mengurangi kerugian, manajemen Global Teleshop mengambil langkah drastis, yakni mengurangi jumlah toko yang dioperasikan.
Per September 2015 emiten dengan kode saham GLOB itu hanya memiliki 116 toko. Padahal dalam periode yang sama 2014, Global Teleshop masih mengoperasikan 352 toko.
Meski sudah melakukan berbagai upaya restrukturisasi dan memangkas jumlah outlet, namun Global Teleshop belum mampu mengubah bandul kerugian menjadi keuntungan.
Tercatat, pendapatan Global Teleshop turun 64% pada kuartal pertama 2019 menjadi Rp 57,92 miliar dari Rp 160,96 miliar kuartal I-2018.
Imbasnya pada akhir Maret 2019, Global Teleshop masih merugi Rp 6,45 miliar. Sebelumnya, pada 2016 dan 2017, Global Teleshop menelan kerugian masing-masing sebesar Rp 118,14 miliar dan Rp 14,67 miliar.
Di luar persoalan makro ekonomi dan ketatnya persaingan dengan pemain-pemain lain, terutama e-commerce yang mulai marak, anjloknya kinerja Global Teleshop tak lepas dari hilangnya hak sebagai authorized dealer (AD) penjualan voucher nasional yang telah diputus oleh Telkomsel.
Pada Juni 2015, operator selular terbesar di Indonesia itu memutuskan untuk tak lagi memperpanjang kerjasama. Pasalnya manajemen Global Teleshop tidak mampu memenuhi jadwal pembayaran secara tepat waktu untuk lima cluster sesuai kontrak yang telah disepakati.
Hilangnya hak sebagai AD yang diperoleh sejak 2001 dari Telkomsel, menambah penderitaan bagi Global Teleshop.
Sebab bisnis voucher isi ulang sesungguhnya menjadi penyumbang terbesar pendapatan perusahaan ketimbang bisnis menjual ponsel, gadget atau aksesoris yang rentan dengan gejolak kurs, persaingan dengan pemain lain dan perubahan selera konsumen.
Tak heran pasca tak lagi menjadi AD Telkomsel, kinerja Global Teleshop semakin anjlok. Tercatat per September 2015, pendapatan dari bisnis voucher turun tajam hingga 17% menjadi Rp 1,47 triliun.
Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya masih mencapai Rp 1,78 triliun.
Ganti Nama dan Mendadak Jualan Kopi
Di tengah kondisi keuangan yang masih morat-marit, pada 30 Juni 2021 PT Global Teleshop Tbk (GLOB) berganti nama menjadi PT Globe Kita Terang Tbk.
Tidak dijelaskan secara spesifik alasan pergantian nama perusahaan yang memutuskan menghilangkan ‘Teleshop’ dari nama perusahaan. Pergantian nama itu dilakukan di tengah kondisi perusahaan yang belum pulih karena timbunan kerugian.
Merujuk pada laporan keuangan kuartal I-2021, akumulasi penghasilan dari penjualan telepon selular, kartu perdana dan voucher isi ulang serta penjualan aksesoris tidak mencapai setengah dari total penjualan perusahaan.
Sepanjang periode itu, Global Teleshop hanya mampu memperoleh pendapatan sebesar Rp 8,84 miliar, turun 43% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 15,51 miliar.
Uniknya, penghasilan terbesar perusahaan bukanlah dari penjualan ponsel yang selama ini menjadi core business perusahaan.
Melainkan dari penjualan mesin dan peralatan kopi yang mencapai 57% dari total pendapatan perusahaan atau sebesar Rp 5 miliar.
Sedangkan penjualan ponsel hanya sebesar Rp 3,24 miliar, disusul oleh penjualan kartu perdana Rp 456,44 juta.
Perusahaan juga menjual bijih kopi dengan total pemasukan dari bisnis ini mencapai Rp 124,47 juta, lebih besar dari pendapatan dari penjualan aksesoris yang hanya sebesar Rp 10,86 juta.
Meski demikian, pergeseran penjualan ini belum mampu menjadikan perusahaan mencetak laba. Sepanjang periode 3 bulan 2021, perusahaan masih tercatat rugi bersih sebesar Rp 828,21 juta dari semula mengalami laba bersih Rp 888,64 juta pada kuartal yang sama 2020.
Sebelumnya sepanjang 2020, Global Teleshop mencetak rugi hingga Rp 50,61 miliar. Secara keseluruhan, alih-alih membaik, kinerja perusahaan malah semakin memprihatinkan.
Aset perusahaan memang mengalami kenaikan, akan tetapi nilai tersebut tercatat hanya senilai Rp 12,04 miliar. Jumlahnya sangat minim jika dibandingkan dengan liabilitas perusahaan yang mencapai Rp 806,77 miliar.
Parahnya, lebih dari setengah dari liabilitas tersebut merupakan kewajiban jangka pendek sebesar Rp 426,66 miliar.
Besarnya liabilitas menyebabkan perusahaan mengalami defisiensi modal dengan ekuitas tercatat negatif di angka Rp 794,73 miliar.
Nyawa Global Teleshop Menghitung Hari
Tak dapat dipungkiri, penurunan kinerja PT Global Teleshop Tbk (GLOB) disebabkan oleh ketidakmampuan perusahaan mengelola perubahan pola belanja konsumen di era digital, persaingan ketat dengan pemain lain khususnya e-commerce, dan lepasnya status kemitraan penting.
Hal ini memicu penurunan pendapatan drastis serta kerugian finansial yang berkelanjutan. Padahal biaya sewa toko fisik dan gaji karyawan tetap berjalan saat penjualan turun.
Di sisi lain, kondisi ketidakpastian ekonomi membuat pasar produk elektronik dan ponsel melambat. Menambah beban yang ditanggung perusahaan, karena pendapatan anjlok drastis.
Alhasil, menurun drastisnya kinerja Global Teleshop berdampak langsung pada jumlah toko yang dioperasikan.
Saat ini di era digital, jumlah toko fisik tidak lagi menjadi satu-satunya penentu utama industri ritel modern karena pertumbuhan belanja online yang pesat.
Kendati demikian, gerai offline tetap memegang peran penting sebagai pusat pengalaman dan titik distribusi. Khusus toko ponsel, memberi kesempatan bagi pembeli untuk lihat dan mencoba langsung perangkat sebelum memutuskan untuk membeli.
Meski demikian tidak ada data resmi atau angka pasti mengenai sisa gerai fisik Global Teleshop yang masih beroperasi saat ini.
Namun dalam penelusuran Selular, salah satu gerai fisik Global Teleshop yang masih beroperasi adalah di Mal Kasablanka, Jakarta Selatan.
Memang sejak beberapa tahun terakhir, sebagian besar gerai ritel fisik dari perusahaan di bawah grup Trikomsel Oke ini telah tutup.
Seiring merosotnya kinerja keuangan dan pergeseran tren belanja masyarakat ke platform digital yang membuatnya kalah bersaing.
Dengan jumlah gerai yang bisa dihitung dengan jari, Global Teleshop kini bukan lagi raksasa jaringan toko ponsel modern seperti masa jayanya dulu, saat masih di bawah PT CMUP.
Siapa yang menyangka, nasib Global Teleshop kini nyaris berubah 360 derajat. Imbas kerugian yang membebani perusahaan terus menerus, masa depan Global Teleshop dipertanyakan.
Investor tentu berfikir seribu kali untuk masuk, karena harus menyetorkan dana yang tak sedikit, di tengah ketidakpastian pasar.
Di sisi lain pesaing terberat, yaitu Erafone yang sudah memiliki lebih dari seribu outlet di seluruh Indonesia, sudah menjadi top of mind di industri retail ponsel saat ini.
Siapa sangka, dari predikat raja retail ponsel yang pernah disandangnya khususnya di era feature phone, nama Global Teleshop semakin tenggelam di tengah hiruk pikuk kompetisi pasar ponsel yang sudah bertransformasi di era internet cepat.
Seperti iklan Isuzu Panther yang pernah popular di awal 1990-an lalu, kiprah Global Teleshop kini “Nyaris tak Terdengar”.
Nama besarnya yang dulu menggentarkan para pesaing, kini seperti dongeng masa lalu.
Kelompok Gen-Z yang kini mendominasi populasi Indonesia, bahkan mungkin tidak mengenal bahwa sekitar dua hingga tiga dekade lalu, Global Teleshop adalah raja retailer ponsel di Indonesia, bukan Erafone.
Baca Juga: Kisah Hengky Setiawan: Jalan Suram Raja Voucher dan Pendiri Telesindo Group


