Tuesday, August 20, 2019
Home Headline Tak Lagi Jadi Mitra AD Telkomsel, Bikin Kinerja Global Teleshop Anjlok

Tak Lagi Jadi Mitra AD Telkomsel, Bikin Kinerja Global Teleshop Anjlok

-

Global-TeleshopfotoJakarta, Selular.ID – Tak dapat dipungkiri, 2015 bisa jadi merupakan tahun terburuk bagi Global Teleshop. Tengok saja, sepanjang kuartal ketiga 2015, retailer ponsel papan atas itu menanggung kerugian yang tak sedikit. Dikutip dari keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan yang diraih Global Teleshop pada periode tersebut hanya sebesar Rp 2,165 triliun. Jauh melorot dibandingkan periode sama 2014 yang masih meraup Rp 3,130 triliun.

Dengan longsornya pendapatan, alhasil Global Teleshop mengalami rugi usaha sebesar Rp 19,109 miliar sepanjang kuartal ketiga 2015 berbanding terbalik dibanding pada periode yang sama tahun sebelumnya Rp 168,681 miliar. Dus, rugi usaha membuat Global Teleshop menelan rugi bersih sebesar Rp 62,109 miliar. Padahal pada periode yang sama 2014 masih mampu meraup untung Rp 99,758 miliar.

Anjloknya kinerja anak usaha PT Trikomsel Oke Tbk itu, memang tak lepas dari buruknya kondisi perekonomian sepanjang 2015. Melemahnya rupiah terhadap Dollar AS yang hampir menyentuh Rp 15.000, mengakibatkan daya beli masyarakat melesu dan berdampak pada turunnya penjualan ponsel. Tak tanggung-tanggung, tercatat penjualan ponsel di Global Teleshop anjlok 47,6% menjadi Rp 684 miliar per akhir September 2015 dibanding periode yang sama 2014 yang masih meraup Rp 1,3 triliun.

Di sisi lain, kerasnya kompetisi terutama dengan para pemain e-commerce yang berani mematok harga lebih murah, semakin menambah tekanan terhadap kinerja Global Teleshop. Pada akhirnya, manajemen Global Teleshop mengambil langkah drastis, yakni mengurangi jumlah toko yang dioperasikan. Per September 2015 emiten dengan kode saham GLOB itu hanya memiliki 116 toko. Padahal September 2014 masih mengoperasikan 352 toko.

Dalam keterangan resmi yang diterima Selular.ID (12/2/2016), manajemen Trikomsel membantah bahwa penutupan banyak gerai Global Teleshop adalah langkah untuk mengoperasikan single brand, yakni Oke Shop.

Menurut Agustinus Hendra Gunawan, Head of Marketing Communication PT Trikomsel Oke Tbk, perseroan menutup sebagian toko demi menekan lonjakan biaya. “Keputusan untuk menutup sebagian outlet ritel yang dimiliki oleh Trikomsel Group  semata-mata untuk pertimbangan bisnis terkait dengan situasi pasar saat ini,” katanya.

Meski demikian, pihaknya tetap optimis dengan bisnis ponsel, dan berniat untuk terus melakukan ekspansi. Pada 2016 ini direncanakan pembukaan tujuh lokasi baru di beberapa kota besar di Indonesia.

Bukan Lagi AD Telkomsel

Di luar persoalan makro ekonomi dan ketatnya persaingan dengan pemain-pemain e-commerce, anjloknya kinerja Global Teleshop tak lepas dari hilangnya hak sebagai authorized dealer (AD) penjualan voucher nasional yang telah diputus oleh Telkomsel. Penelusuran Selular.ID menunjukkan, operator terbesar di Indonesia itu tak lagi memperpanjang kerjasama pada Juni 2015. Pasalnya manajemen Global Teleshop tidak mampu memenuhi jadwal pembayaran secara tepat waktu untuk lima cluster sesuai kontrak yang telah disepakati.

Tentu saja keputusan yang diambil Telkomsel tidak serta merta. Sesuai dengan prosedur, manajemen Telkomsel terlebih dahulu memberikan teguran dan peringatan. Dari peringatan pertama hingga peringatan ketiga. Namun hingga keluarnya surat peringatan ketiga yang merupakan peringatan terakhir, manajemen Global Teleshop tetap tak mampu memenuhi seluruh kewajiban sesuai tenggat yang telah ditetapkan oleh Telkomsel, sehingga otomatis hak sebagai AD diputus.

Hilangnya hak sebagai AD yang diperoleh sejak 2001, merupakan pukulan telak bagi manajemen Global Teleshop. Karena bisnis voucher isi ulang sesungguhnya menjadi penyumbang terbesar pendapatan Global Teleshop ketimbang bisnis menjual ponsel, gadget atau aksesoris yang rentan dengan gejolak kurs, persaingan dengan pemain lain dan perubahan selera konsumen.

Tak heran pasca tak lagi menjadi AD Telkomsel, pendapatan Global Teleshop semakin anjlok. Tercatat hingga September 2015, pendapatan dari bisnis voucher turun 17% menjadi Rp 1,47 triliun dari sebelumnya Rp 1,78 triliun.

Latest