Selular.ID – Direkut Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Dian Siswarini menyebut lini bisnis mobile atau seluler dirasa sudah mentok atau mencapai batas.
Dia juga menjelaskan penetrasi layanan mobile di Indonesia sudah sangat tinggi dan merata.
“Saat ini hanya ada tiga operator seluler di Indonesia dan masing-masing punya market share lebih dari 20%,” ujarnya.
“Persaingan menurut saya juga sehat karena tidak lagi ke perang harga tetapi ke pelayanan yang maksimal ke para pelanggan,” sambungnya.
Bisnis mobile atau seluler milik Telkom sendiri saat ini dikendalikan oleh anak usahanya yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).
Pada tahun 2025 lalu, Telkomsel menyumbang pendapatan Rp109,2 triliun secara konsolidasian, di mana pendapatan konsolidasi Telkom yang tercatat sebesar Rp146,7 triliun.
Jumlah pendapatan Telkom ini tentu disumbangoleh Telkomsel lebih dari 60%. Meski demikian jumlah pendapatan Telkomsel ini terus menurun dari tahun ke tahun.
Hal tersebut yang membuat Dian mengatakan bisnis mobile atau seluler sudah mentok dan mencapai batasnya.
Meski demikian, Telkomsel masih memiliki bisnis andalan yang bisa meraup untung yakni bisnis fixed broadband.
“Jika mobile sudah mentok, fixed broadband melalui IndiHome masih luas lahannya karena baru sekitar 20% area yang sudah tergarap,” sebutnya.
Meski pendapatan bisnis mobile turun, akan tetapi Average Revenue Per User (ARPU) juga bergerak ke arah pemulihan positif yang menunjukkan kondisi pasar yang lebih stabil mulai dari paruh kedua 2025 dan diperkirakan secara bertahap akan terus meningkat, sejalan dengan kompetisi industri yang lebih sehat.
Sehingga di tahun 2026, Telkomsel akan terus fokus menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan memastikan keunggulan kualitas jaringan guna menekan angka perpindahan pelanggan.
Genjot B2B
Selain itu, unit bisnis Telkom yang bergerak di bidang business-to-business didorong untuk mengejar pendapatan dari perusahaan di luar grup Telkom.
Berdasarkan data yang dipaparkan kepada media, Telkom kini membagi kategori bisnis perusahaan ke dalam 5 bidang usaha yaitu business-to-consumer (Telkomsel), B2B Infra (Infranexia, Mitratel, NeutraDC, Telkomsat), B2B ICT (Telkomsigma, EBIS), internasional (Telin), dan bisnis lainnya (Telkommetra, Finnet).
Sepanjang 2025, kelompok bisnis B2B Infra adalah kontributor kedua terbesar Telkom Group dengan pendapatan senilai Rp 56,6 triliun, setelah Telkomsel yang membukukan pendapatan Rp 109,2 triliun.
Namun, mayoritas pendapatan B2B Infra berasal dari pendapatan non-eksternal yaitu Rp 47,7 triliun dibanding pendapatan dari luar grup Telkom yang hanya Rp 8,9 triliun.
Hanya pendapatan eksternal yang kemudian bisa dikonsolidasikan sebagai pendapatan TLKM sepanjang 2025.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan pendapatan eksternal dari bisnis B2B Infra merupakan peluang besar bagi Telkom untuk memacu pertumbuhan saat laju pertumbuhan pendapatan dari Telkomsel tidak secepat dulu.
Dia menjelaskan penetrasi layanan mobile di Indonesia sudah sangat tinggi dan merata. Potensi pertumbuhan pengguna yang tinggi masih ada di segmen fixed broadband atau internet kabel lewat bisnis Indihome.
Namun di segmen ini, kompetisi yang ketat membuat pendapatan per pengguna justru turun sehingga lajut pertumbuhan pendapatan terbatas.
“Spin-off Infranexia memang tujuannya untuk menghasilkan revenue baru. Jadi ini yang kita dorong,” katanya, Rabu (20/5/2026).
Baca juga:
- Telkom Akan Hapus 10 Anak Usaha Akhir Juni
- 31 Tahun Melayani Indonesia, Telkomsel Perkuat Peran sebagai Digital Ecosystem Enabler
Per Desember 2025, Telkom telah menyelesaikan spin-off aset dan bisnis fiber optik perusahaan ke anak usaha yang diberi nama Infranexia.
Seluruh proses pengalihan aset dan bisnis ke Infranexia ditargetkan selesai pada Q3 2026.
Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba mengungkapkan bahwa dampak dari spin-off terhadap pertumbuhan pendapatan Infranexia dari luar grup Telkom udah tampak pada awal 2026.
Sebelum spin-off, jelasnya, kontribusi pendapatan eksternal terhadap pendapatan Telkom dari bisnis fiber optik hanya 15 persen.
Pada Januari 2025 setelah spin-off, pertumbuhan bisnis eksternal Infranexia sudah tumbuh di atas 15 persen.
“Kita mau dorong (kontribusi eksternal) 25 persen, begitu kita spin-off tahap satu. Efektif pada Januari itu, kita langsung push agar banyak ke pasar eksternal,” kata Budi.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan bahwa salah satu target utama dari strategi TLKM30 adalah meningkatkan kontribusi bisnis B2B Telkom.
“Sekarang itu proporsi revenue 70 persen B2C. Ini yang ingin kita ubah. Pada 2030, target kita 55-45 atau minimal 60-40,” kata Seno.
Telkom melaporkan pendapatan Rp 146,74 triliun selama periode 2025 dengan laba bersih Rp 17,8 triliun.




