Selular.ID – Google mulai membawa ambisi kecerdasan buatan (AI) keluar dari Bumi.
Raksasa teknologi tersebut mengirimkan empat chip AI Tensor Processing Unit (TPU) ke orbit untuk menguji kemungkinan membangun pusat data di luar angkasa.
Empat TPU tersebut dibawa menggunakan satelit prototipe yang dikembangkan Google bersama Planet Labs. Satelit diluncurkan menggunakan roket SpaceX dari California pada Kamis waktu setempat.
Eksperimen yang menjadi bagian dari Project Suncatcher tersebut akan berlangsung sekitar satu tahun.
Google ingin mengetahui apakah chip AI miliknya mampu bertahan menghadapi kondisi ekstrem di luar angkasa sebelum perusahaan melangkah menuju pembangunan data center orbital.
Visinya tidak kecil. Google membayangkan ribuan satelit bertenaga Matahari yang saling terhubung untuk menjalankan komputasi AI dalam skala besar.
10.000 Satelit untuk Satu Data Center AI
Dalam skenario yang diproyeksikan Google, satelit nantinya ditempatkan pada sun-synchronous orbit agar mendapatkan paparan sinar Matahari secara lebih konsisten.
Energi Matahari kemudian digunakan untuk memasok daya bagi TPU yang menjalankan komputasi AI.
Senior Director of Paradigms of Intelligence Google Travis Beals mengatakan potensi energi di luar angkasa menjadi salah satu alasan utama perusahaan mengeksplorasi konsep tersebut.
“Matahari adalah sumber energi terbesar di tata surya kita, jauh lebih besar dibandingkan sumber lainnya,” ujar Beals.
Panel surya di orbit diperkirakan dapat menghasilkan energi hingga delapan kali lebih besar dibandingkan panel serupa di Bumi karena tidak menghadapi hambatan atmosfer, cuaca maupun siklus siang dan malam seperti di daratan.
Namun, skala infrastruktur yang diperlukan sangat besar.
Beals memperkirakan pembangunan satu pusat data dengan kapasitas 1 gigawatt membutuhkan sekitar 10.000 satelit.
Biayanya pun fantastis. Perhitungan saat ini memperkirakan pembangunan sekaligus peluncuran pusat data 1 gigawatt ke orbit dapat menghabiskan sekitar US$30 miliar atau Rp500 triliun.
Chip AI Dihantam 100 Kali Gravitasi Bumi
Biaya bukan satu-satunya persoalan. Google harus membuktikan TPU mampu bertahan dari lingkungan luar angkasa.
Ketika roket meluncur, chip AI dapat menerima gaya hingga 100 kali gravitasi Bumi yang berpotensi merusak komponen.
Sesampainya di orbit, ancaman lain menunggu berupa sinar kosmik dan aktivitas Matahari yang dapat mengganggu perangkat elektronik.
Masalah berikutnya adalah panas.
Chip AI menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika menjalankan komputasi. Sistem pendinginan yang lazim digunakan data center di Bumi tidak dapat begitu saja dibawa ke luar angkasa.
Pusat data orbital harus menggunakan radiator untuk membuang panas dengan mengubahnya menjadi radiasi inframerah dan memancarkannya ke ruang angkasa.
“Chip-chip ini juga bisa mengalami panas berlebih,” kata profesor teknik mesin University of St. Thomas John Abraham.
Skalanya bahkan dapat menjadi ekstrem. Satelit prototipe Google saat ini hanya berukuran kurang lebih sebesar kulkas.
Namun ketika satu satelit membawa puluhan TPU, kebutuhan sistem pendinginnya akan meningkat drastis. Radiator untuk generasi mendatang bahkan diperkirakan dapat memiliki ukuran setara pesawat Boeing 747.
Mengapa Data Center Harus Dibawa ke Antariksa?
Terlepas dari tantangannya, data center luar angkasa menawarkan sejumlah kemungkinan yang sulit diperoleh fasilitas konvensional.
Pusat data orbital tidak membutuhkan lahan seperti data center di Bumi dan berpotensi memperoleh pasokan energi Matahari dalam jumlah sangat besar.
Infrastruktur tersebut juga dapat digunakan untuk memproses citra satelit secara langsung di orbit sehingga data tidak harus selalu dikirim terlebih dahulu ke pusat data di daratan.
Pemerintah juga berpotensi menggunakannya untuk kebutuhan penyimpanan data tertentu.
Meski begitu, Global Leader Technology, Media and Telecommunications Boston Consulting Group Val Elbert memperkirakan secara ekonomi data center di Bumi masih lebih unggul.
“Persamaan biaya akan selalu menguntungkan pusat data yang berada di Bumi,” ujarnya.
Google mempunyai pandangan lebih optimistis. Beals memperkirakan perkembangan teknologi suatu hari dapat membuat biaya pembangunan data center luar angkasa mendekati fasilitas yang berada di Bumi, meski realisasinya masih membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Google Kembali Kirim TPU pada 2027
Untuk saat ini, Google belum berbicara mengenai pembangunan 10.000 satelit. Fokus pertama adalah memastikan empat TPU yang dikirim melalui Project Suncatcher dapat tetap bekerja.
Google membutuhkan beberapa pekan untuk mendapatkan gambaran awal apakah chip tersebut mengalami kerusakan setelah perjalanan menuju orbit.
“Kami ingin melihat apakah perilaku di luar angkasa sesuai dengan apa yang kami lihat di Bumi,” kata Beals.
Jika eksperimen berjalan sesuai rencana, Google akan meningkatkan skala pengujian.
Pada 2027, perusahaan berencana mengirim lebih banyak TPU menggunakan dua satelit yang saling terhubung.
Project Suncatcher memang masih jauh dari pembangunan data center senilai Rp500 triliun dengan ribuan satelit.
Namun, pengiriman empat TPU tersebut menjadi langkah awal Google untuk membuktikan bahwa masa depan infrastruktur AI mungkin tidak seluruhnya berada di permukaan Bumi.


