Selular.ID -

Dominasi Nvidia Mulai Goyah, Cerebras Tawarkan Arsitektur AI Baru

BACA JUGA

Selular.ID – Cerebras Systems mulai muncul sebagai pesaing serius NVIDIA di industri chip kecerdasan buatan (AI) global pada 2026. Perusahaan asal Sunnyvale, California itu menarik perhatian setelah melantai di Nasdaq pada 14 Mei 2026 dan mengklaim teknologi Wafer-Scale Engine (WSE) miliknya mampu menghadirkan inferensi AI hingga 15 kali lebih cepat dibanding GPU konvensional.

Perubahan dinamika pasar AI ini terjadi ketika kebutuhan komputasi untuk model generatif seperti chatbot, agen AI, dan layanan real-time meningkat tajam.

Selama beberapa tahun terakhir, Nvidia mendominasi pasar berkat GPU seri H100 dan Blackwell yang menjadi fondasi infrastruktur AI perusahaan teknologi besar.

Namun, munculnya pemain alternatif seperti Cerebras menunjukkan industri mulai mencari pendekatan baru untuk mengatasi keterbatasan efisiensi, latensi, dan konsumsi daya.

CEO Cerebras Systems, Andrew Feldman, bahkan menyebut anggapan bahwa AI identik dengan Nvidia mulai berubah.

Dalam forum World Economic Forum 2026 di Davos, Feldman mengatakan dominasi Nvidia kini menghadapi tantangan karena pasar AI mulai bergeser ke kebutuhan inferensi berkecepatan tinggi.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

“Cerebras Systems mengklaim platform inferensi AI miliknya mampu berjalan hingga 15 kali lebih cepat dibanding GPU tradisional. Perusahaan ini resmi IPO di Nasdaq pada 14 Mei 2026 dengan valuasi lebih dari US$100 miliar.”

Arsitektur Wafer-Scale Jadi Pembeda

Berbeda dengan Nvidia yang menghubungkan banyak GPU kecil dalam satu klaster, Cerebras menggunakan pendekatan wafer-scale processor, yaitu satu chip raksasa yang dibuat dari satu wafer silikon utuh. Teknologi ini disebut Wafer-Scale Engine 3 atau WSE-3.

Menurut dokumen resmi perusahaan, WSE-3 memiliki ukuran hingga 56 kali lebih besar dibanding GPU AI tradisional dan dirancang untuk mengurangi hambatan komunikasi antar-chip yang selama ini menjadi bottleneck pada sistem GPU konvensional.

Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk kebutuhan inferensi AI modern, terutama layanan yang membutuhkan respons cepat seperti voice AI, coding assistant, dan AI agent.

Dalam pengumuman resmi Januari 2026, OpenAI menyatakan akan menggunakan hingga 750 megawatt kapasitas komputasi Cerebras dalam beberapa tahun ke depan untuk mendukung layanan inferensi AI mereka.

Kesepakatan itu menjadi salah satu sinyal penting bahwa perusahaan AI besar mulai mendiversifikasi ketergantungan mereka dari ekosistem Nvidia.

Persaingan Bergeser dari Training ke Inference

Selama beberapa tahun terakhir, Nvidia mendominasi pasar karena GPU mereka unggul untuk training model AI skala besar.

Namun pada 2026, fokus industri mulai bergeser ke inferensi, yaitu proses menjalankan model AI yang sudah dilatih untuk melayani pengguna secara real-time.

Cerebras memosisikan diri kuat di area ini. Dalam laman resmi perusahaan pada Maret 2026, Cerebras menjelaskan bahwa arsitektur GPU tradisional dianggap kurang efisien untuk beban inferensi modern karena satu chip harus menangani beberapa proses sekaligus.

Perusahaan juga menyoroti konsep “disaggregated inference”, yaitu pemisahan proses AI agar lebih efisien dan hemat latensi.

Bahkan, Nvidia disebut mulai mengadopsi pendekatan serupa dalam strategi terbaru mereka untuk pasar AI inference.

Penelitian akademik terbaru juga mulai menunjukkan potensi arsitektur wafer-scale untuk komputasi AI dan high-performance computing (HPC).

Studi yang dipublikasikan di arXiv pada Mei 2026 menunjukkan Cerebras WSE-3 mampu mencapai percepatan hingga 342 kali dibanding implementasi GPU tertentu pada workload scientific computing tertentu.

Sementara penelitian lain menyebut performa WSE-3 dapat melampaui klaster 128 GPU Nvidia A100 dalam beberapa skenario komputasi stencil dan HPC.

Nvidia Masih Dominan, Tapi Pasar Mulai Terbuka

Meski begitu, Nvidia masih menjadi pemain terbesar di industri AI accelerator global. Ekosistem CUDA, jaringan mitra cloud, serta dominasi perangkat keras dan perangkat lunak masih menjadi kekuatan utama perusahaan tersebut.

Beberapa analis juga menilai Cerebras masih menghadapi tantangan besar, termasuk biaya produksi, efisiensi operasional, dan ketergantungan terhadap pelanggan tertentu.

Reuters mencatat sebagian besar pendapatan Cerebras sebelumnya berasal dari klien di Uni Emirat Arab sebelum perusahaan memperluas kerja sama dengan OpenAI dan penyedia cloud lain.

Penelitian lain dari arXiv juga menunjukkan accelerator alternatif seperti Cerebras memiliki konsumsi daya idle lebih tinggi dibanding GPU Nvidia dan AMD, sehingga efisiensinya sangat bergantung pada tingkat utilisasi sistem.

Meski demikian, kemunculan Cerebras memperlihatkan bahwa pasar AI accelerator mulai bergerak menuju model persaingan baru.

Industri tidak lagi hanya mengandalkan GPU general-purpose, tetapi mulai mempertimbangkan chip khusus yang dioptimalkan untuk inferensi AI skala besar dan latensi rendah.

Baca Juga: China Buka Lebar Pintu Bagi Apple hingga Nvidia, Perang Dagang Berakhir?

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU