Alasan ZTE Bangun BTS 4G di Wilayah Terluar Meski Banyak Tantangan

ZTE BTS 4G

Jakarta, Selular.ID – Vendor jaringan ZTE kembali dipercaya oleh BAKTI (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) Kominfo untuk membangun BTS 4G di wilayah 3T (terluar, terdepan, terpencil) di Indonesia.

Bersama dengan mitra konsorsium Infrastruktur Bisnis Sejahtera (IBS), ZTE akan merampungkan sebanyak sebanyak 1811 BTS di Papua hingga akhir tahun ini. Sisanya sekitar 1600-an BTS akan menyusul pada 2022.

Teranyar, BAKTI, IBS dan ZTE meresmikan menara BTS di Desa Sawyatami, Kabupaten Keerom, Papua. Pembangunan tiga menara BTS ini diharapkan dapat mempercepat penyediaan jaringan telekomunikasi 4G di wilayah 3T di provinsi paling timur Indonesia itu.

President Director ZTE Indonesia Richard Liang mengatakan, kerja sama dengan IBS dan BAKTI Kominfo sejalan dengan misi perusahaan dalam mempercepat pembangunan ekonomi digital.

“Meningkatkan akselerasi ekonomi digital di wilayah terluar,” ujar Richard, di sela-sela konferensi pers: ZTE, Infrastruktur Bisnis Indonesia (IBS), BAKTI dan Kominfo Resmikan BTS 4G di Papua, Selasa (7/12).

Richard mengakui bahwa  dalam pembangunan BTS 4G di wilayah terluar, seperti Papua, pihaknya menghadapi berbagai kendala, mulai dari kondisi geografis, sosial ekonomi masyarakat, hingga persoalan infrastruktur di wilayah setempat.

Namun dengan dukungan BAKTI dan IBS sebagai mitra konsorsium, pihaknya berkomitmen untuk menuntaskan proyek tersebut, demi mendorong kemandirian ekonomi masyarakat setempat.

Untuk mendukung proyek BAKTI BTS 4G ini, ZTE menyediakan infrastruktur komunikasi selular aktif, termasuk BTSMWIP RANSurveillance PlatformPower SystemNetwork Management System, dan beberapa sistem pendukung layanan di area Papua.

Produk dan solusi yang digunakan dalam proyek ini merupakan teknologi mutakhir, seperti BTS nirkabel yang berorientasi 5G, yang menawarkan fleksibilitas dan kelayakan untuk masa depan.

Richard berharap dengan pembangunan BTS 4G di Desa Sawyatami ini, akan lebih banyak daerah di Indonesia dapat menikmati sarana komunikasi digital di tengah percepatan adopsi teknologi saat ini.

“Kami juga berharap masyarakat di Papua akan segera merasakan jaringan 4G LTE dan dapat memanfaatkan konektivitas broadband secara maksimal,” pungkasnya.

Di tambahkan oleh Anang Latief, Direktur Utama BAKTI, pembangunan BTS 4G di wilayah 3T Papua 100 persen mengusung konsep green energy.

“Seluruh kapasitas listrik mengunakan teknologi  solar panel,  jadi sinar matahari akan ditampung dalam baterai yang mampu bertahan hingga 100 jam, seingga sangat penting diandalkan apabila terjadi bencana seperti di Gunung Semeru misalnya,” jelas Anang.

Menurut Anang, dengan dibangunnya ribuan BTS 4G di wilayah terluar seperti desa-desa di Papua, akan dapat mengatasi kesenjangan digital, yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan memicu kemandirian, baik bagi industri dan masyarakat di wilayah pelosok.

Apalagi pandemi yang bermula sejak awal 2020,  membuktikan bahwa kebutuhan infrastruktur telekomunikasi andal dan berkualitas sangatlah besar, tidak hanya penduduk perkotaan tapi juga di perbatasan dan daerah terpencil.