Selular.ID – Gelaran Piala Dunia 2026 pada Jumat (12/7) pekan lalu resmi digelar. Sebagai platform pemasaran terbesar, menjangkau lebih dari 200 negara, event olahraga menjadi magnet pemasaran yang sangat besar.
Piala Dunia menawarkan jangkauan global yang tak tertandingi, menghubungkan merek dengan miliaran pemirsa yang sangat terlibat di berbagai budaya.
Tanpa sekat-sekat yang membatasi, Piala Dunia menciptakan momen budaya bersama yang menginspirasi narasi emosional yang mendalam, memungkinkan perusahaan untuk secara signifikan meningkatkan kepercayaan merek dan niat pembelian.
Tak heran, seperti event-event sebelumnya, turnamen sepakbola empat tahunan yang kini digelar di AS, Kanada, dan Meksiko itu, juga dipenuhi dengan deretan mitra.
FIFA sendiri membagi sponsor ke dalam empat tingkatan. Peringkat pertama adalah FIFA Partners.
Ini adalah sponsor-sponsor kasta teratas. Mereka tidak hanya hadir untuk Piala Dunia, tetapi juga terlibat dalam semua kegiatan FIFA.
Sebagai mitra komersial tingkat tertinggi FIFA, mereka mendapatkan hak siar global di semua jenis kompetisi FIFA.
Deretan perusahaan di peringkat atas ini Adidas (mitra pakaian olahraga dan bola pertandingan), Coca-Cola (mitra resmi minuman), Hyundai–Kia (mitra resmi mobilitas), Visa (mitra resmi teknologi pembayaran), Qatar Airways (mitra resmi maskapai penerbangan), Aramco (mitra resmi energy), Lenovo/Motorola (mitra resmi teknologi).
Peringkat kedua adalah Sponsor Piala Dunia FIFA. Merek-merek ini memiliki hak yang terkait secara khusus dengan turnamen 2026, bukan seluruh portofolio kompetisi global FIFA.
Merek-merek itu adalah AB InBev – Budweiser, Michelob Ultra, Modelo, Stella Artois (sponsor bir resmi), Bank of America (sponsor perbankan), Frito-Lay – Lay’s (sponsor makanan ringan), Hisense (sponsor elektronik konsumen), McDonald’s (sponsor restoran cepat saji), Mengniu Dairy (sponsor susu), Unilever – Dove Men+Care, Axe, Lynx, Degree, Sure, Radox (sponsor perawatan pribadi), dan Verizon (sponsor telekomunikasi).
Tingkat ketiga adalah pendukung, pemasok dan mitra regional. Tingkat ini lebih luas dan sedikit kurang terlihat, tetapi tidak kalah penting.
Katagori ini mencakup merek-merek yang membantu penyelenggaraan turnamen, mulai dari logistik hingga perhotelan hingga layanan lokal.
Mereka adalah DoorDash (sponsor pengiriman sesuai permintaan), Marriott Bonvoy (pendukung hotel resmi di Amerika Utara), Rock-it Cargo (penyedia dan pemasok logistik), Valvoline (pendukung layanan otomotif), ADI Predictstreet (mitra data dan prediksi resmi), Fanatics (mitra ritel dan e-commerce), dan Boggi Milano (pemasok pakaian formal resmi untuk staf dan tenaga kerja FIFA).
Terakhir adalah Mitra regional/spesifik kategori. Sejumlah perusahaan yang masuk dalam kelompok ini adalah American Airlines (pemasok maskapai penerbangan resmi Amerika Utara), Airbnb (pendukung akomodasi resmi di Amerika Utara), Diageo (pendukung minuman beralkohol resmi di Amerika), The Home Depot (pendukung ritel perbaikan rumah resmi di Amerika Utara), dan Globant (pendukung layanan teknologi resmi).
Baca Juga: Telkomsel Bawa Tayangan Piala Dunia FIFA 2026 Lebih Terjangkau
Merek China Tak Lagi Dominan
Melihat deretan mitra dan sponsor dalam Piala Dunia 2026, ada yang berbeda dari gelaran sebelumnya. Terlihat merek-merek China kini tak lagi menonjol.
Tercatat, hanya ada dua merek China yang masih “cawe-cawe” pada Piala Dunia 2026, yaitu Hisense dan Mengniu Dairy.
Padahal pada Piala Dunia edisi sebelumnya yang digelar di Qatar (2022), terdapat empat perusahaan China. Keempatnya adalah Wanda Group, Vivo, Mengniu Dairy, dan Hisense.
Keterlibatan perusahaan-perusahaan China sebagai sponsor dalam gelaran Piala Dunia, memang terus menurun setelah mencapai puncaknya pada Piala Dunia 2018 yang digelar di Rusia.
Tercatat, saat itu sebanyak tujuh perusahaan China, yakni grup property Dalian Wanda, Hisense Electronics, China Mengniu Dairy, Yadea Technology Group, Vivo Mobile Communication Technology, Zhidian Yijing Virtual Reality Technology, dan Immerex turut mensponsori Piala Dunia 2018.
Dukungan perusahaan-perusahaan itu, sejatinya tak lepas dari berbagai kontroversi yang menyertai gelaran Piala Dunia 2018.
Dipicu oleh berbagai isu kontroversial, seperti aneksasi Rusia terhadap Crimea dari Ukraina, dan skandal korupsi yang menjerat sejumlah pejabat FIFA yang pada 2015, sejumlah merek global menyatakan mundur, seperti Castrol dan Johnson & Johnson.
Mundurnya merek-merek terkemuka itu, membuat FIFA kelimpungan. Untungnya, saat itu merek-merek China tengah berusaha mendunia.
Jadilah Piala Dunia menjadi ajang untuk meningkatkan reputasi merek, sejalan dengan upaya merek-merek China menginvasi pasar global.
Tak pelak barisan merek asal China yang umumnya masih kurang dikenal itu, bisa dibilang menjadi penyelamat FIFA.
Pasalnya, federasi sepak bola dunia itu diketahui belum menandatangani sponsor dari merek-merek barat yang baru sejak 2011, sehingga berkontribusi terhadap krisis pendapatan.
Menurut riset grup media Zenith, dari total nilai belanja iklan sebesar US$ 2,4 miliar pada Piala Dunia 2018, sepertiganya merupakan kontribusi dari brand-brand asal China.
Secara terperinci, Zenith menyebutkan perusahaan asal China menghabiskan US$ 835 juta (Rp 11,6 triliun). Angka itu adalah dua kali lipat dibandingkan sponsor perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang hanya US$ 400 juta (Rp 5,5 triliun).
Pergeseran Strategi Vivo
Dengan hanya menyisakan Hisense dan Mengniu Dairy, seperti halnya Wanda Group, Vivo kini memilih absen pada Piala Dunia 2026. Posisi Vivo digantikan oleh sesama perusahaan China, Lenovo.
Padahal produsen perangkat cerdas yang berbasis di Shenzhen itu, sebelumnya merupakan mitra FIFA sebagai mitra perusahaan teknologi dalam dua gelaran Piala Dunia sebelumnya, 2018 dan 2022.
Perubahan strategi tersebut tak lepas dari upaya terbaru yang kini yang ditempuh Vivo.
Di tengah industri smartphone global yang tengah didera keterbatasan chip/memori, saat ini vendor-vendor lebih memilih melakukan konsolidasi agar tetap survive.
Keterbatasan dan lonjakan harga memori global memaksa vendor untuk memangkas produksi perangkat murah (entry-level) dan memprioritaskan ponsel kelas menengah hingga flagship.
Mereka juga terpaksa mengalihkan produksi ke solusi memori yang lebih efisien atau membebankan kenaikan biaya bahan kepada konsumen.
Alhasil, sejak beberapa tahun terakhir, Vivo telah mengurangi keterlibatannya dalam asosiasi sepak bola global.
Perusahaan lebih memusatkan sumber daya pada penguatan kehadirannya di pasar domestik dan pasar-pasar utama di sejumlah negara Asia.
Di India misalnya, Vivo memprioritaskan kriket (seperti bermitra dengan Liga Utama India) di mana pengembalian investasi untuk kriket secara historis lebih tinggi daripada sepak bola.
Langkah Vivo bermitra dengan Liga Utama India, diyakini memberikan visibilitas merek yang lebih organik dan langsung di pasar pertumbuhan utamanya.
Untuk diketahui, Vivo merupakan vendor smartphone nomor satu di India, mengalahkan dua pesaing terberatnya, Samsung dan Xiaomi.
Di tengah ketatnya kompetisi, Vivo memperkuat posisinya sebagai pemimpin pasar dengan market share tahunan berkisar antara 18,3% hingga 23% di berbagai laporan industri pada 2025.
Kinerja merek yang kuat ini didorong oleh jaringan distribusi offline yang solid, model seri Y yang sukses, dan peningkatan daya tarik di kategori smartphone kelas menengah yang berfokus pada kekuatan kamera.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan laporan perusahaan riset Omdia, Vivo merupakan vendor smartphone dengan pangsa pasar sebanyak 15% pada 2025.
Penguasaan pasar itu, menempatkan Vivo sebagai brand smartphone nomor lima di Indonesia, setelah Xiaomi (19%), Transsion (18%), Samsung (17%), dan Oppo (16%).
Baca Juga: Sejumlah Teknologi Generasi Baru di Piala Dunia 2026, AI Jadi Primadona



