Selular.ID -

Stella Christie Soroti Data Indonesia, Jangan Hanya Jadi Bahan Bakar AI

BACA JUGA

Selular.id – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengingatkan Indonesia agar tidak menyerahkan data nasional begitu saja dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, data merupakan salah satu aset strategis Indonesia yang dapat menjadi posisi tawar untuk memperoleh teknologi AI dari negara lain.

Stella menyampaikan pandangan tersebut dalam sejumlah forum mengenai AI sepanjang 2026. Ia menilai Indonesia memang masih menghadapi keterbatasan dalam penguasaan algoritma dan daya komputasi, dua komponen penting dalam membangun AI. Namun, Indonesia memiliki keunggulan lain yang tidak kalah penting, yakni ketersediaan data dalam jumlah besar.

Pandangan itu sejalan dengan materi yang disampaikan Stella mengenai pentingnya kedaulatan data. Data yang berasal dari aktivitas masyarakat, mulai dari pencarian informasi, percakapan, transaksi hingga berbagai aktivitas digital, bukan sekadar jejak elektronik. Ketika digunakan untuk melatih algoritma AI, data tersebut memiliki nilai ekonomi dan strategis.

Data Menjadi Modal Indonesia di Era AI

Stella menjelaskan bahwa pengembangan AI bertumpu pada tiga komponen utama, yaitu data, algoritma, dan daya komputasi. Indonesia belum memiliki posisi yang sama kuat dalam penguasaan algoritma canggih maupun processing power. Sebaliknya, kekayaan data menjadi salah satu modal yang bisa dimanfaatkan untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Dalam forum Innovation, Data, and Economy (IDE) Katadata Future Forum 2026 pada April lalu, Stella menyebut Indonesia memiliki data dalam jumlah yang sangat besar. Jika data tersebut dikelola, dirapikan, dan diamankan dengan baik, data dapat menjadi posisi tawar untuk memperoleh algoritma serta kekuatan pemrosesan dari pihak luar.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Posisi ini membuat pengelolaan data tidak lagi sebatas urusan administrasi digital. Data dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan teknologi nasional.

Materi Stella juga menggunakan analogi yang dekat dengan kebijakan hilirisasi. Jika Indonesia berusaha memastikan nilai tambah komoditas seperti nikel tidak seluruhnya dinikmati di luar negeri, prinsip serupa dapat diterapkan terhadap data. Bedanya, data tidak diambil dari tambang, melainkan dihasilkan terus-menerus dari aktivitas masyarakat.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya teknologi AI apa yang digunakan masyarakat Indonesia. Lebih jauh, siapa yang memperoleh manfaat dari data yang digunakan untuk membangun teknologi tersebut.

Bukan Berarti Indonesia Harus Menutup Diri

Stella tidak menempatkan kedaulatan data sebagai alasan untuk menghentikan kerja sama dengan perusahaan atau negara lain. Kolaborasi global tetap dibutuhkan, terutama karena Indonesia masih perlu memperkuat pengetahuan, investasi, infrastruktur, dan talenta AI.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebelumnya menyebut tiga area tersebut sebagai bagian penting untuk mengejar kesenjangan pemanfaatan AI. Pemerintah juga mendorong keterlibatan sektor swasta dalam investasi riset dan pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk pusat data.

Dalam konteks tersebut, kerja sama idealnya tidak berhenti pada pemanfaatan teknologi jadi. Indonesia juga perlu mendapatkan manfaat dalam bentuk pengembangan talenta, riset, produk, serta kekayaan intelektual. Prinsip tersebut turut tercermin dalam materi Stella yang menekankan bahwa Indonesia tidak seharusnya hanya menjadi pengguna sekaligus penyumbang data.

Langkah itu penting karena kekayaan data Indonesia tidak hanya berasal dari jumlah penduduk yang besar. Indonesia juga memiliki karakter bahasa, budaya, perilaku konsumen, kondisi geografis, serta persoalan lokal yang beragam. Seluruh karakteristik tersebut dapat menjadi sumber data untuk membangun AI yang relevan dengan kebutuhan nasional.

Kementerian Komunikasi dan Digital juga menyoroti nilai ekonomi data Indonesia. Pada Maret 2026, pemerintah menyatakan data dan konten digital masyarakat Indonesia telah menjadi fondasi penting bagi pengembangan AI global. Pemerintah menilai hak dan nilai ekonomi dari data tersebut perlu dilindungi agar tidak seluruhnya mengalir kepada pihak lain.

Kedaulatan Data Berhubungan dengan Keamanan

Persoalan kedaulatan data juga berkaitan erat dengan keamanan. Stella sebelumnya mengingatkan bahwa masih terdapat data sensitif yang disimpan pada layanan asing tanpa perlindungan memadai. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko keamanan siber sekaligus mengurangi kendali Indonesia atas data strategis.

BPKP pada 2025 juga mengutip pandangan Stella mengenai tantangan tata kelola data nasional. Ia menyoroti banyaknya aplikasi dan pusat data yang tersebar di berbagai kementerian dan pemerintah daerah, sementara sistem data nasional masih menghadapi persoalan integrasi dan keamanan.

Di sisi lain, pemerintah mulai mendorong penguatan ekosistem AI nasional. Salah satu arah yang dibahas adalah pengembangan model bahasa besar atau Large Language Model (LLM) berbahasa Indonesia. Kementerian Luar Negeri menyebut agenda tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan digital melalui pengembangan teknologi yang memahami bahasa dan konteks Indonesia.

Indonesia juga memiliki alasan untuk memanfaatkan kekayaan datanya sendiri. Pada Juli 2026, Stella kembali menegaskan bahwa data merupakan salah satu dari tiga komponen utama AI. Ia menyebut data sebagai modal penting Indonesia untuk bersaing dalam ekosistem AI global.

Pada akhirnya, tantangan Indonesia bukan sekadar memiliki data dalam jumlah besar. Data harus dikelola agar aman, berkualitas, terintegrasi, dan memiliki nilai tambah bagi masyarakat.

Kerja sama dengan pemain teknologi global tetap terbuka, tetapi posisi Indonesia akan berbeda jika data yang dimiliki mampu menjadi aset strategis dalam negosiasi. Pemerintah juga perlu memastikan manfaat ekonomi dan pengetahuan dari pemanfaatan data tidak berhenti di luar negeri.

Bagi Indonesia, era AI menghadirkan peluang yang cukup unik. Negara ini mungkin belum menjadi pemilik algoritma paling canggih atau memiliki daya komputasi terbesar, tetapi memiliki sumber data yang sangat kaya. Persoalannya kini adalah bagaimana kekayaan tersebut dikelola agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi AI, melainkan ikut memiliki nilai dan kemampuan yang lahir dari ekonomi AI itu sendiri.

Baca juga: Samsung Health Minta Persetujuan Menggunakan Data AI Pengguna, Sinkronisasi Terancam Jika Ditolak

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU