Jakarta, Selular.ID – Sesuai dengan prediksi, pengiriman smartphone di seluruh dunia mengalami penurunan pada kuartal ketiga 2018.

Kajian dari perusahaan riset Canalys mengungkapkan, dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya, tercatat pengiriman smartphone turun sebesar 7 persen.

Itu berarti sepanjang empat kuartal terakhir, industri smartphone dunia masih mengalami tekanan. Secara global, Canalys menyebutkan, pengiriman hanya mencapai 348,9 juta di kuartal ini.

Dalam sebuah pernyataan, Canalys mengatakan bahwa penurunan tersebut tak lepas dari permintaan di pasar Cina yang mengalami penurunan terbesar.
Sebagai negara dengan populasi smartphone terbesar di dunia, China mengalami kuartal yang mengecewakan. Tercatat, pengiriman hanya mencapai 100,6 juta unit, turun 15,2 persen tahun-ke-tahun.

India tetap menjadi pasar terbesar kedua di dunia di depan AS, tetapi kedua negara dilanda oleh kinerja musiman yang lebih lemah dibandingkan dengan Q3 2017, tambah Canalys.

BACA JUGA:
Harga Samsung Galaxy S10 Lebih Mahal dari iPhone XS

Pengiriman di India menurun 1,1 persen tahun-ke-tahun menjadi 40,4 juta. Begitu pun dengan AS, dengan angka permintaan hanya 40 juta unit, turun 0,4 persen.

Pengiriman di China yang lebih besar (termasuk Hong Kong dan Taiwan) tergelincir 14,6 persen setiap tahun, menjadikannya kawasan ini berkinerja terburuk. Sementara ada pertumbuhan kecil di Eropa Tengah dan Timur pada kuartal tersebut sebesar 2,2 persen, diikuti oleh 0,4 persen di Afrika.

Mo Jia, Analis Canalys, mengatakan pasar China menunjukkan tidak ada peningkatan dalam hal penjualan smartphone. Periode penurunan telah menempatkan tekanan luar biasa kepada para vendor.

Utamanya disebabkan oleh meningkatkan biaya komponen dan tenaga kerja di negara itu. Alhasil, sejumlah vendor mulai lebih fokus untuk memperluas pasar di luar negeri, agar bisnis mereka bisa terus berkembang dan tak lagi bergantung pada pasar dalam negeri yang kini sulit diprediksi.

BACA JUGA:
Mimpi Punya Huawei Mate 20 Pro Makin Bisa Terwujud

Meski vendor-vendor China mulai mengalihkan strategi ke negara-negara lain, terutama Asia Pasifik dan Eropa, namun Canalys mengingatkan bahwa, saat ini lingkungan perdagangan internasional dan masalah geopolitik juga tidak kondusif untuk perkembangan bisnis.

Hal ini mengacu pada kebijakan yang diambil pemerintah AS yang semakin protektif, terutama terhadap smartphone buat China. Sehingga hanya sedikit yang mungkin bertahan hidup di “musim dingin” yang sulit.

Secara rinci, Canalys mengungkapkan, kinerja para vendor bervariasi di tengah kondisi permintaan yang terus menurun. Canalys secara khusus menyoroti kinerja Samsung yang terus sempoyongan dihantam pesaing-pesaing dari China.
Sejauh ini, Samsung adalah satu-satunya vendor yang mencatat penurunan yang signifikan, mencapai 14 persen.

Dengan anjloknya permintaan, pangsa pasar konglomerat asal Korea Selatan itu pun terus menciut. Kini market share Samsung hanya mencapai 20,4 persen pada kuartal terakhir, dibandingkan 22 persen di Q3 2017.

BACA JUGA:
Alasan Apple Blokir Aplikasi Internal Facebook di iOS

Berbeda dengan Samsung, pengapalan vendor China Huawei tumbuh 33 persen menjadi 52 juta unit, sementara Apple naik tipis 0,4 persen menjadi 47 juta unit. Ini adalah keberhasikan kedua Huawei, setelah mampu mengungguli Apple sebagai vendor smartphone terbesar kedua di dunia pada kuartal kedua 2018.
Xiaomi dan Oppo melengkapi posisi lima besar. Tercatat gabungan vendor-vendor China sukses mempertahankan pangsa tertinggi mereka dalam pengiriman ponsel pintar global sebesar 52 persen.

Rushabh Doshi, Manajer riset Canalys, mengatakan Huawei telah membuat kenaikan luar biasa, dengan portofolio kompetitif yang mencakup semua segmen dengan rentang harga berbeda.

Dengan pencapaian yang signifikan dibandingkan pesaing-pesaingnya, hal ini diyakini menjadi pendororong keberhasilan selanjutnya dari Huawei, yakni menjadi vendor smartphone terbesar di dunia pada Q4 2019.