spot_img
BerandaFokusBenarkah Karena Pakai Dana USO, Telkomsel Harus Mau Berbagi Jaringan?

Benarkah Karena Pakai Dana USO, Telkomsel Harus Mau Berbagi Jaringan?

-

Nonot HarsonoJakarta, Selular.ID – Carut marut masalah interkoneksi pada akhirnya ikut membawa isu lain terangkat kepermukaan. Salah satunya perihal network sharing. Seperti diketahui Telkom group menolak adanya network sharing. Bahkan agar rencana network sharing tidak terwujud, operator plat merah ini menagih komitmen operator lain membangun di luar Jawa.

Langkah Telkom dan Telkomsel mendapat respon cukup baik dari anggota dewan ketika digelar Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I DPR-RI. Selepas Rapat tersebut, akhirnya anggota dewan meminta semua salinan modern licensing setiap operator, untuk mengecek komitmen membangun infrastuktur di daerah terpencil.

Menuver Telkom dan Telkomsel tersebut juga mendapat perhatian, Nonot Harsono, praktisi IT. Menurutnya, bagus jika Telkom & Telkomsel mengangkat isu menagih komitmen operator lain membangun di luar Jawa dalam konteks upaya menolak kebijakan network-sharing.

Diungkapnya, orang bijak pasti tahu bahwa saat ini teknologi jaringan kapasitasnya makin besar, dan Pemda ingin menata ruang wilayahnya agar tidak menjadi hutan menara. Selain itu kepentingan nasional untuk kurangi import/kurangi defisit neraca perdagangan dan perlunya daya tarik investasi yang lebih layak.

“Nah, untuk mewujudkan semua keinginan tersebut, network-sharing dan resource-sharing adalah jawabannya. Pokoknya mereka yang bijak akan memilih network-sharing dan resource-sharing, agar keingin yang tadi saya paparkan bisa terwujud,” tegas pengamat yang pernah menjadi anggota BRTI itu.

Nonot menambahkan, Telkomsel dan Telkom telah menjadi contoh, bagaimana keberhasilan dari network sharing itu sendiri. Berkat strategi tersebut, kedua operator milik negara itu menjadi perusahaan telekomunikasi yang sehat.

“Perlu diketahui, Telkomsel membangun sebagian BTS-nya dengan dana USO yang merupakan iuran dari semua pelaku usaha. Ini pun bentuk sharing biaya dan seharusnya ruas jaringan yang didanai USO itu, bisa dipakai bersama oleh semua pihak yang membayar iuran USO. Jadi Telkomsel dan Telkom dapat membangun hingga seperti sekarang ini karena mereka melakukan sharing,” urainya.

“Makanya pengalaman sukses Telkom dan Telkomsel dalam menjalankan network sharing dan sharing sumber daya lainnya ini, sudah sepatutnya diterapkan kepada operator yang lainnya,” tutur pria berkumis ini.

Lebih lanjut Nonot menjelaskan, mereka yang bijak akan melihat masalah network sharing sebagai sebuah pelajaran dan dapat mengambil hikmah (lesson-learned) dari apa yg telah dicontohkan oleh Telkom dan Telkomsel.

“Revisi PP 52 & 53 adalah dalam rangka menerapkan contoh baik dari sharing antara Telkom dan Telkomsel dalam menggelar jaringan telekomunikasi di seluruh wilayah indonesia. Sungguh tidak beralasan jika ada yang keberatan. Andai ada keberatan, pastilah pihak tersebut belum paham atau pihak yang tidak ingin Indonesia maju,” tuntasnya.

Bertolakbelakang dengan Nonot, menurut Ridwan Effendi, mantan Komusioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia dana USO digunakan untuk program desa dering, PLIK dan MPLIK yang Infrastruktur atau perangkatnya berbeda dengan sistem Komunikasi selular.

“Jadi tidak bisa dijadikan alasan apabila Telkomsel pernah mendapat Proyek USO untuk membuka jaringannya karena nature sistemnya beda,” tegas Ridwan.

Sedangkan Kalamullah Ramli, Akademisi yang juga mantan Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika Kominfo menyampaikan bahwa Sepengetahuannya, pembangunan USO tidak dibiayai Pemerintah. Pemenang tender membangun atas biayanya sendiri, Pemerintah membiayai operasional wilayah USO dalam bentuk sewa layanan

“USO pola lama berhenti sewanya sejak 2014 awal. Telkomsel pernah menyampaikan bahwa meskipun sewa jasa dari pemerintah dihentikan, mereka tidak bisa menghentikan layanan karena masyarakat telanjur menikmati,” ungkapnya.

spot_img

Artikel Terbaru