Selular.ID – Saat banyak perusahaan teknologi memasukkan AI ke berbagai layanan, Mozilla mengambil jalur berbeda.
Firefox menyediakan tombol untuk mematikan fitur AI. Bagi Mozilla, pilihan pengguna lebih penting daripada sekadar ikut arus.
Mengutip laporan CNET, Sabtu, 13 Juni, CEO Mozilla Anthony Enzor-DeMeo mengatakan fitur itu dipercepat setelah komunitas Firefox menyampaikan keberatan terhadap AI di peramban.
“Komunitas kami cukup vokal, terutama saat pengumuman CEO, bahwa tidak semua orang menginginkan AI,” kata Enzor-DeMeo kepada CNET.
Fitur itu sebenarnya sudah masuk peta pengembangan, tetapi peluncurannya dipercepat karena masukan pengguna.
Tombol pemutus AI tersebut kini tersedia di Firefox versi desktop dan ponsel.
Baca juga:
- CEO Mozilla Curhat Soal Firefox saat Google Wajib Jual Chrome
- Firefox Siapkan Saklar Mati AI untuk Jawab Kekhawatiran Privasi Pengguna
Namun, pengguna yang benar-benar mematikan seluruh fitur AI baru sekitar 1 persen. Sekitar 3 persen lain hanya mematikan sebagian fitur.
Menurut Enzor-DeMeo, sebagian pengguna tetap membutuhkan fitur AI tertentu, seperti penerjemahan. Karena itu, perbedaan utama Firefox bukan menolak AI, melainkan memberi pilihan.
Ia membandingkan langkah Firefox dengan Microsoft yang menjadikan Copilot sebagai bawaan saat pengguna mencari sesuatu di desktop Windows.
Ia juga menyinggung Google yang memasang model AI besar di komputer pengguna tanpa pemberitahuan lebih dulu.
“Ada perasaan umum dari pengguna: saya tidak meminta itu dan saya tidak memilihnya,” ujarnya.
Mozilla juga menyiapkan Smart Window, fitur beta yang memungkinkan pengguna memilih model AI yang ingin dipakai di Firefox, termasuk ChatGPT, Gemini, atau model lain.
Smart Window bekerja lewat panel samping di brower atau peramban.
“Jika ingin memakai ChatGPT, silakan. Jika ingin memakai Gemini, silakan,” kata Enzor-DeMeo.
“Masing-masing unggul dalam hal berbeda. Mengapa harus dipaksa memilih satu?” sambungnya.
Mozilla menyebut percakapan di Smart Window tidak dipakai untuk melatih model AI. Sistem juga menyaring data sensitif dan pribadi.
Pengguna dapat memilih data apa yang boleh diingat AI, menghapusnya, atau mematikan memori AI sepenuhnya.
Enzor-DeMeo mengatakan isu AI tidak hanya soal fitur. Ada persoalan akses dan privasi.
Menurut data yang ia kutip, sekitar 83 persen penduduk dunia belum pernah menggunakan AI.
Di Amerika Serikat, hanya sekitar 3 persen pengguna yang membayar layanan AI.
Ia juga menyebut AI saat ini “sebagian besar belum menguntungkan” dan memperkirakan iklan akan lebih banyak masuk ke layanan AI.
Jika AI menjadi pintu utama untuk mengakses internet, kata Enzor-DeMeo, ada risiko internet menjadi lebih tertutup.
Sebab, AI membutuhkan banyak data pengguna agar bisa bekerja optimal.
“Itulah kenyataan pahitnya,” kata Enzor-DeMeo. Karena itu, Mozilla menekankan persetujuan aktif pengguna.
VPN Gratis
Untuk memperkuat privasi, Firefox juga meluncurkan VPN gratis di dalam browser.
VPN adalah layanan yang membantu menyamarkan lokasi dan mengenkripsi aktivitas internet pengguna.
Namun, VPN berbasis browser umumnya hanya melindungi aktivitas di browser itu, bukan semua aplikasi di perangkat.
Menurut CNET, VPN Firefox telah mencatat 1,5 juta pendaftaran dan sekitar 800.000 pengguna aktif.
Mozilla juga menawarkan paket Unlimited VPN pada 9 Juni hingga 31 Agustus, dengan pilihan lokasi virtual.
Firefox juga menyiapkan pembaruan besar lewat Project Nova, yang akan tetap memakai nama Firefox saat dirilis akhir tahun ini.
Menurut CNET, Mozilla menyebut waktu muat halaman kini hingga 9 persen lebih cepat.
Firefox memiliki sekitar 200 juta pengguna bulanan, tetapi pangsa pasarnya diperkirakan sedikit di atas 2 persen, jauh di bawah Chrome dan Safari.
Versi baru Firefox dijadwalkan hadir sekitar September atau Oktober.
Salah satu fitur AI barunya adalah tab groups, fitur yang mengelompokkan tab serupa secara otomatis agar lebih mudah ditemukan.
Selain AI, Firefox baru akan membawa mode ringkas, tampilan panel dan menu yang lebih membulat, efek cahaya pada tab aktif, serta fitur aksesibilitas.
“Apa yang kami coba lakukan adalah menjaga web tetap terbuka, aman, dan persaingan tetap adil,” kata Enzor-DeMeo.
“Tujuan kami bukan menjadi browser terbesar, tetapi menjaga internet tetap menjadi ruang yang setara,” tutupnya.




