Selasa, 28 Mei 2024
Selular.ID -

Tanggapi Penjual Tanah Abang Sepi Pengunjung, Pengamat: Social Commerce Keniscayaan

BACA JUGA

Jakarta, Selular.ID – Pengamat ekonomi digital Ignatius Untung Surapati menyerukan tren social commerce yang saat ini tengah merebak, bukan hal baru.

“Dulu ada Kaskus dengan Forum Jual Beli, sekarang TikTok Shop. Mereka sama-sama social commerce, yakni berjualan di kanal media sosial,” ujar Ignatius Untung.

Ketika dikaitkan social commerce sebagai penyebab sepinya pengunjung Pasar Tanah Abang, dia menyebut penjual harus mengikuti tren yang ada. Menurut dia, penjual harus beradaptasi.

“Jangan dijadikan dikotomi penjual online dan penjual offline. Penjual ya satu, penjual. Penjual kan yang dikejar uang. Tidak peduli dimana. Tinggal dia mau kejar atau tidak,” tutur Ignatius Untung dalam Workshop Jurnalis bertajuk “Dampak Social Commerce pada UMKM di Indonesia” yang digelar Forum Wartawan Teknologi (Forwat) di Jakarta, Jumat (15/9/2023).

Menurutnya, tidak ada istilah penjual offline mati gara-gara penjual online. “Mereka semua sama-sama penjual kok,” tekan Untung.

“Penjual online mungkin dulunya juga offline. Tinggal bagaimana caranya yang offline mau gak belajar. Karena memang dunianya yang berubah. Dan ini bukan Tiktok aja,” ungkap Untung.

Ignatius Untung Surapati, Pengamat Digital ekonomi
Ignatius Untung Surapati, Pengamat Digital ekonomi

Senada dengan Ignatius Untung, pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Indonesia Digital Empowering Community (IDIEC) M Tesar Sandikapura menegaskan bahwa social commerce adalah keniscayaan, maka dari itu penjual harus memiliki skill tambahan.

“Karena sekarang eranya marketplace dan social commerce, maka penjual harus memiliki skill tambahan layaknya Host live shopping agar bisa berkomunikasi dengan pelanggan di platform tersebut, dan membuat konten menarik dalam menjaleaskan produknya agar orang tertarik membeli,” terangnya.

“Tidak bisa dibohongi terdapat ‘gap generation’ antara generasi digital native dan yang non-digital native. Permasalahannya pelaku UMKM saat ini banyak dari kalangan generasi X atau baby boomers. Dan mereka perlu diliterasi,” tuturnya.

Menurut Tesar, pemerintah harus lebih concern dengan UMKM yang bukan digital native. “Literasi mengenai digital savvy juga haru ditekankan, agar keamanan data mereka juga terjaga,” tekan Tesar.

Workshop Jurnalis bertajuk "Dampak Social Commerce pada UMKM di Indonesia” yang digelar Forum Wartawan Teknologi (Forwat) di Jakarta, Jumat (15/9/2023).
Workshop Jurnalis bertajuk “Dampak Social Commerce pada UMKM di Indonesia” yang digelar Forum Wartawan Teknologi (Forwat) di Jakarta, Jumat (15/9/2023).

Salah satu pertumbuhan tren social commerce ini juga tidak lepas dari kebiasaan generasi muda saat ini. Menurutnya, generasi muda saat ini begitu erat dengan konsumsi konten di media sosial.

“Biasanya, mereka ini suka kontennya lebih dulu, baru kemudian membeli. Ini berbeda dari generasi saya yang mungkin kurang menyukai cara seperti itu. Namun, ini adalah inovasi,” ucap Tesar melanjutkan.

Oleh sebab itu, ia menuturkan, apabila pemerintah ingin mengatur sistem ini diperlukan perbincangan lebih dulu dengan semua pemangku kepentingan. Baik dari pemilik platform hingga para penjual yang memanfaatkan fitur tersebut.

Hal ini perlu dilakukan agar bisa mencari titik tengah terkait persoalan social commerce. “Teknologi itu berubah cepat, tinggal bagaimana regulasi bisa melakukan mix and match agar bisa melindungi semua pihak,” tuturnya.

Baca Juga: TikTok Indonesia Patuhi Aturan Pajak Berbelanja di Social Commerce

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU