Pontang-Panting JD.ID Bertahan di Bisnis E-Commerce Indonesia

Selular.ID – Seperti halnya AliBaba, JD.Com merupakan pemain kakap di bisnis e-commerce. JD.com adalah salah satu platform e-commerce B2C dan penyedia layanan logistik terkemuka di negeri Tirai Bambu.

Diluncurkan pada 2004, platform ritel elektronik online jdlaser.com, pendahulu JD.com, merupakan salah satu pelopor bisnis e-commerce B2C China.

Setelah tahun pendiriannya, 2007 menandai tonggak sejarah selanjutnya dalam pengembangan JD.com. Selama tahun itu, perusahaan mengalihkan fokusnya dari produk elektronik ke barang dagangan umum dan mulai mengembangkan sistem logistiknya sendiri.

Saat ini, JD.com telah menjadi toko online terbesar kedua di dunia dan perusahaan ritel terbesar di China, berdasarkan laporan Fortune 500 dalam hal pendapatan.

Sukses di China, JD memutuskan bereskpansi ke sejumlah negara.  JD.com berencana untuk meningkatkan investasi di luar negeri, salah satu eksekutif puncaknya mengatakan bahwa JD berupaya memanfaatkan pengguna internasional.

Raksasa teknologi itu memang kurang agresif dibandingkan pesaing terdekatnya Alibaba dalam memperluas kehadirannya di luar negeri. Tetapi ekspansi internasional dari kedua perusahaan China dapat menantang dominasi penguasa e-commerce asal AS, Amazon di beberapa bagian dunia.

Selama beberapa tahun mendatang, JD.com akan berupaya “meningkatkan investasi di negara-negara yang sesuai dengan strategi JD, tidak peduli apakah itu di pergudangan, logistik atau rantai pasokan,” kata Xin Lijun, Kepala Eksekutif Bisnis Ritel JD, seperti dinukil dari laman CNBC.

Xin mengatakan JD sedang melakukan “analisis strategis lebih lanjut di Vietnam dan Eropa” sebagai lokasi potensial untuk ekspansi.

Upaya ekspansi internasional yang dilakukan JD, sejauh ini berfokus pada investasi dan usaha patungan. Pada 2017, pengecer Thailand Central Group dan JD membentuk usaha patungan dan meluncurkan platform e-commerce di negeri Gajah Putih itu pada 2018.

Setahun kemudian, JD memperluas pasar ke Vietnam. Perusahaan kini menjadi pemegang saham terbesar Tiki, yang merupakan penguasa layanan e-commerce di negara itu.

Di Indonesia, JD bahkan hadir lebih dulu. Lewat bendera JD.ID, JD mulai beroperasi sejak 26 Oktober 2015 lalu.

Sejak diluncurkan kepada publik, statistik JD.ID terus mengalami tren positif dengan signifikan, baik dalam jumlah pengunjung maupun transaksi.

Baca Juga: Makin Tajir, Pendiri JD.com Richard Liu Dapat Deviden US$273 Juta

Halaman berikutnya

JD.ID Kalah Populer dan Lakukan PHK Demi Efisiensi