Tiga Fenomena Blackberry di Indonesia, Sulit Buat Vendor Lain Mengulangnya

Blackberry
Ki-Ka: Chris Jones, Marketing Director Blackberry Asia Pacific, Ririn Widaryani Vice President Prepaid & Broadband Marketing Telkomsel, Sofran Irchamni, Managing Director Blackberry Indonesia, Hasan Aula, Chief Executive Officer Erajaya Group dan Matt Stewart, Director of Communication Blackberry Asia Pacific

Selular.ID – Vendor asal Kanada, Blackberry secara resmi menghentikan dukungan OS buatan mereka, yaitu BlackBerry OS pada 4 Januari 2022. Itu berarti pengguna yang masih setia pada BlackBerry siap-siap ganti smartphone dengan OS lain, seperti Android Google atau iOS milik Apple

Dengan tamatnya Blackberry OS, tuntas pula perjalanan Blackberry. Padahal di masa jayanya, merek yang dibesut oleh RIM (Research in Motion) itu sempat menguasai pasar smartphone global selama sekitar 9 tahun. Transisi teknologi dari 3G ke 4G rupanya menjadi kuburan bagi Blackberry.

Vendor yang didirikan oleh Mike Lazaridis itu, tak mampu bersaing dengan dua seteru tradisionalnya, Samsung dan Apple.  Kondisi diperburuk dengan agresifnya merek-merek China.  Dimotori oleh beberapa merek utama, seperti Vivo, Oppo, Huawei, Realme dan Xiaomi, membuat Blackberry tak lagi dilirik oleh konsumen global.

Tumbangnya Blackberry seperti mengulang kisah tragis yang dialami Nokia. Bedanya, Nokia tersungkur karena keangkuhannya. Alih-alih menggunakan Android, vendor asal Finlandia itu, lebih mempertahankan Symbian yang terbukti gagal bersaing dengan OS besutan Google itu.

Sedangkan Blackberry, selain model yang dinilai sudah old school alias jadul, gangguan layanan berulang kali terjadi pada Blackberry Service (BS). Tumbangnya BS itu, menyebabkan sedikitnya 10 juta pengguna Blackberry di seluruh dunia tidak bisa mengirimkan email. Mereka pun tak bisa mengirim pesan singkat melalui BBM. Aplikasi chatting yang ekslusif dikembangkan oleh RIM untuk pengguna Blackberry.

Di saat bersamaan, seiring dengan berkembangnya jaringan 4G, layanan pesan singkat lain seperti WhatsApp (WA) mulai naik pamor. Tanpa perlu PIN seperti BB, WA bisa digunakan smartphone merek apa pun. Alhasil pengguna tak lagi bergantung pada BBM.

Baca Juga: Selamat Tinggal BlackBerry 

Terlepas dari cerita yang berakhir tragis,  Blackberry pernah menjadi smartphone yang paling diminati konsumen di seluruh dunia. Tak terkecuali masyarakat Indonesia. Mengingat pencapaian yang begitu fenomenal, rasanya sulit bagi vendor lain untuk bisa melakukan hal serupa. Inilah tiga diantaranya. Sepertinya anda juga pernah mengalaminya.

Halaman berikutnya

PING!! Aplikasi BBM yang Kadang Bikin Kesal