Thursday, August 13, 2020
       
Home News Feature Larang TikTok Cs, India Mainkan Kartu Truf

Larang TikTok Cs, India Mainkan Kartu Truf

-

Jakarta, Selular.ID – Jika pandemi corona membuat banyak perusahaan kesulitan likuiditas hingga bangkrut, tidak demikian halnya dengan Tik Tok. Aplikasi video pendek ini justru tengah mencapai puncak popularitas.

Berdasarkan data Sensor Tower, jumlah unduhan TikTok mencapai dua miliar lewat Google Play Store dan Apple App Store. Jumlah itu sudah termasuk Douyin, saudara kandung TikTok yang khusus melayani pasar China.

Rekor baru TikTok itu dicapai hanya lima bulan setelah meraih 1,5 miliar download. Khusus di kuartal pertama 2020 saja, aplikasi yang didirikan pada September 2016 oleh Zhang Yiming ini, telah diunduh sebanyak 315 juta kali.

Sensor Tower menyebutkan bahwa, melesatnya popularitas TikTok tak lepas dari pandemi virus Corona. Banyaknya orang yang bekerja di rumah, membuat TikTok kebanjiran pengguna baru. Mereka ingin menjajal aplikasi baru di tengah kondisi lockdown.

Saat ini negara yang menjadi pasar terbesar bagi TikTok adalah India dengan 30,3 persen dari total unduhan. Aplikasi besutan Bytedance ini telah diunduh 611 juta kali di negara Asia Selatan tersebut. China menjadi negara kedua dengan total unduhan sebesar 9,7 persen dan Amerika Serikat sebanyak 8,2 persen.

Melonjaknya popularitas itu pada akhirnya mendorong pendapatan TikTok. Hingga saat ini, pengguna TikTok telah menghabiskan USD 456,7 juta di aplikasi tersebut, kenaikan signifikan dibanding USD 175 juta pada lima bulan yang lalu.

Secara global, ByteDance menghasilkan laba bersih $ 3 miliar tahun lalu dan lebih dari dua kali lipat pendapatannya dari $ 7,4 miliar pada 2018 menjadi $ 17 miliar pada 2019.

Sayangnya di tengah popularitas itu, TikTok mendapat tantangan yang tak ringan. Pasalnya, pada Senin (29/6/ 2020) pemerintah India mengumumkan telah melarang 59 aplikasi mobile dari China, termasuk TikTok, SHAREit, WeChat, Komunitas Mi, dan lainnya.

Alasannya, sebagaimana dinyatakan dalam siaran pers, Kementerian Teknologi Informasi India “telah menerima banyak keluhan dari berbagai sumber termasuk beberapa laporan tentang penyalahgunaan beberapa aplikasi selular yang tersedia di platform Android dan iOS untuk mencuri dan secara diam-diam mengirimkan data pengguna dalam suatu cara tidak sah ke server yang memiliki lokasi di luar India.”

Ada beberapa laporan dari Pusat Koordinasi Kejahatan Dunia Maya India, Kementerian Dalam Negeri, dan Tim Tanggap Darurat Komputer (CERT-IN) bahwa aplikasi selular tersebut merupakan ancaman terhadap keamanan nasional dan risiko terhadap privasi warga negara India.

“Merugikan kedaulatan dan integritas India, pertahanan India, keamanan negara, dan ketertiban umum” menjadi alasan resmi pelarangan terhadap TikTok cs.

Meski demikian, tak dapat disangkal bahwa konflik perbatasan antara China dan India, yang mengakibatkan tewasnya 20 tentara India di kawasan Ladakh (Kashmir) pada 17 Juni 2020, menjadi dasar dari larangan tersebut.

Bagi TikTok, aksi larangan berisiko membuat mereka kehilangan pasar internasional terbesarnya dengan lebih dari 100 juta pengguna. Larangan itu akan memengaruhi jutaan pengguna di India.
Aplikasi ini telah menjadi platform bagi orang India dari segala usia dan kelas — mulai dari polisi, anak-anak muda, hingga ibu rumah tangga — yang menari, bernyanyi, dan tampil untuk pengikut mereka. Aplikasi ini telah mengubah banyak orang India menjadi bintang media sosial secara instan.

Pada Januari 2020, dilaporkan bahwa TikTok memperoleh pendapatan Rs 23-25 crore pada Oktober-Desember seperempat di India saja. Secara kasar, 10 persen dari bagian pendapatannya berasal dari India.

Menurut perkiraan industri, pendapatan iklan TikTok di India tumbuh 50 persen dalam satu tahun. Tetapi perusahaan ini belum mengantongi pangsa signifikan dari pasar periklanan digital Rs 17.000 crore India.

Pendapatan Rt 25 cr TikTok masih sedikit dibandingkan dengan Facebook. Menurut pengajuan peraturan Facebook, raksasa media sosial melihat 71 persen pertumbuhan di pasar India, dengan pendapatan Rs 892 crore di tahun keuangan 2018-2019.

Pendapatan segmen bisnis pengecer iklan Facebook berjumlah Rs 263 crore untuk tahun finansial 2019. Aplikasi Helo, yang juga dimiliki oleh ByteDance, memiliki lebih dari 40.000.000 pengguna.

Dengan hilangnya pasar India, para petinggi Bytedance tentu menjadi pening kepala. Apalagi selain TikTok, aplikasi Hello yang juga besutan Bytedance termasuk yang dilarang. Padahal seperti halnya TikTok, Hello juga sangat popular di India dan sudah tersedia dalam bahasa seperti Hindi, Telugu, Tamil, Malayalam, dan banyak lagi.

Sebuah laporan baru-baru ini mengklaim Bytedance akan kehilangan USD6 miliar atau sekitar Rp87 triliun sebagai akibat langsung dari larangan India, seperti dikutip dari laman Android Authority (7/7/2020).

Kerugian Besar

Selain menggerus TikTok, aksi pelarangan juga membuat berbagai aplikasi besutan China lainnya yang selama ini telah lama beroperasi di India, kini menjadi mati suri. Sebut saja ShareIt yang terpaksa gigit jari.

Padahal, seperti dilaporkan laman The Week (30/6/2020), SHAREit merupakan aplikasi ketiga paling aktif di India setelah WhatsApp dan Facebook.

Pada 2019, India adalah pasar teratas SHAREit berdasarkan basis pengguna, dengan 200 juta pengguna bulanan aktif (dengan hampir 70 persen dari mereka berasal dari kota Tier-II dan seterusnya).

Meskipun diperkenalkan ke pasar India pada awal 2013, baru pada akhir 2018 atau awal 2019 SHAREit mulai menghasilkan uang di India, terutama melalui iklan. Perusahaan bahkan menetapkan target untuk menghasilkan Rs 100 crore dengan memperkenalkan aliran pendapatan baru seperti game dan iklan video.

Aplikasi lainnya yang cukup popular di India adalah UC Browser dengan 13 persen pangsa pasar. Hanya Google Chrome, dengan pangsa pasar 75 persen, yang mengungguli UC Browser di negara itu.

Shein, salah satu dari beberapa bisnis fesyen online besar Tiongkok yang telah mulai berjualan di India, memiliki sejuta pengguna aktif setiap hari dengan 10.000 pesanan per hari. Nilai pesanan rata-rata pada platform ini adalah antara Rs 1.000 dan Rs 1.500.

Club Factory, platform e-commerce Tiongkok lainnya mengklaim telah melampaui Snapdeal yang berbasis di India, untuk menjadi aplikasi belanja terbesar ketiga dengan lebih dari 100 juta pengguna aktif bulanan sejak Juni 2019. Walaupun angka pendapatan mereka tidak diketahui, perusahaan tersebut tampaknya telah meraih pertumbuhan tercepat pada tahun lalu.

Sebagian besar aplikasi China ini telah memimpin di India — pasar berkembang terbesar di dunia — dalam waktu kurang dari lima tahun, menurut analisis terperinci oleh MacroPolo. Namun keputusan pelarangan oleh pemerintah India telah mengubah segalanya.

Parahnya, tak hanya pemain aplikasi, dampak larangan juga sudah mengancam vendor telekomunikasi. Sebut saja Huawei dan ZTE. Kedua vendor jaringan ini, disebut-sebut tidak akan dilibatkan dalam tender 5G, seperti yang sudah diwacanakan banyak kalangan industri selular di India belakangan ini.

Sementara vendor-vendor smartphone yang kini menguasai pasar China juga mulai kebakaran jenggot. Pengamat industri memprediksi merek smartphone China akan menjadi sasaran berikutnya. Berdasarkan laporan Counterpoint Research, saat ini Xiaomi memiliki pangsa 30 persen di pasar ponsel. Vivo berada di urutan kedua dengan 17 persen pasar, diikuti oleh Samsung (16%), Oppo (12%), dan Realme (14%).

Menurut Counterpoint Technology Market Research Neil Shah, bahkan jika sentimen negatif terhadap China tidak mengarah pada penurunan permintaan, gangguan yang disebabkan rantai pasokan dan manufaktur masih dapat mempengaruhi pengiriman. Pengiriman Apple tampaknya sudah menderita.

Di sisi lain, Samsung akan berusaha mengambil kesempatan. Dengan memanfaatkan sentimen nasionalisme, Chaebol Korea itu dapat mengambil keuntungan dari perubahan selera pasar, sekaligus mengambil kembali pangsa pasar yang hilang digerus vendor-vendor China.

Diikuti AS

Bagi TikTok, tantangan juga semakin berat. Pasalnya, larangan yang dilakukan India bisa segera diikuti oleh Amerika Serikat yang merupakan pasar ketiga terbesar aplikasi itu di dunia.

Menurut Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo, pihaknya tengah menimbang kemungkinan memblokir aplikasi media sosial dari China. Salah satu di antaranya, kata Pompeo, adalah TikTok.

“Saya tidak ingin mendahului Trump, tetapi itu salah satu yang sedang kami timbang,” ujar Pompeo sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Selasa (7/7/2020).

Belum diketahui apa penyebab wacana pemblokiran ini selain hubungan Amerika dan China yang tak harmonis. Sejak wabah virus Corona meledak, hubungan China dan Amerika semakin tegang dalam berbagai hal mulai dari asal usul virus, masalah visa, persoalan Laut Cina Selatan, hingga masalah Hong Kong.

Di Hong Kong sendiri, UU Keamanan Nasional yang belum lama ini disahkan oleh Beijing, membuat sejumlah perusahaan teknologi dan platform digital menyatakan berhenti beroperasi di sana. Selain Facebook, salah satu yang memutuskan akan keluar dari pasar Hong Kong adalah TikTok.

“Menindaklanjuti peristiwa yang baru-baru ini terjadi, kami memutuskan untuk menghentikan operasi TikTok di Hong Kong,” ujar ByteDance.

ByteDance menambahkan bahwa data-data penggunaan TikTok sebelumnya tidak tersimpan di China. Oleh karenanya, walaupun operasional di Hong Kong telah dihentikan, tidak ada data penggunaan yang dipegang oleh China.

Saat ini belum diketahui kapan secara resmi TikTok bakal keluar dari pasar Hong Kong. ByteDance hanya menyampaikan bahwa TikTok akan tidak aktif di Hong Kong dalam hitungan hari.

Upcoming Event

Upcoming Event

Latest