Monday, March 30, 2020
Home Kaleidoskop Catatan Akhir Tahun 2019: Industri Telekomunikasi Masih Sangat Dinamis

Catatan Akhir Tahun 2019: Industri Telekomunikasi Masih Sangat Dinamis

-

Jakarta, Selular.ID – Tahun 2018 lalu industri telekomunikasi Indonesia mengalami mengalami dinamika yang cukup tinggi dan mengharuskan industrinya menghadapi negative growth sebesar minus 7,3 persen. Salah satunya merupakan imbas dari kebijakan registrasi prabayar yang dijalankan pemerintah bersama operator.

Namun demikian industri telekomunikasi menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada 2019 yang juga merupakan imbas dari registrasi prabayar tersebut yang membuat costumer base yang dimiliki operator terbilang bersih, bukan sekedar klaim seperti sebelumnya.

Hingga kuartal 3 tahun 2019 kinerja emiten sektor telekomunikasi pada kali ini terbilang cukup cukup baik. Mereka masih bisa membukukan pertumbuhan penjualan yang cukup signifikan.

Contohnya saja PT Telkom, BUMN telekomunikasi ini membukukan pendapatan 102,632 atau tumbuh 3.5% dari Rp 99.203 triliun. Pertumbubuan ini berasal dari bisnis layanan data anak perusahaannya yaitu Telkomsel yang tumbuh dari Rp 32.126 triliun menjadi Rp 41.242 triliun.

XL Axiata juga membukukan pendapatan yang meningkat.Jika tahun lalu pendapatan XL Axiata hanya Rp16.940, namun di kuartal 3 tahun 2019 ini pendapatannya mengalami pertumbuhan 11% menjadi Rp18.735 triliun.

Perusahaan telekomunikasi anak usaha Sinar Mas Grup, Smartfren, juga membukukan pertumbuhan pendapatan di kuartal 3 tahun 2019 ini. Jika tahun lalu penjualannya hanya Rp3,9 triliun, tetapi di tahun 2019 ini, emiten berkode FREN ini berhasil membukukan pendapatan Rp4,9 triliun.

Anak usaha Ooredoo yang tahun lalu terpukul karena kebijakan pemerintah dalam melakukan registrasi kartu prabayar, tahun ini Indosat mulai menunjukkan perbaikan kinerja penjualannya. Jika tahun lalu kinerja penjualan emiten berkode ISAT ini hanya Rp13,175 triliun, di tahun 2019 ini penjualan anak usaha Ooredoo ini sudah mencapai Rp15,084 triliun.

Kejutan Regulasi

Meski menunjukkan tanda-tanda perbaikan, situasi yang dihadapi oleh industri telekomunikasi Indonesia tidak serta merta “melunak”. Riak-riak kecil dan “kejutan-kejutan” kerap mewarnai perjalanan selama tahun 2019 ini.

Salah satu yang cukup banyak mengundang perhatian adalah IMEI International Mobile Equipment Identity (IMEI) yang ditandatangani Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), dan kementerian Perdagangan.

Kebijakan tersebut dikeluarkan menjelang masa selesai tugas para menteri di era kabinet Kerja Jilid II. Keputusan tersebut seperti tendangan penalti di masa injury time, yang sesungguhnya berdampak pada konsumen secara luas.

Padahal Presiden Joko Widodo sudah mengingatkan para pembantunya agar tidak mengeluarkan kebijakan strategis di masa jelang pergantian kabinet.

Dengan dikeluarkannya aturan tersebut operator selular mendapat tambahan pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas dari Kementerian Perdagangan. Belum lagi operator harus mengeluarkan capex yang sangat besar untuk menjalankan aturan tersebut.

Beban tambahan tersebut tentunya sangat memberatkan mengingat operator masih harus memperbaiki kinerja keuangannya setelah mengalami negative growth di 2018 lalu.

Perang harga

Meski sudah tidak jor-joran seperti tahun-tahun sebelumnya, perang hara masih mewarnai persaingan industri telekomunikasi Indonesia. Hal tersebut dapat terlihat dari data yield yang semakin turun secara angka year per gigabite.

Bagi operator kondisi ini akan menjadi salah satu hal yang sangat fundamental. Secara volume memang semakin meningkat dan pertumbuhan user juga semakin melambat, tapi dengan Yield yang sangat rendah ini akan menjadi persoalan dalam membangun kesehatan sebuah korporasi. Nah ini menjadi tantangan buat operator disaat mereka harus tetap tumbuh

Indonesia menjadi negara terendah nomor tiga di dunia setelah India dan Bangladesh, yang menawarkan harga paket data murah. Walau bagus bagi pelanggan, namun tidak bagi industri. Karena industri harus bertahan dengan menghasilkan pendapatan.

Kondisi ini sepertinya belum akan membaik apalagi aturan mengenai tarif layanan data belum kunjung dikeluarkan oleh Kominfo.

Latest