Friday, May 29, 2020
Home News Feature Catatan Akhir 2017 : Ambisi Advan Naik Kelas

Catatan Akhir 2017 : Ambisi Advan Naik Kelas

-

Tjandra Lianto, Direktur Marketing Advan
Tjandra Lianto, Direktur Marketing Advan
Jakarta, Selular.ID – Tak dapat dipungkiri, 2017 adalah tahunnya smartphone China. Berdasarkan laporan IDC per kuartal ketiga 2017, lima besar merk smartphone di Indonesia, adalah Samsung, Oppo, Advan, Vivo dan Xiaomi.

Samsung bertengger di posisi puncak dengan perolehan market share 30%, menyusul di posisi kedua Oppo 25%. Tiga besar dibawahnya adalah Advan 8,3%, Vivo 7,5% dan Xiaomi 5,2%. Dua vendor terakhir, sukses menjegal Asus dan Lenovo yang sebelumnya berada di posisi empat dan lima.

Mengacu kepada data tersebut, tiga besar pabrikan smartphone di Indonesia sudah dikuasai oleh China (37,7%). Bahkan, jika dikerucutkan, dua vendor masing-masing Oppo dan Vivo yang nota bene sister company, sesungguhnya sudah menjadi penguasa pasar. Pasalnya, perolehan keduanya sudah sebesar 32,5%, mengungguli Samsung.

Advan menjadi satu-satunya brand lokal yang bertahan di posisi elit. Selama dua kuartal terakhir, Advan kokoh di posisi tiga. Bahkan pada Q2- 2017 penguasaan pasar Advan mencapai 9%. Artinya, meski pangsa pasarnya sedikit menurun, vendor yang memiliki pabrik di Semarang itu, sukses mempertahankan posisi tersebut dari kepungan vendor global.

Pencapaian di nomor tiga, sekaligus menahbiskan Advan sebagai brand ponsel nomor satu di Indonesia. Mengalahkan Evercoss yang sebelumnya lama bercokol.

Saat berbincang dengan Tjandra Lianto, Marketing Director Advan, saya melihat antusias yang tinggi dari Advan untuk terus bertarung di pasar smartphone yang terus tumbuh di Indonesia.

Menurutnya, dengan peningkatan sebanyak 10 juta unit smartphone per tahun, Indonesia adalah pasar yang sangat seksi. Tak heran, bersama dengan India, Indonesia menjadi salah satu negara di kawasan Asia Pasifik yang layak diperebutkan oleh setiap vendor handset.

Ia pun mengaku merasa bangga Advan bisa menempati posisi ketiga. Itu menunjukkan Advan mampu bersaing di antara vendor ponsel asing yang ada di Indonesia.  Dia pun bersyukur karena Advan telah mendapat kepercayaan tinggi dari konsumen.

“Kami bangga bahwa kepercayaan konsumen Indonesia terhadap Advan semakin tinggi. Advan saat ini menjadi satu-satunya brand nasional yang masuk dalam tiga besar merk smartphone yang beredar di Indonesia,” ujar Tjandra.

Keberhasilan Advan tak lepas dari strategi pemasaran yang tepat. Selama ini Advan dikenal sebagai vendor yang rajin mengenalkan produk baru dengan harga terjangkau, namun dengan fitur yang tak kalah dengan brand global.

Hal itu sejalan dengan karakteristik sebagian besar konsumen di Indonesia. Survey IDC, memastikan bahwa smartphone dengan rentang harga US$ 250 adalah yang paling diminati.

Dari sekitar 15 varian yang dilepas ke pasar sepanjang tiga kuartal 2017, varian entry level seharga Rp 1 jutaan menjadi primadona.

“Seperti i5c Plus di Rp 1,2 juta. Begitu pun dengan tablet di kisaran Rp 1 jutaan. Itu favorit untuk pasar,” ungkap Tjandra.

Bila dihitung kontribusi secara detail, Tjandra mengatakan jika ponsel Rp 1 jutaan Advan memiliki persentase 60%. Sisanya adalah smartphone dan tablet di rentang harga Rp 2 jutaan, serta perangkat dengan harga di bawah Rp 1 juta.

Meski sukses mempertahankan posisi di nomor tiga, Tjandra menegaskan bahwa Advan menargetkan bisa naik kelas. Ia ingin Advan tak hanya menjadi jawara di smartphone kelas entry level, namun juga kelas menengah (mid end).

Keputusan Advan untuk menggarap pasar mid end juga sejalan dengan riset IDC. Lembaga riset terkemuka itu menyebutkan bahwa pasar smartphone kelas menengah di Indonesia semakin meningkat. Dari 13% tahun lalu, porsi smartphone di kategori menengah kini berlipat ganda menjadi 28% dari total penjualan di Q2-2017.

Upaya untuk naik kelas sebenarnya sudah dirintis Advan mulai tahun ini. Tercatat, pada setiap kuartal, Advan sudah memperkenalkan tiga varian smartphone di segmen mid end. Dimulai dari G1, G1 pro dan A8.

Dalam perkembangannya, Tjandra menambahkan, strategi produk, Advan difokuskan untuk menjawab semua kebutuhan konsumen termasuk kelas menengah atas.

“Advan saat ini memiliki jajaran produk A-G-I-S, di mana A adalah seri tertinggi (flagship). Yang terbaru adalah Advan A8 sebagai smartphone paling canggih dibekali dual camera hingga sistem keamanan tangguh,” jelas Tjandra.

Selanjutnya, seri G dihadirkan untuk segmen anak muda dengan kisaran harga Rp 2-3 juta. Di bawahnya, seri I merupakan smartphone 4G LTE terjangkau dengan harga Rp 1-2 juta. Terakhir, seri termurah atau entry level, yakni seri S dengan harga di bawah Rp 1 juta.

Strategi di pasar multi-level tersebut menurut Tjandra sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang beragam.

Meski sukses menelurkan produk di segmen mid to high end, diakui oleh Tjandra, brand awareness Advan masih sangat kuat di segmen low end. Sehingga perlu waktu bagi konsumen untuk mengetahui dan membuktikan bahwa Advan, juga memiliki smartphone kelas menengah yang tak kalah dengan brand global.

Karenanya untuk meningkatkan perceive equity, tahun depan pihaknya akan lebih banyak menggelar kampanye pemasaran dan public relation.

“Hal ini dibarengi dengan upaya peningkatan user experience. Tujuannya agar brand Advan semakin familiar. Tidak hanya bertumpu pada kampanye produk, seperti selama ini,” tandas Tjandra.

So, kita tunggu kiprah Advan di tahun depan.

TERBARU

iPhone 11 Jadi Smartphone Terlaris Dunia pada Q1 2020

Jakarta, Selular.ID - Apple bisa dibilang tepat mengambil keputusan untuk merilis iPhone 11 pada...

GoCar Pasang Sekat Pelindung di Era New Normal

Jakarta, Selular. ID - Gojek meningkatkan protokol kesehatan dan standar higienitas guna membantu masyarakat...

Siap Beri Pinjaman Bunga Rendah, Julo Kantongi Izin OJK

Jakarta, Selular.ID - Di tengah maraknya penutupan perusahaan fintech ilegal di tengah suasana pandemi...

Latest