Jakarta, Selular.ID – Operator terbesar di Singapura Singtel melaporkan penurunan laba triwulanan tahun-ke-tahun lainnya, karena penurunan tajam dalam kontribusi dari unit selular regionalnya dan berlanjutnya pelemahan permintaan di pasar selular domestik.

Laba bersih untuk kuartal yang berakhir 30 Juni (Q1 fiskal 2019) turun 6,6% tahun-ke-tahun menjadi SGD832 juta (US$ 610 juta). Perusahaan mengatakan hal itu disebabkan oleh menurunnya kontribusi dari anak-anak perusahaan, pajak penghasilan lebih tinggi pada penerimaan dividen, dan pergerakan mata uang yang merugikan. Alhasil, keuntungannya juga turun dari tahun ke tahun di Q3 fiskal dan Q4 2018.

Pada periode baru-baru ini, penghasilan sebelum pajak dari empat anak perusahaan Singtel di regional, turun sebesar 43% tahun ke tahun menjadi SGD416 juta. Dengan hasil yang lebih lemah dari Airtel di India dan Telkomsel di Indonesia. Padahal selama ini, kedua anak perusahaan tersebut menjadi penyumbang revenue terbesar bagi Singtel.

Baca juga: Pasar Regional Melemah, Kinerja Singtel Anjlok

Pendapatan operasi tumbuh 0,5% menjadi SGD4.13 miliar, dengan 1,9% peningkatan pendapatan konsumen sebesar SGD2.36 miliar. Pendapatan bisnis layanan mobile menurun 2,2% menjadi SGD1.39 miliar, begitupun dengan pendapatan data yang turun 1,5% menjadi SGD824 juta. Penjualan perangkat telekomunikasi naik 13,8% menjadi SGD581 juta. Pendapatan proporsional anak-anak perusahaan turun 9,6% dari tahun fiskal Q1 2018 menjadi SGD3,28 miliar.

Dalam pernyataan pendapatan, Group CEO Singtel Chua Sock Koong mengatakan hasil tersebut mencerminkan ketahanan bisnis inti Singtel melawan persaingan yang semakin ketat.

“Singtel Group terus mencatat pertumbuhan data. Khusus untuk Optus membuat keuntungan di pasar baik konsumen dan perusahaan”, ujar Chua Sock Koong.

Baca juga: Langkah Akuisisi Bikin Bisnis Digital Singtel Tumbuh Pesat

Domestik

pendapatan layanan seluler turun 3,8 persen tahun-ke-tahun menjadi SGD265 juta, dikaitkan dengan dampak lanjutan suara untuk substitusi data dan meningkatnya permintaan untuk rencana SIM-satunya. Data Ponsel tetap menjadi pendorong pertumbuhan, dengan data pendapatan mengimbangi penurunan suara jelajah Penjualan peralatan meningkat 5,5 persen menjadi SGD105 juta dengan peningkatan yang lebih tinggi dari handset premium.

ARPU selular blended turun 2,4% tahun-ke-tahun untuk SGD35. Pelanggan Ponsel tergelincir 1% menjadi 4,08 juta, dengan 5,7% penurunan subs prabayar mengimbangi kenaikan 2,1 persen di pasca bayar angka.

Australia

Total pendapatan selular di Optus tumbuh 7,9% ke AUD1.3 miliar (US$ 964 juta), didorong oleh 19% lonjakan penjualan peralatan dan peningkatan 2,1 persen dalam penjualan layanan mobile. Pertumbuhan pelanggan sebagian diimbangi oleh ARPU campuran yang lebih rendah, Turun 2% ke AUD32 karena peningkatan kombinasi paket SIM dan persaingan harga data.

Basis pelanggan seluler Optus tumbuh 4,2% tahun-ke-tahun menjadi 10,2 juta pada akhir Juni, dengan jumlah pasca bayar naik 6,7% dan sub-bayar prabayar stabil.

Unit Regional

Singtel menyebutkan layanan mobile data terus tumbuh kuat di pasar regional, namun hasil Airtel India dipengaruhi oleh turunnya jumlah pelanggan sebagai dampak dari persaingan dengan pemain baru, Jio Reliance. Begitupun dengan pendapatan Telkomsel yang turun terkena dampak persaingan harga yang ketat, terutama selama pendaftaran wajib kartu SIM prabayar.

Chua mencatat persaingan akan tetap tajam di Indonesia dan India. Meski demikian, sebagai operator terbesar di masing-masing negara, baik Telkomsel dan Airtel tetap memperoleh pangsa pasar yang signifikan. Chua optimis, setelah periode Juni lalu, kedua operator tersebut mulai mencetak pendapatan stabil.

Singtel juga mengungkapkan dua anak perusahaan lainnya, masing-masing AIS di Thailand dan Globe di Filipina terus berkinerja kuat. Sebagai operator terbesar di masing-masing negara, baik AIS maupun Globe mencatat pertumbuhan yang kuat dari peningkatan pendapatan serta pengendalian biaya.

Outlook

Singtel memperkirakan penerimaan operasi dari kelompok konsumen dan perusahaan tumbuh satu digit lebih rendah dan EBITDA menjadi stabil. Pendapatan layanan ponsel akan tumbuh rendah satu digit di Australia dan Singapura.