Jakarta, Selular.ID – Raksasa telekomunikasi Singapura, Singtel, mencatat kelanjutan pelemahan di Q4-2017 pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret. Perolehan laba dilaporkan turun tajam dan pendapatan tetap datar. Penyebab utamanya adalah operasinya di dua negara utama India dan Indonesia, serta pasar dalam negeri mengalami penurunan yang cukup drastis.

Operator terbesar di Singapura dengan pangsa pasar 49% itu, melaporkan penurunan laba bersih 19% tahun-ke-tahun menjadi SGD781 juta ($582 juta) karena hasil yang lebih lemah dari dua anak perusahaan terbesarnya, Airtel dan Telkomsel, serta pergerakan mata uang yang merugikan. Penghasilan pra-pajak dari operasi regional Singtel turun 24,9% menjadi SGD488 juta.

Pendapatan operasional grup tergelincir 0,4% sepanjang kuartal dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi SGD4.33 miliar.

Pendapatan konsumen juga merosot 1,8% menjadi SGD2,41 miliar, dengan perputaran selular turun 3,4 persen menjadi SGD1,46 miliar. Perusahaan mengatakan, pendapatan selular stabil dalam mata uang konstan. Pertumbuhan data diimbangi oleh layanan suara yang lebih rendah dan pergeseran ke paket khusus SIM card.

Perusahaan itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa hasil-hasil Airtel dipengaruhi oleh persaingan yang ketat dengan harga agresif yang dipimpin oleh Reliance Jio di India. Penghasilan menurun meski Airtel mencatatkan peningkatan pelanggan bersih kuartalan tertinggi dan pertumbuhan penggunaan data yang kuat.

Kondisi yang sama juga terjadi di Indonesia. Pendapatan Telkomsel dipengaruhi oleh penurunan layanan legacy dan meningkatnya persaingan harga, terutama layanan data yang semakin memangkas margin keuntungan.
Kontribusi laba dari AIS di Thailand meningkat pada peningkatan pendapatan dan manajemen biaya. Globe di Filipina juga memberikan pertumbuhan pendapatan yang kuat karena meningkatnya pendapatan data dan pengendalian biaya.

Chua Sock Koong, CEO Singtel Group, mengatakan unit Australia Optus memperoleh pangsa pasar, menggarisbawahi jaringan dan strategi kontennya. Bisnis TIK dan digital grup menyumbang 24% dari pendapatan, dan unit bisnis digitalnya Amobee mencapai pertumbuhan dan EBITDA positif untuk tahun ini.

Di pasar dalam negeri sendiri, pendapatan Singtel dari bisnis selular turun 5,7% tahun-ke-tahun menjadi SGD302 juta, dipengaruhi oleh layanan suara yang sudah disubstitusi data, penurunan layanan roaming dan campuran paket SIM-saja yang lebih tinggi. Penjualan device juga turun 4,1% menjadi SGD77 juta.

Pelanggan ponselnya turun 1,7% tahun-ke-tahun menjadi 4,09 juta pada akhir Maret, dan ARPU campuran turun 4,3% menjadi SGD44.

Meski pendapatan dari layanan selular turun, namun pendapatan operasi di bisnis Digital Life Singtel melonjak 62% dari Q4 2017 menjadi SGD205 juta pada kuartal terakhir dan EBITDA berada di titik impas, terangkat oleh kredit biaya konten satu kali dan hibah pemerintah.

Penghasilan Amobee meningkat karena meningkatkan skala dan sinergi dengan platform pemasaran Turn, yang diakusisi pada April 2017. Layanan streaming video selulernya HOOQ mempersempit kerugiannya dengan biaya konten yang lebih rendah dari renegosiasi kontrak konten.

Baca juga: Singtel Lebih Banyak Keruk Keuntungan dibandingkan Pemerintah Indonesia?

Untuk tahun fiskal penuh, laba bersih grup naik 41,5% menjadi SGD5,45 miliar, rekor untuk perusahaan, yang dikatakan didorong oleh keuntungan dari divestasi NetLink Trust dan kinerja yang kuat oleh bisnis intinya. Pendapatan naik 5% menjadi SGD17.53 miliar.