Friday, April 10, 2020
Home News Selain Praktis, Mobile Payment Juga Tingkatkan Loyalitas Konsumen

Selain Praktis, Mobile Payment Juga Tingkatkan Loyalitas Konsumen

-

mobile-payment smartphone

Jakarta, Selular.ID – Delapan tahun yang lalu, Starbucks mengembangkan aplikasi sendiri untuk sistem pembayaran secara mobile. Hingga saat ini, sistem pembayaran tersebut dianggap sebagai sebuah standar emas di Amerika Serikat.

Namun, di pasar Asia yang perkembangannya sangat pesat, situasinya sedikit berbeda dan dapat dikatakan bahwa pembayaran mobile lebih maju delapan hingga sembilan tahun dibandingkan di negara-negara barat.

Di Tiongkok, pelanggan dapat membayar segalanya secara mobile, mulai dari taksi hingga minuman Mojito ataupun keperluan lainnya seperti tagihan listrik. Pada tahun 2015, WeChat tercatat telah melakukan lebih banyak transaksi finansial dalam waktu satu hari dibandingkan dengan PayPal yang melakukannya dalam waktu 12 bulan.

Namun, Tiongkok bukanlah satu-satunya negara yang mengadopsi tren tersebut. Pembayaran secara mobile juga membuat terobosan besar di Asia Tenggara, dengan semakin populernya aplikasi belanja online. Di Singapura sendiri terdapat 30.000 ritel yang menerima metode pembayaran non-tunai seperti Apple Pay, Android dan Samsung Pay.

Di Indonesia, negara terpadat di wilayah Asia Tenggara dengan 250 juta penduduk, sebagian besar penyedia ritel tradisionalnya kini tengah menerapkan wadah e-commerce-nya mereka sendiri. Pada penelitian terbaru GfK: The Connected Asian Consumer, konsumen di Singapura dan Indonesia cukup sering menggunakan aplikasi-aplikasi belanja online (masing-masing mencapai 37 dan 35 persen). Pertumbuhan ini pun didorong oleh meningkatnya smartphone dengan harga yang terjangkau, luasnya populasi kaum muda yang mengerti teknologi serta upaya pemerintah dan para operator telekomunikasi untuk memperluas dan meningkatkan jaringan high-speed wireless mereka.

Masa yang akan datang tidak pernah pasti. Ini hanyalah masalah waktu hingga teknologi pembayaran secara mobile bisa menjadi semakin umum atau mainstream. Namun sayangnya bagi para pelaku ritel tradisional, era e-commerce juga melahirkan tipe konsumen baru yang disebut sebagai ‘Connected Consumer’ atau konsumen yang terhubung– dan perilaku merekalah yang akan membentuk masa depan pasar ritel.

Dalam survei GFK FutureBuy tahun 2016 yang melibatkan 20.000 konsumen dari 20 pasar, ditemukan bahwa konsumen kini tidak lagi setia hanya kepada satu toko ritel saja. Hampir setengah (46 persen) dari semua konsumen (usia 14-65 tahun) menyatakan bahwa mereka kurang setia ketika berbelanja. Angka ini meningkat hingga 53 persen di antara konsumen muda yaitu Gen Y (18-29 tahun) dan 6 dari 10 orang (58 persen) pada Gen Z (14-17 tahun).

Bagi ritel yang sudah mengerti segmen Connected Consumer ini, terdapat banyak peluang agar dapat tetap memenangkan kompetisi – dan pembayaran secara mobile merupakan bagian yang sangat besar dari ini semua.

Gfk memprediksi bahwa pembayaran secara mobile dapat menghambat tren menurunnya kesetiaan pembeli. Hal ini sangat masuk akal karena ada sejumlah keuntungan bagi para pembeli: menghindari antrian, memprioritaskan reward bagi pembeli yang setia, memeriksa ketersediaan barang, memesan barang terlebih dahulu, menikmati penawaran yang bisa disesuaikan dan kemudahan dalam membandingkan harga.

Dengan sistem pembayaran secara mobile yang terus berkembang di Asia Pasifik, bisnis di berbagai sektor seperti layanan finansial, keamanan cyber dan telekomunikasi akan tahan berdiri dan dapat berevolusi untuk mendukung bentang pasar yang terus berubah.

Contohnya, bagi operator telekomunikasi, bekerjasama dengan pedagang dan rekan ritel secara keseluruhan dapat memperkuat ekosistem dalam memberikan pelayanan pengalaman pengguna (end user) yang lebih baik bagi konsumen. Selain itu, rancangan dan pengembangan layanan pembayaran juga dapat diintegrasikan dengan teknologi berkembang lainnya, dan kompetensi untuk menawarkan diferensiasi kepada sasaran-sasaran yang sudah ditargetkan.

Pembayaran secara mobile juga menawarkan kesempatan bagi ritel kecil untuk bergerak pindah ke era baru ritel. Terbebas dari biaya transaksi yang tinggi dan dengan cara-cara baru untuk dapat terhubung langsung dengan konsumen, ritel kecil kini dapat dengan bebas mengatur dan mengincar khayalak konsumen mereka yang biasanya perlakuan istimewa tersebut hanya dapat dilakukan oleh pelaku ritel besar.

Dengan e-commerce yang akan terus berkembang, banyak potensi bagi bisnis ritel untuk memanfaatkan intelijensi riset agar dapat merancang dan mengembangkan strategi yang lebih baik dalam mengincar grup konsumen baru ini. Pada dasarnya, kunci suksesnya adalah sepenuhnya harus memahami perilaku konsumen dan mengikuti apa yang diinginkan oleh konsumen tanpa dibutakan oleh kemampuan teknologi itu tersendiri.

TERBARU

Bantu Tunanetra, Google Luncurkan Braille Keyboard ‘Talkback’

Jakarta, Selular.ID - Google baru saja mengumumkan keyboard yang baru diluncurkannya, yakni sejenis Braille. Papan...

Menilik Lebih Dalam Kemampuan Kamera Oppo Find X2 Series...

Jakarta, Selular.ID - Besaran Megapiksel tak selalu menjadi tolak ukur kualitas kamera, melainkan ada...

Huawei Mempertimbangkan Chipset 5G dari Samsung dan MediaTek

Jakarta, Selular.ID - Larangan perdagangan antara Huawei dan AS mempengaruhi kedua belah pihak. Banyak...

Latest