Monday, March 30, 2020
Home News Transaksi Mobile Payment Di Indonesia Masih Tertinggal, Mengapa?

Transaksi Mobile Payment Di Indonesia Masih Tertinggal, Mengapa?

-

brata rafly dimo

Jakarta, Selular.ID – Transaksi cashless sekarang sudah sangat berkembang. Singapura merupakan negara tertinggi dalam penggunaan cashless, dengan jumlah transaksi 61 persen, diikuti dengan Belanda dengan jumlah 60 persen. Di Indonesia, walau masih kalah penggunanya saat ini, jumlah pengguna cashless meningkat pesat, contohnya dalam penggunaan e-money yang untuk pembayaran transportasi. Salah satu metode pembayaran cashless yang sedang digenjot adalah melalui perangkat genggam.

Dilihat dari kesiapan, keinginan menggunakan, dan jumlah pengguna pembayaran mobile, Indonesia masih tertinggal dari negara lainnya. Padahal, masyarakat kita sudah familiar dengan perangkat telekomunikasi. Saat ini tercatat ada 160 juta pengguna ponsel dan ada 300 juta lebih kartu SIM yang terdata beredar di Indonesia.

Brata Rafly, CEO Dimo Pay Indonesia, meyakini bahwa pertumbuhan transaksi dari sisi mobile payment di Indonesia bisa terus meningkat, seperti India dan China, di mana kedua negara itu juga sama-sama memiliki mobile usage yang besar namun populasinya masih banyak yang belum mempunyai rekening bank.

Bahkan bila dibandingkan dengan negara tetangga, Thailand, pertumbuhan mobile transaction kita masih tertinggal. Pertumbuhan transaksi mobile di Negeri Gajah Putih tersebut sudah mencapai 30 persen. Padahal bila dilihat dari produk domestik bruto (GDP), nilai Thailand tidak lebih dari setengah dibandingkan Indonesia. Lantas, kenapa mobile transaction Indonesia belum take off?

“Hal ini karena pemain mobile payment masih bersifat eksklusif seperti khusus bank tertentu, telco tertentu, teknologi tertentu, atau juga merchant tertentu,” kata Brata.

Ia mencontohkan, penyedia layanan mobile payment kebanyakan tersedia secara khusus untuk produknya saja, misalkan mobile payment untuk parkiran, untuk coffee shop, untuk belanja di departement store, dan masih banyak lagi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena tidak bisa sepenuhnya diakses oleh penduduk Indonesia yang tidak berlangganan suatu produk. Lain hal dengan China.

“95 persen market di China pakai aplikasi WeChat sehingga distribusinya majority. Ujung-ujungnya mobile payment bukan sekedar aplikasi tapi platform agregat yang mendorong merchant ecosystem,” jelasnya.

“Tantangan, dan juga peluang, terbesar industri fintech di Indonesia saat ini adalah untuk memperkenalkan sebuah teknologi layanan keuangan bersifat agnostis dan inklusif yang dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” lanjutnya. “Semakin eksklusif, semakin terpisah-pisah, semakin sulit bertumbuh, dan semakin kecil kemungkinan teknologi tersebut untuk diadopsi secara masal.”

Dimo sendiri memiliki fokus untuk menghadirkan pengalaman transaksi keuangan melalui teknologi Quick Response (QR) Code. Berbeda dengan layanan pembayaran lain, konsep Pay by QR yang dikedepankan Dimo bersifat inklusif, dimana Dimo menyediakan sebuah “bahasa” yang dapat digunakan oleh sumber dana manapun (bank, telko, e-wallet), pengguna smartphone dengan brand mana pun, dan juga merchant apa pun.

Latest