Jumat, 19 April 2024

‘Tak Benar Murahnya Biaya Perangkat Jadi Alasan Tarif Interkoneksi Turun Signifikan’

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

ririek telkomsel

Jakarta, Selular.ID – Rencana penurunan tarif interkoneksi hingga kini masih menjadi polemik. Meski Telkomsel tidak menyetujui rencana penurunan tarif secara signifikan, Menkominfo Rudiantara menegaskan bahwa tarif interkoneksi yang baru diharapkan sudah ditetapkan pada Juni 2016.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri yang akrab dipanggil Chief RA ini mengungkapkan siap menurunkan tarif hingga 25% dibandingkan dengan tarif sebelumnya. Sesuai dengan ketentuan, biaya interkoneksi setiap dua tahun direview, dan sudah dua kali hanya single digit turunnya. Ia memastikan bahwa penurunannya kali ini harus signifikan, disesuaikan dengan kondisi industri saat ini.

Disebut-sebut salah satu alasan yang mengemuka dalam rencana penurunan tarif interkoneksi ini adalah semakin murahnya biaya perangkat. Direktur Intercarrier, Government and Regulator Relation Hutchison Tri Indonesia (H3I) Chandra Hawan Aden mengungkapkan tarif interkoneksi merupakan bagian dari hak pelanggan, sehingga diharapkan tarif tersebut dapat turun dan berimbas penurunan pada tarif off net.

“Interkoneksi itu hak dari pelanggan, jangan dibatasi satu wilayah operator saja. Saya rasa jika dihitung dari biaya, saat ini layanan voice sudah lebih murah, apalagi titik berat operator saat ini adalah layanan data,” ujarnya dalam satu kesempatan.

Chandra menambahkan,  perkembangan teknologi kini sudah semakin efisien dan semakin murah. Dia pun menekankan, jika nantinya tarif interkoneksi turun tidak akan berdampak pada revenue perusahaan.

“Sekitar setengah lebih revenue perusahaan berasal dari layanan data, sehingga tidak akan berdampak jika tarif interkoneksi turun,” tambah Chandra.

Benarkah kemajuan teknologi selular yang semakin efisien, menjadi alasan paling utama bagi operator challenger agar regulator segera menurunkan biaya interkoneksi? Pernyataan tersebut rupanya dibantah langsung oleh Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah.

Ririek mengakui bahwa harga unit perangkat jaringan memang turun. Namun itu bukan berarti investasi mereka akan menurun. Justru kata Ririek, hal itu adalah kesempatan untuk lebih memperluas jangkauan sekaligus memperkuat kapasitas.

“Pertama, perangkat itu ada umur pakai. Kedua, butuh tambahan kapasitas. Ketiga, kita butuh nambah coverage. Unit price turun tapi volume tambah banyak. Kita dalam 3-5 tahun terakhir  membangun lebih cepat dibanding 10 tahun terakhir karena pertumbuhan data yang eksponensial,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Ririek, nature bisnis selular mengharuskan operator untuk terus menambah investasi dalam kondisi apa pun. Investasi yang besar mau tak mau harus terus digelontorkan agar pelanggan dapat menikmati layanan prima, sehingga perusahaan dapat terus kompetitif.  Credo ini pula yang mengharuskan Telkomsel menyediakan Capex yang tak pernah turun, rata-rata Rp 12 – 14 triliun per tahun. Sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan BTS.

Agresifitas inilah yang pada akhirnya membuat Telkomsel jauh meninggalkan kompetitornya. Telkomsel saat ini telah membangun 116 ribu BTS. Gabungan BTS milik dua operator terdekatnya bahkan tak mampu menyamai Telkomsel. Sebab Indosat hanya punya 53 ribu BTS dan XL Axiata 59 ribu BTS.

“Saat ini perhitungan interkoneksi yang masih berlaku adalah berbasis biaya. Acuan pada cost,  memang yang paling fair. Karena jelas, operator yang punya 10 BTS dan 100 BTS, biaya yang dikeluarkan pasti beda”, katanya.

Ririek kembali menegaskan bahwa komponen biaya interkoneksi terhadap ritel itu kecil sekali.  Dengan sendirinya, rencana penurunan 25% biaya interkoneksi dari 15% tarif ritel saat ini yang dibebankan kepada pelanggan,  yang berkisar di angka Rp 1.500 – Rp 2.000 per panggilan lintas operator, dinilai tidak akan signifikan.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU