spot_img
BerandaHeadlinePenurunan Tarif Interkoneksi Secara Signifikan Tidak Relevan

Penurunan Tarif Interkoneksi Secara Signifikan Tidak Relevan

-

IMG_0097Jakarta, Selular.ID – Wacana pernurunan biaya panggilan lintas operator terus bergulir. Menkominfo pun berharap tariff interkoneksi ini turun signifikan minimal 10 persen. XL Axiata bahkan berhrap  tariff teersebut turun hingga 40 prsen.

Menanggapi hal tersebut, Ian Yoseph dari Center for Telecommunication Policy and Regulatory ITB dalam kajiannya menyebutkan penurunan tariff interkoneksi harus signifikan agar sesuai dengan kondisi saat ini dan sesuai keseimbangan industry tidak relevan.

“Kenaikan atau penurunan tariff interkoneksi itu harus disesuaikan dengan kondisi biaya investasi masing-masing operator yang harusnya tercermin dari hasil perhitungan tariff interkoneksi yang dilakukan Pemerintah,” ungkapnya.

Penurunan tariff interkoneksi yang signifikan diharapkan menkominfo kan berdampak pada benefit yang dirasakan oleh masyarakan berupa penurunan tariff ritel.

Sebagai informasi saat ini tarif retail panggilan off-net bervariasi berkisarRp 1500-an permenit dan biaya interkoneksi yang dibayarkan operator asal kepada operator tujuan sebesarRp 250 per menit, sehingga keuntungan yang diperoleh minimal Rp 1000 setelah dikurangi biaya jaringan operator asal yang melakukan panggilan.

Tarif interkoneksi memang mempengaruhi besaran tarif retail yang dibebankan ke pelanggan yang melakukan panggilan lintas operator. Saat ini tariff interkoneksi yang diberlakukan di Industri hanya di bawah 20% dari tarif retail lintas operator yang dibayarkan oleh pelanggan (biaya interkoneksi Rp 250 terhadap tarif retail lintas operator Rp 1500).

Baca juga :  Ini Alasan Merger Operator Seluler Tidak Terbentur Aturan Persaingan Usaha

Semestinya kenaikan ataupun penurunan tariff interkoneksi tidak perlu menjadi polemik, karena kenaikan atau penurunan tariff interkoneksi hingga 100% pun tidak terlalu berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh operator karena panggilan lintas operator yang dilakukan pelanggannya.

Sementara itu Muhammad Ridwan Effendi, Mantan Komisioner BRTI mengatakan bahwa biaya investasi total harus diperhitungkan dalam perhitungan tariff interkoneksi. Perhitungannya seharusnya menggunakan metode asimetris seperti yang diamanatkan dalam PM No.8/2006.

Baca juga :  Sambut Pembukaan Pariwisata Bali, XL Axiata Mulai Kenalkan Jaringan 5G

Terkait berapa besaran tariff interkoneksi yang ideal Ridwan menyarankan untuk melihat data investasi yang ada. “ Saya pikir direktorat telekomunikasi sudah punya data investasi semua operator, tinggal dimasukkan ke formula hasilnya berapa itu yang jadi patokan ungkapnya.

Lebih lanjut Ridwan menyampaikan operator seharusnya tetap membangun jaringan bukannya menyalahkan tarif interkoneksi atas tingginya beban yang harus mereka tanggung.

 

spot_img

Artikel Terbaru