Selular.ID – Sejak era Orde Baru hingga kini, perekonomian Indonesia sejatinya masih dikuasai oleh sejumlah konglomerat. Kehadiran konglomerat ini bermula pada akhir 1960 hingga 1970-an.
Kebijakan ekonomi pemerintah yang fokus pada pembangunan nasional membuka peluang emas bagi para pengusaha perintis untuk membangun kerja sama strategis dengan kekuasaan politik guna mengembangkan bisnis skala besar.
Dukungan tersebut membuat jaringan bisnis para para taipan itu semakin menggurita. Mereka dengan leluasa, masuk ke berbagai sektor strategis yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.
Mulai dari energi, pertambangan terutama batubara, perkebunan, petrokimia, perbankan, telekomunikasi, hingga barang konsumsi.
Para taipan utama di Indonesia diantaranya adalah Low Tuck Kwong (pendiri perusahaan tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk), Prajogo Pangestu (pemilik grup Barito Pacific, Chandra Asri (petrokimia) dan Barito Renewables (energi terbarukan), Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono (pemilik Grup Djarum, pemegang saham mayoritas BCA, dan produsen elektronik Polytron).
Kemudian ada Anthoni Salim dan keluarga (pimpinan Salim Group yang menguasai berbagai sektor mulai dari makanan (Indofood) hingga perkebunan dan ritel, Tahir dan Keluarga (pendiri Mayapada Group yang bergerak di bidang perbankan, kesehatan, dan media.
Ada juga Sri Prakash Lohia (pendiri dan pemilik Indorama Corporation yang berfokus pada industri tekstil dan petrokimia global), dan Oto Toto Sugiri (pelopor pusat data dan pendiri PT DCI Indonesia Tbk).
Nama lain adalah Chairul Tanjung (pemilik CT Corp yang menaungi bisnis media, perbankan/Bank Mega, dan pusat perbelanjaan/Trans Mart, Djoko Susanto (pendiri dan pemilik Alfamart Group), serta Martua Sitorus (salah satu pendiri Wilmar International yang bergerak di bidang agribisnis dan minyak kelapa sawit).
Dari deretan konglomerat itu, jangan lupakan pemilik dan pendiri konglomerasi Artha Graha Group,Tomy Winata. Grup bisnis ini memiliki sejumlah anak perusahaan yang bergerak di berbagai sektor utama, mulai dari perbankan (Bank Artha Graha Internasional), properti (pengembang kawasan SCBD), perhotelan, hingga agrobisnis, dan ritel.
Tengok juga kiprah konglomerat lain, yaitu Lippo Group. Seperti kita ketahui, Lippo adalah salah satu kelompok bisnis konglomerat terbesar dan paling beragam di Asia yang didirikan oleh pengusaha Mochtar Riady.
Grup usaha yang kini dipimpin oleh James Riadi – anak tertua Mochtar – bergerak di berbagai sektor utama seperti properti, layanan kesehatan, ritel, pendidikan, hingga media.
Lihat juga kiprah konglomerat muda, Hary Tanusudibjo, pendiri MNC Group. Sejak didirikan pada 1989, lini bisnis MNC Group menyebar ke berbagai bidang, mulai dari media dan entertainment, jasa keuangan, energy, hingga properti mewah.
Terakhir tentu saja adalah Grup Sinar Mas. Dari deretan konglomerat yang tetap bersinar di Indonesia, kelompok usaha ini punya rekam jejak yang unik, karena menjadi satu-satunya konglomerat yang bertahan di industri telekomunikasi.
Perjudian Sinar Mas di Smartfren
Berdiri sejak 3 Oktober 1938, tujuh tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, kegiatan usaha Sinar Mas awalnya mengelola produk makanan dan terus berkembang dengan pesat hingga kini.
Dalam beberapa dekade kemudian, grup perusahaan yang didirkan oleh Eka Cipta Widjaya itu, merambah ke berbagai sektor strategis.
Mmulai dari pulp dan kertas, agribisnis dan pangan, layanan keuangan, pengembang dan real estate, telekomunikasi, energi dan infrastruktur, hingga layanan kesehatan.
Khusus di sektor telekomunikasi, masuknya Sinar Mas Group ditandai dengan pembentukan PT Smart Telecom (awalnya bernama PT Indoprima Mikroselindo/Primasel) pada 16 Agustus 1996.
Akibat krisis finansial dan penurunan penjualan, Mobile 8 Telecom (Smartfren) yang sebelumnya dikuasai oleh taipan sekaligus pemilik grup usaha MNC, Hari Tanoesudibyo, dilego kepada Sinar Mas pada November 2011. Oleh Sinar Mas, Smartfren kemudian dijadikan holding atau induk usaha dari PT Smart Telecom.
Masuknya Sinar Mas ke industri telekomunikasi bisa dibilang perjudian paling panjang yang dilakukan grup usaha tertua di Indonesia ini.
Pasalnya, sejak mengakuisisi Smartfren lebih dari dua dekade lalu, Smartfren menjadi satu-satunya operator dengan rapor yang kebanyakan tetap merah.
Padahal perusahaan yang sebelumnya bermarkas di jalan Sabang, Jakarta Pusat itu, telah lama berdiri, yaitu sejak 2002.
Berdasarkan laporan keuangan yang telah dipublikasikan, tercatat, Smartfren mencatat kerugian rata-rata sebesar Rp 2,1 triliun dalam 10 tahun terakhir. Sementara, kerugian terbesar terjadi pada 2018 mencapai Rp 3,55 triliun.
Sepanjang 2023, kinerja Smartfren juga menukik. Perusahaan harus menelan rugi bersih bersih sebesar Rp 108,9 miliar. Pencapaian itu berbanding terbalik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencetak laba sebesar Rp1,06 triliun.
Dapat dipastikan, “nafas kuda” Smartfren tak lepas dari dukungan induk usaha, yaitu Sinar Mas Group. Dukungan dana berlimpah, membuat Smartfren seolah kebal dari kebangkrutan.
Padahal konglomerat-konglomerat lain, seperti Bakrie Telecom (Esia), Lippo Group (Bolt dan Sitra), Berca Hardaya Perkasa (HiNet), dan Sampoerna (Ceria), telah tumbang di bisnis ini.
Peran Franky Widjaya Di Balik Bertahannya Smartfren
Tentu saja ada sosok utama di balik bertahannya Smartfren. Dia adalah Franky Widjaya.
Untuk diketahui, pasca wafatnya sang pendiri Eka Cipta Widjaya pada 2019, Sinar Mas dikelola oleh anak-anaknya, yaitu Teguh Widjaja, Franky Widjaja, Mukhtar Widjaja, dan Indra Widjaja.
Demi mengelola kerajaan bisnis itu, keempatnya berbagi peran. Teguh Widjaja mengelola pilar bisnis pulp and paper.
Mukhtar Widjaya memegang peran penting dalam pengembangan kelompok bisnis Sinar Mas (termasuk sektor properti/Sinar Mas Land – BSD).
Indra Widjaya mengelola berbagai lini strategis keluarga dan memegang kendali awal dalam sektor jasa keuangan.
Sementara Franky memimpin sektor agribisnis dan produk konsumen, dan pilar-pilar lainya.
Franky sendiri mulai terjun ke dunia bisnis sejak awal 1980-an, mengikuti jejak ayahnya, Eka Tjipta Widjaja.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Aoyama Gakuin, Jepang, pada 1979, ia langsung bergabung dalam berbagai lini usaha milik keluarga.
Pengalamannya cukup beragam, mencakup sektor pulp dan kertas, properti, bahan kimia, keuangan, pertanian, dan industri makanan.
Sejak 1982, Franky telah dipercaya menduduki berbagai posisi strategis di beberapa anak usaha Grup Sinar Mas.
Karier Franky semakin menonjol ketika ia dipercaya memimpin Golden Agri-Resources Ltd. (GAR) pada 1996.
Sebagai CEO GAR, Franky memimpin perusahaan agribisnis global terkemuka dan berkantor pusat di Singapura.
GAR berfokus terutama pada produksi minyak sawit, mengelola lebih dari setengah juta hektar perkebunan di Indonesia. Meski berkantor pusat di negeri tetangga, GAR beroperasi sebagai bagian dari Grup Sinar Mas.
Pengalaman panjang memimpin GAR, membuat Franky juga dipercaya di berbagai asosiasi.
Selain menjabat sebagai Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) untuk bidang agrobisnis, pangan, dan peternakan, ia juga menjabat Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI).
Di luar itu, Franky juga menjadi penasihat GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), anggota GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia), dan anggota Dewan Kehormatan AEI (Asosiasi Emiten Indonesia).
Meski secara formal, Franky kebagian mengurus sektor agribisnis dan produk konsumen, namun sejatinya bisnis Sinar Mas di sektor telekomunikasi juga menjadi tanggung jawabnya. Itu sebabnya, semua aktifitas bisnis Smartfren pada akhirnya bermuara pada Franky.
Bagaimana komitmen Franky berjuang membesarkan Smartfren tercermin dalam berbagai keputusan strategis yang menentukan mati hidupnya perusahaan.
Untuk diketahui, sebagai late comer, sejatinya tak mudah bagi Smartfren yang beoperasi di jaringan CDMA untuk bersaing dengan operator GSM yang sudah lebih dahulu established.
Apalagi tiga besar operator GSM, yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata telah menguasai 85% pangsa pasar.
Kerasnya persaingan membuat pemain-pemain CDMA mau tak mau banting harga. Namun hal itu justru menjadi boomerang.
Sejumlah operator berbasis CDMA di Tanah Air, akhirnya memutuskan menghentikan operasi dan menutup layanan.
Sebut saja, Flexi dan StarOne. Begitu pun dengan Esia. Pemain besar di segmen CDMA itu, tak kuat menanggung kerugian yang menggunung.
Memasuki 2015, Esia yang dimiliki oleh Bakrie Telecom akhirnya juga membekukan aktivitasnya. Alhasil, tinggal Smartfren yang masih aktif beroperasi.
Seperti halnya pemain-pemain WiMax, nasib operator CDMA tak ubahnya kelinci percobaan.
Selain kalah bersaing dengan operator GSM, pemicu lainnya adalah, bayangan kehadiran teknologi 4G (LTE), yang diperkirakan bakal menghentikan perkembangan teknologi CDMA yang ada saat itu.
Mau tak mau, Smartfren harus ikut arus, yakni menerapkan 4G LTE sebagai senjata untuk bersaing dengan operator GSM yang juga bersiap menggunakan teknologi yang sama. Padahal saat itu Smartfren sudah mengadopsi EVDO, yang merupakan teknologi lanjutan dari CDMA.
Dengan redupnya teknologi EVDO, direksi Smartfren yang dipimpin oleh Merza Fachys (kini direktur XLSmart) mengusulkan kepada pemegang saham untuk segera berinvestasi ke LTE, sesuai road map teknologi selular di dunia.
Meski kembali harus menggelontorkan dana investasi yang tak sedikit, bos Sinar Mas Franky Wijaya pada akhirnya menyetujui proposal yang diajukan oleh Merza.
Setelah guyuran investasi itu, Smartfren akhirnya bermigrasi ke 4G LTE dengan tetap mempertahankan jaringan bisnis CDMA.
Setelah melewati berbagai drama yang menguras energi dan sumber daya, Smartfren menjadi operator pertama di Indonesia yang menggelar layanan 4G LTE secara komersial pada Agustus 2015.
Operator yang sebelumnya identik dengan teknologi CDMA itu, memanfaatkan lebar kanal 30 Mhz di frekwensi 2.300 Mhz yang bisa digunakan untuk layanan 4G, setelah pemerintah menetapkannya sebagai teknologi netral.
Mendorong Langkah Merger Smartfren dengan XL Axiata
Upaya Sinar Mas mempertahankan Smarfren , menunjukkan kelompok usaha ini tak surut langkah, meski telah menggelontorkan dana investasi yang tak sedikit.
Belum termasuk menambal operational expenditure (Opex) yang jumlahnya tak sedikit, mengingat kinerja perusahaan lebih banyak rugi ketimbang untung.
Namun hal itu mencerminkan strategi jangka panjang perusahaan, walaupun banyak konglomerat lain memilih balik badan karena tak mampu mendanai anak perusahaanya.
Tentu ada alasan strategis di balik bertahannya Sinar Mas di industri telekomunikasi. Meski harus menggelontorkan dana yang tak sedikit untuk menopang Smartfren.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, konglomerat yang berkantor pusat di Sinar Mas Land Plaza, Jl. MH Thamrin – Jakarta Pusat itu, tengah berupaya untuk membangun ekosistem digital yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Seperti divisi-divisi yang telah menjadi mesin uang, telekomunikasi menjadi salah satu pilar bisnis utama yang sangat penting untuk mendukung unit bisnis lainnya, menciptakan efisiensi, serta menangkap peluang emas dari pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Meski demikian, beragam tantangan yang dihadapi ke depan tidaklah mudah.
Pasalnya, industri telekomunikasi adalah sektor padat modal (high capital ) yang membutuhkan belanja modal (Capex) sangat besar secara terus menerus untuk membangun, merawat, dan memutakhirkan infrastruktur jaringan seperti serat optik, menara BTS, pusat data, dan lisensi spektrum frekuensi yang terbilang mahal.
Industri ini juga sangat membutuhkan talenta digital yang kompeten untuk mengelola transformasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), cloud computing, dan infrastruktur jaringan 5G yang kritikal untuk mendorong transformasi digital lebih masif di berbagai sektor bisnis, lembaga, dan pemerintahan.
Keahlian khusus ini penting agar perusahaan mampu beradaptasi, meningkatkan daya saing, dan memperluas konektivitas digital secara optimal.
Alhasil, seperti halnya tren di dunia, langkah konsolidasi antar operator di Indonesia juga menjadi keniscayaan. Dalam berbagai kasus, merger operator telekomunikasi selalu berdampak positif bagi kesehatan indusrtri.
Kaena penggabungan usaha dapat meningkatkan efisiensi biaya operasional dan infrastruktur, menciptakan persaingan pasar yang lebih sehat, serta mempercepat pengembangan teknologi baru seperti jaringan 5G.
Itu sebabnya, setelah aksi merger antara Indosat Ooredoo dan Tri Hutchison yang melahirkan entitas baru Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) pada 2020, Franky Widjaya getol mendorong agar Smartfren juga bisa bergabung dengan XL Axiata.
Langkah strategis itu pun terwujud. Pada awal 2025, Smartfren dan XL Axiata memutuskan untuk merger. Kesepakatan penggabungan kedua operator itu, memunculkan entitas baru, bernama XLSmart.
Dengan penggabungan itu, operator selular di Indonesia kini tinggal tersisa tiga, yaitu Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), dan XLSmart.
Setelah merger, Smartfren yang sebelumnya identik dengan operator telekomunikasi, kini berubah menjadi brand di bawah naungan XLSmart.
Transformasi Smartfren sebagai brand resmi diperkenalkan di Jakarta, Selasa (9/6/2026), lewat kampanye “Jagoan Sinyal Se-Indonesia”.
Dengan kampanye itu, Smartfren berupaya memperkuat positioning di benak konsumen, meningkatkan persepsi kualitas jaringan, serta menghadirkan pengalaman internet yang semakin relevan dengan kebutuhan digital masyarakat Indonesia.
Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya XLSmart memperkuat network leadership melalui penguatan cakupan jaringan, termasuk pengembangan 5G Blanket di banyak kota di Indonesia.
XLSmart menargetkan perluasan jaringan 5G dengan konsep blanket (blanket coverage) di 88 kota dan kabupaten di Indonesia pada akhir 2026, sesuai komitmen perusahaan kepada pemerintah.
Pendekatan ini bertujuan memberikan cakupan sinyal 5G yang merata di seluruh area kota, bukan hanya di titik-titik tertentu.
Hal itu sejalan dengan upaya memperkuat posisi sebagai perusahaan telekomunikasi yang paling dicintai pelanggan melalui layanan yang lebih dekat, andal, dan relevan dengan kebutuhan pelanggan sehari-hari.
Upaya Franky Widjaya mendorong penggabungan kedua perusahaan pada akhirnya tak sia-sia. Kinerja PT XLSmart pasca merger menunjukkan hasil yang sangat solid dan tumbuh double digit.
Pendapatan sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp42,5 triliun (naik 23% YoY), dan terus berlanjut pada kuartal pertama 2026 dengan perolehan pendapatan Rp11,84 triliun atau tumbuh 38%.
Di titik ini, arah perusahaan kini terlihat lebih cerah. Rapor yang sebelumnya merah berubah menjadi hijau, tanda sehatnya anak usaha itu.
Setelah genap tiga dekade masuk ke industri telekomunikasi, Franky Widjaya pada akhirnya bisa tersenyum.
Senyum Franky bertambah lebar karena kualitas jaringan 5G XLSmart telah mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi, sebagai “The Best 5G in Indonesia”, berturut-turut dari lembaga survey jaringan dan konektivitas terkemuka di dunia, yaitu Ookla, Open Signal, dan terakhir dari NPerf.
Baca Juga: Sinar Mas Land Bangun Ekosistem AI BSD City lewat mBrace


