Selular.ID – Pernah membuka media sosial hanya untuk beberapa menit, tetapi tanpa sadar sudah menghabiskan waktu jauh lebih lama?
Sulit berhenti scrolling media sosial ternyata bukan semata-mata persoalan kurang disiplin, tetapi berkaitan dengan cara otak merespons stimulasi serta desain aplikasi yang mempertahankan perhatian pengguna.
Aplikasi media sosial modern menawarkan aliran konten nyaris tanpa batas.
Rasa penasaran terhadap unggahan berikutnya membuat pengguna terus menggeser layar meskipun awalnya tidak memiliki tujuan tertentu.
Baca juga:
- Warga Indonesia Mulai Muak Media Sosial, Dampak Buruk Melonjak 19 Poin
- Orang Tua yang Sering Unggah Foto Anak di Media Sosial Dianggap Kurang Melindungi Diri
Melansir dari Penn Foundation, dopamin memiliki peran dalam membentuk pola tersebut.
Senyawa kimia di otak berkaitan dengan antisipasi terhadap sesuatu yang baru, sehingga memperbarui lini masa dapat terasa seperti mencari kejutan berikutnya.
Kombinasi antara rasa penasaran, konten baru, dan kepuasan instan inilah yang membuat scrolling mudah berubah menjadi kebiasaan otomatis.
Infinite Scroll Bikin Pengguna Lupa Waktu
Salah satu fitur yang memperkuat kebiasaan tersebut adalah infinite scroll.
Tidak seperti buku yang memiliki akhir halaman atau tayangan yang memiliki penutup, pengguna media sosial dapat terus menemukan konten baru tanpa batas alami untuk berhenti.
Dorongan pembandingan sosial juga ikut berperan.
Unggahan mengenai keberhasilan, gaya hidup hingga aktivitas orang lain dapat mendorong pengguna terus memeriksa ponsel karena takut tertinggal informasi atau fear of missing out (FOMO).
Konten yang membangkitkan emosi kuat seperti kemarahan, kejutan dan rasa penasaran juga lebih sulit diabaikan.
Akibatnya, seseorang bisa terus scrolling meskipun konten yang dilihat tidak membuatnya merasa lebih baik.
Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat mengganggu konsentrasi karena perhatian terus berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya.
Paparan informasi berlebihan juga dapat memicu kelelahan mental, mengganggu produktivitas hingga membuat waktu tidur terpangkas karena pengguna terus menatap layar.
Cara Berhenti Scrolling Media Sosial
Mengurangi scrolling tidak berarti harus menghapus seluruh aplikasi media sosial.
Pengguna bisa memulainya dengan menciptakan batas yang sebelumnya dihilangkan oleh desain aplikasi.
Salah satu cara sederhana adalah memasang timer, misalnya selama 10 menit sebelum membuka media sosial. Ketika alarm berbunyi, pengguna dapat menjadikannya sebagai tanda untuk menutup aplikasi.
Ikon media sosial juga bisa dipindahkan dari layar utama ke dalam folder.
Langkah sederhana tersebut menambah satu tahapan sebelum aplikasi dibuka sehingga mengurangi kebiasaan mengetuk aplikasi secara refleks.
Sebelum membuka media sosial, tanyakan pula apa tujuan menggunakan aplikasi tersebut.
Jeda beberapa detik dapat membantu membedakan penggunaan yang memang disengaja dengan kebiasaan membuka ponsel secara otomatis.
Algoritma juga dapat “dilatih” dengan lebih selektif memilih konten.
Menyembunyikan unggahan yang memicu stres dan lebih banyak berinteraksi dengan konten bermanfaat dapat mengubah karakter lini masa.
Penggunaan aktif seperti mengirim pesan atau berinteraksi dengan orang lain juga dapat menjadi pilihan dibandingkan sekadar mengonsumsi konten tanpa henti.
Aktivitas di luar layar tetap menjadi penyeimbang penting.
Membaca buku fisik, berjalan kaki tanpa membawa ponsel atau melakukan kegiatan lain tanpa gangguan notifikasi dapat membantu mengembalikan perhatian ke dunia nyata.
Pada akhirnya, memahami alasan sulit berhenti scrolling media sosial menjadi langkah awal untuk mengendalikannya.
Teknologi memang dirancang untuk mempertahankan perhatian, tetapi pengguna tetap dapat menciptakan batas agar algoritma tidak mengambil terlalu banyak waktu, fokus, dan energi sehari-hari.


