Selular.ID – Pandangan masyarakat Indonesia terhadap dampak media sosial bagi demokrasi berubah tajam.
Survei terbaru Pew Research Center menunjukkan 43 persen warga Indonesia kini menilai media sosial berdampak buruk terhadap demokrasi, melonjak 19 poin persentase dibandingkan 2023.
Survei yang dirilis 1 Oktober 2026 dan mencakup 37 negara itu menunjukkan masyarakat dunia mulai semakin kritis terhadap media sosial.
Secara global, median 55 persen responden masih melihat media sosial berdampak positif bagi demokrasi, sementara 35 persen menilainya buruk.
Baca juga:
- Pemerintah Wacanakan Pemilik Media Sosial Harus Sudah Punya KTP
- Orang Tua Wajib Tahu Risiko Sharenting yang Dilakukan Anak di Media Sosial
Indonesia masih berada di kelompok yang mayoritas berpandangan positif. Namun, tren perubahannya patut menjadi perhatian karena terjadi cukup cepat.
Pada 2023, sebanyak 64 persen warga Indonesia menilai media sosial baik bagi demokrasi dan hanya 24 persen berpandangan sebaliknya.
Kini, pandangan positif turun menjadi 55 persen, sedangkan penilaian negatif melonjak menjadi 43 persen.
Indonesia Mulai Khawatir Dampak Media Sosial
Perubahan tersebut memperlihatkan paradoks penggunaan media sosial di Indonesia.
Masyarakat mengakui manfaatnya sebagai sumber informasi dan ruang partisipasi, tetapi semakin menyadari risiko misinformasi serta polarisasi.
Sebanyak 77 persen warga Indonesia menilai media sosial membuat masyarakat lebih mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi.
Sebanyak 55 persen juga menganggap platform tersebut memberikan suara yang lebih bermakna dalam kehidupan politik.
Namun, 66 persen responden menilai media sosial mempermudah penyebaran informasi menyesatkan untuk memengaruhi pandangan masyarakat.
Tak hanya itu, 55 persen menilai media sosial justru membuat masyarakat semakin terpecah dalam pandangan politik.
Artinya, manfaat keterbukaan informasi masih dirasakan, tetapi kekhawatiran terhadap kualitas informasi dan polarisasi semakin besar.
Lebih Pesimistis Dibanding Negara Tetangga
Yang menarik, pandangan negatif masyarakat Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya.
Hanya 27 persen masyarakat Malaysia yang menilai media sosial buruk bagi demokrasi. Angkanya bahkan hanya 22 persen di Singapura, 23 persen di Filipina, dan 21 persen di Thailand.
Sebaliknya, optimisme terhadap media sosial masih mencapai 72 persen di Filipina, 71 persen di Thailand, 65 persen di Malaysia, dan 63 persen di Singapura.
Indonesia dengan tingkat pandangan positif 55 persen sekaligus menjadi salah satu yang paling kritis di antara negara-negara tersebut.
Media Sosial Jadi Pisau Bermata Dua
Besarnya peran media sosial dalam kehidupan politik Indonesia menjadi konteks penting di balik perubahan tersebut.
Platform digital tidak hanya menjadi sarana memperoleh informasi, tetapi juga ruang penyebaran narasi politik, informasi yang belum terverifikasi hingga konten yang berpotensi memecah masyarakat.
Menariknya, kelompok usia muda di Indonesia cenderung lebih positif terhadap media sosial dibandingkan kelompok yang lebih tua.
Temuan Pew tersebut pada akhirnya menunjukkan media sosial semakin menjadi pisau bermata dua bagi masyarakat Indonesia.
Di satu sisi, platform digital memperluas akses informasi dan partisipasi publik. Namun di sisi lain, semakin banyak masyarakat menyadari ancaman misinformasi dan polarisasi.
Lonjakan pandangan negatif dari 24 persen menjadi 43 persen hanya dalam tiga tahun menjadi sinyal bahwa tantangan Indonesia bukan lagi sekadar memperluas akses ke ruang digital, tetapi memastikan ruang tersebut tetap sehat, terpercaya, dan tidak berubah menjadi mesin pembelah masyarakat.


