Selular.ID – Siapa tak kenal dengan Electronic City (EC). Sebagai salah satu retailer eletronik modern terbesar di Indonesia, EC memiliki rekam jejak yang panjang.
Tahun ini saja, EC telah berusia 25 tahun. Wajar jika brand awareness EC sudah menancap cukup kuat di benak sebagian masyarakat Indonesia.
Kehadirannya ditandai dengan pembukaan toko standalone sekaligus toko pertama (flagship store) di Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta.
Toko tersebut bertahan hingga kini, sekaligus menjadi salah satu landmark SCBD.
Kawasan yang dikelola pengusaha kawakan Tomi Winata itu, juga semakin berkembang menjadi pusat bisnis terkemuka di selatan Jakarta.
Setelah toko pertama di SCBD, EC kemudian memperluas jaringan toko di luar Jabodetabek dengan membuka toko di Denpasar (Bali) pada 2004 dan Medan (Sumatera Utara) pada 2007.
Rajin melakukan ekspansi, gerai EC terus meluas ke kota-kota besar di Indonesia.
Hingga pertengahan 2026, total gerai EC sudah mencapai 62 toko. Pembukaan gerai nasional ke-62 berlangsung di Kiara Artha Park, Bandung, pada Rabu (10/8/2026).
Tak berlebihan dengan jumlah gerai sebanyak itu, menjadikan EC sebagai jaringan retailer elektronik modern terkemuka di Indonesia.
Pesatnya pertumbuhan EC sejalan dengan semakin bergesernya kebiasaan masyarakat dalam berbelanja produk-produk elektronik.
Alih-alih berkunjung ke pasar tradisional, masyarakat kini lebih menyukai berbelanja di toko elektronik bergaya ritel modern. Semacam pasar swalayan untuk barang-barang elektronik.
Banyak hal yang menjadikan kelebihan ritel modern di bandingkan toko elektronik tradisional. Seperti kenyamanan, tersedia banyak pilihan, penataan barang yang lebih rapi, dan harga yang pas tanpa tawar menawar.
Jika sedang beruntung, konsumen bisa memperoleh barang dengan harga promo. Lengkap dengan pilihan cara bayar, baik tunai maupun kredit.
Layanan lain bernilai tambah tentunya adalah garansi dari brand/prinsipal. Dengan garansi resmi, konsumen memperoleh perlindungan dari produk elektronik yang dibelinya.
Tengok juga layanan purna jual, seperti pengiriman dan pemasangan gratis di tempat tujuan.
Pendeknya, pengalaman berbelanja yang mendorong kepuasan pelanggan, menjadi nilai lebih gerai retail elektronik modern dibandingkan toko-toko tradisional.
Baca Juga: Erablue Buka Toko ke-300 di Cempaka Putih
Dari Agis, Electronic Solution, Hingga Best Denki
Menjadi retailer elektronik modern terbesar di Indonesia, membuktikan bahwa EC mampu bertahan dan terus berkembang di tengah pasar yang kompetitif.
Di sisi lain, pasar terus bergerak dinamis karena perubahan perilaku masyarakat yang umumnya dipicu oleh kemajuan teknologi, berubahnya regulasi dan massifnya publikasi media.
Padahal, EC bukan yang pertama. Pelopornya adalah Agis Superstore. Untuk diketahui, Agis diperkenalkan kali pertama pada 1997.
Sepanjang 2001 – 2005, EC bersaing ketat dengan Agis dalam memperebutkan pangsa pasar. Menawarkan beragam kelebihan, terutama dari sisi harga dan pelayanan, EC menjadikan persaingan dengan Agis sebagai momentum untuk terus berlari.
Namun memasuki 2006, EC dan Agis tak lagi melenggang berduaan. Datangnya dua raksasa baru, Electronic Solution (ES) asal Singapura dan Best Denki (BD) dari Jepang, mengubah landscape persaingan.
Apalagi hanya dalam tempo beberapa tahun saja, gerai keduanya terus meluas ke berbagai kota besar di Indonesia.
Berbeda dengan Agis yang malas berekspansi, manuver ES dan BD menyentak EC. Imbasnya persaingan pun semakin ketat.
Jakarta memang masih merupakan pasar yang seksi. Namun medan pertempuran sudah meluas ke berbagai kota di seluruh Indonesia.
Guna mengimbangi EC, ES mengambil langkah frontal. Anak perusahaan TT International Ltd Singapore itu, rajin membuka gerai. Tak hanya di ibu kota provinsi, namun juga kota kabupaten.
Tak ingin dipecundangi ES yang terus tancap gas, EC melakukan konsolidasi dan berupaya mengimbangi dengan pembukaan gerai-gerai di banyak kota.
Rajin berekspansi, membuat EC dan ES seolah dua kuda pacu yang terus berkejaran tanpa kenal lelah di medan pertempuran yang sama. Tengok saja pada akhir 2014, ES sudah memiliki 54 gerai dan EC punya 64 gerai.
Namun rivalitas sengit antara EC dan ES harus berakhir. Doyan membuka gerai baru membuat ES dibelit persoalan keuangan.
Kerugian yang menggunung, membuat manajemen tak mampu membayar kewajiban kepada para krediturnya.
Alhasil, PT TT Internasional Indonesia dinyatakan bangkrut pada 2016. Pailitnya TT dengan sendirinya membuat ES berhenti beroperasi.
Tumbangnya ES membuat EC semakin leading. Apalagi beberapa tahun kemudian, BD juga mengalami hal serupa.
Pada 31 Januari 2021, retailer elektonik yang kebanyakan tokonya berada di mal-mal kelas atas itu, berhenti beroperasi di Indonesia.
Senasib dengan ES, Pada 10 November 2022, PT Best Denki Indonesia resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
Tak dapat dipungkiri, pandemi covid-19 yang mewabah pada 2020, membuat banyak pelaku ekonomi terjerembab.
Penutupan mal akibat pembatasan aktivitas masyarakat, membuat BD semakin tak berdaya. Di sisi lain, pandemi membuat konsumen mulai beralih ke e-commerce.
Imbasnya, BD pun memilih menyerah. Padahal di masa jayanya, BD pernah memiliki 26 gerai yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia.
Dengan tumbangnya ES dan BD, praktis EC semakin di depan. Sejatinya masih ada beberapa pemain yang masih membayangi, sebut saja Seven Electronic dan Hartono. Namun dari sisi gerai, jumlahnya tidak signifikan dibandingkan EC.
EraBlue Raja Baru Retailer Electronic Modern Indonesia
Namun seperti kata pepatah, “patah tumbuh hilang berganti”, persaingan di dunia bisnis juga selalu dinamis. Selalu ada pemain baru yang mencoba peruntungan, mengingat prospek pasar yang besar.
Merujuk laporan Statista, sepanjang 2023 – 2028, pendapatan pasar elektronik konsumen di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat mencapai total $ 2,5 miliar (kenaikan rata-rata 11,82% per tahun).
Setelah kenaikan enam tahun berturut-turut, indikator ini diperkirakan mencapai rekor baru, yaitu sebesar $ 23,66 miliar pada 2028.
Itu sebabnya, pasca Agis, ES, dan Best Denki yang gulung tikar, pemain lain bermunculan. Kini kedidgayaan EC diuji dengan hadirnya dua pesaing baru, yaitu Yamada Best Electric (Best) dan Erablue.
Untuk diketahui, Best Electric Indonesia atau yang dikenal juga dengan Yamada Best Indonesia (YBI) secara resmi hadir di Indonesia sejak 2021.
Toko elektronik ini merupakan bagian dari Yamada Holding, sebuah retailer barang elektronik nomor satu di Jepang.
Hingga pertengahan 2026, Yamada Best Indonesia telah memiliki sembilan gerai elektronik yang tersebar di berbagai mal di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.
Seperti halnya Yamada Best, pembukaan toko menandai kiprah Erablue. Malah, jika dibandingkan Yamada Best, Erablue jauh lebih agresif, mengingatkan kita pada ES saat masa jayanya.
Yang bikin mencengangkan, hanya dalam tempo kurang dari empat tahun sejak kehadirannya, Erablue telah memiliki 300 gerai yang didirikan di kawasan-kawasan strategis, terutama di kota-kota tier dua dan tier tiga.
Pembukaan toko ke 300 berlokasi di Jl. Cempaka Putih Raya pada Jumat (28/8/206). Jumlah gerai sebanyak itu, resmi menempatkan Erablue sebagai raja retailer elektronik modern, mengalahkan EC.
Pencapaian gerai ke 300 menegaskan komitmen Erablue Electronics untuk terus memperluas jangkauan dan menghadirkan akses yang semakin dekat, mudah, dan terjangkau bagi masyarakat dalam memenuhi berbagai kebutuhan elektronik dan gadget.
Kecepatan Erablue membangun gerai tak dapat dilepaskan dari kompetensi dua perusahaan induk di belakangnya. Untuk diketahui, Erablue (PT Erablu Elektronik), merupakan perusahaan patungan Erajaya Digital dan The Gioi Di Dong dari Vietnam.
Kemitraan keduanya ditandai dengan pembukaan toko pertama di Indonesia, yang berlokasi di Ciledug, Tangerang (24//11/2022).
Demi menggaet konsumen, Erablue menawarkan beragam jurus. Erablue menawarkan produk terbaru dan terbaik dari merek elektronik konsumen terkenal dalam lingkungan modern yang ramah.
Pengalaman konsumen semakin ditingkatkan dengan menggabungkan budaya customer centric dari The Gioi Di Dong, peritel nomor satu di Vietnam dan inovasi digital terbaik dengan eksekusi ritel mutakhir dan standar visual merchandising dari Erajaya, pemilik Erafone, peritel ponsel nomor satu di Indonesia.
Secara khusus, Erablue menawarkan kepada pelanggan layanan purna jual yang luar biasa, dengan layanan yang belum pernah ada sebelumnya termasuk pengiriman dan pemasangan gratis dalam satu hari setelah pembelian.
Begitupun dengan penggantian produk one-to-one dalam waktu 15 hari setelah pembelian untuk produk elektronik konsumen dan peralatan rumah tangga kecil.
Selain itu, Erablue berkoordinasi erat dengan para brand/ principal terkait respons garansi produk yang cepat untuk mengurangi waktu yang biasanya diperlukan untuk perbaikan.
Erablue tidak hanya mengandalkan penjualan fisik, melainkan menyinkronkannya dengan platform digital di Web Resmi Erablue.
Integrasi ini memastikan harga yang transparan, ketersediaan stok yang akurat, serta kemudahan transaksi baik saat konsumen berbelanja dari rumah maupun datang langsung ke gerai.
Tak dapat dipungkiri, kombinasi harga kompetitif, kenyamanan lokasi, dan garansi pasca-beli yang andal, Erablue sukses menempatkan posisi sebagai raja baru dalam bisnis ritel elektronik modern di Indonesia, menggusur EC yang selama bertahun-tahun sebelumnya menjadi penguasa pasar.
Baca Juga: Sukses 200 Toko di Pinggiran Jabodetabek, Erablue Incar Jawa Barat dan Jawa Tengah


