Selular.ID – Pergantian Direktur Utama Telkom Indonesia dari Dian Siswarini kepada Nanang Hendarno memunculkan pertanyaan besar: apakah kinerja saham TLKM menjadi salah satu alasan Dian hanya bertahan sekitar 16 bulan memimpin Telkom?
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom pada 30 September 2026 resmi mengangkat Nanang, yang sebelumnya menjabat Direktur Network, menggantikan Dian. Dian sendiri memimpin Telkom sejak 27 Mei 2025 atau sekitar 16 bulan.
Menariknya, pergantian tersebut terjadi ketika saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berkode TLKM sedang berada dalam tekanan berat.
Pada perdagangan 30 September 2026, saham TLKM ditutup Rp2.290, turun 3,38% dalam sehari dan menyentuh level terendah Rp2.270. Rentang 52 minggunya berada antara Rp2.270 hingga Rp3.990.
Saham TLKM Jadi Sorotan di Akhir Era Dian
Pergerakan saham menjelang pergantian Direktur Utama cukup mencolok.
Pada 14 September 2026, TLKM masih berada di Rp2.690. Kemudian turun menjadi Rp2.560 pada 18 September, Rp2.470 pada 22 September, Rp2.370 pada 29 September dan akhirnya Rp2.290 pada 30 September 2026.
Artinya, hanya dalam sekitar dua pekan terakhir masa kepemimpinan Dian, saham TLKM kehilangan sekitar 15% nilainya.
Baca juga:
- Profil Nanang Hendarno, Dirut Baru Telkom dan Susunan Direksi TLKM
- Telkom Bangun Ekosistem Keberlanjutan di Klangon
Tekanan tersebut membuat pertanyaan mengenai kinerja pasar menjadi relevan, terlebih salah satu tugas utama manajemen perusahaan terbuka adalah menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Namun, menyimpulkan Dian dicopot karena harga saham TLKM turun juga terlalu dini.
Telkom dalam keterbukaan informasinya tidak menyatakan penurunan saham sebagai alasan pergantian.
Corporate Secretary Telkom bahkan menyebut perubahan pengurus tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum maupun keuangan perseroan.
Kinerja Keuangan Telkom Justru Tumbuh
Ada fakta lain yang membuat kesimpulan bahwa Dian diganti semata-mata karena kinerja perusahaan menjadi tidak sederhana.
Pada semester I-2026, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi Rp75,9 triliun, tumbuh 3,9% secara tahunan.
EBITDA meningkat 3,8% menjadi Rp37,5 triliun, sedangkan laba bersih naik 1,4% menjadi Rp10,6 triliun.
Laba bersih normalisasi bahkan tumbuh 6,2% menjadi Rp11,3 triliun. Arus kas operasional juga naik 7% menjadi Rp34,9 triliun.
Bisnis konsumen menunjukkan perbaikan. Pendapatan Telkomsel mencapai Rp55,6 triliun atau tumbuh 3,3%, sementara average revenue per user (ARPU) seluler naik 9% menjadi Rp45.600.
Dengan kata lain, terdapat anomali menarik menjelang berakhirnya kepemimpinan Dian: fundamental operasional menunjukkan pertumbuhan, tetapi harga saham justru berada di bawah tekanan.
Harga Saham Bukan Satu-satunya Ukuran Dirut
Harga saham perusahaan tidak sepenuhnya berada di tangan seorang Direktur Utama.
Pergerakan TLKM juga dapat dipengaruhi kondisi pasar modal, suku bunga, arus dana asing, sentimen terhadap sektor telekomunikasi, ekspektasi investor terhadap pertumbuhan hingga persepsi pasar terhadap aksi korporasi perusahaan.
Apalagi Telkom tengah menjalankan transformasi besar melalui TLKM 30.
Pada RUPSLB yang sama dengan pergantian Dian, pemegang saham independen juga menyetujui pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia.
Transformasi tersebut menunjukkan Telkom sedang mencoba mengubah struktur bisnisnya untuk membuka nilai aset yang selama ini dinilai belum tercermin optimal dalam valuasi perusahaan.
Dian Gagal atau Tak Diberi Cukup Waktu?
Pertanyaan yang lebih tepat akhirnya bukan sekadar apakah Dian Siswarini gagal.
Masa jabatan sekitar 16 bulan relatif pendek untuk mengukur hasil transformasi perusahaan sebesar Telkom, terlebih beberapa program strategis baru memasuki tahap eksekusi.
Data semester I-2026 juga tidak menunjukkan perusahaan sedang mengalami kemerosotan operasional. Pendapatan, EBITDA, laba bersih normalisasi dan arus kas operasional justru tumbuh.
Sebaliknya, harga saham TLKM memang memberikan catatan merah menjelang berakhirnya kepemimpinan Dian.
Pada 30 September 2026, saham tersebut berada di Rp2.290 dan berada dekat titik terendah dalam rentang 52 minggu.
Karena itu, tanpa penjelasan eksplisit dari pemegang saham pengendali, belum ada dasar faktual untuk menyatakan kejatuhan harga saham TLKM sebagai penyebab Dian Siswarini dicopot.
Yang jelas, kondisi saham tersebut kini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Nanang Hendarno.
Pasar tidak hanya akan menunggu kelanjutan transformasi TLKM 30, tetapi juga melihat apakah Dirut baru mampu menerjemahkan transformasi itu menjadi sesuatu yang paling ditunggu investor: pertumbuhan dan kenaikan valuasi saham TLKM.


