Selular.ID -

Bagaimana Lisa Su Mengubah AMD dari Kondisi Nyaris Bangkrut Menjadi Raksasa Chip AI Bernilai $675 miliar

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Lisa Su, yang lahir di Taiwan, mengambil alih perusahaan pembuat chip Advanced Micro Devices (AMD) yang kala itu sedang kesulitan, lalu mengubahnya menjadi raksasa chip AI bernilai $675 miliar.

Dengan kinerja yang terus meningkat, AMD kini menantang dominasi Nvidia—perusahaan milik sepupunya, Jensen Huang—dalam persaingan chip AI global.

Saat Su didapuk sebagai CEO AMD pada 2014, perusahaan tersebut menanggung utang hampir $2,5 miliar, harga sahamnya merosot hingga sekitar $1,61, dan nilai pasarnya jatuh di bawah $2 miliar.

Pendapatan perusahaan hanya pernah meningkat satu kali dalam lima tahun sebelumnya, sementara rumor mengenai kebangkrutan dan pemecahan perusahaan beredar luas di industri tersebut.

Terlepas dari situasi sulit itu, siapa sangka, Su malah menganggap peran tersebut sebagai pekerjaan impiannya.

“Ketika Anda tumbuh besar sebagai orang yang berkecimpung di dunia teknologi—dan saya menghabiskan karier saya di bidang semikonduktor—tidak banyak perusahaan semikonduktor besar asal AS. Jadi, saya sangat antusias untuk menjadi CEO,” ujar Su kepada CNN Business dalam sebuah wawancara pada 2020.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Faktanya, lebih dari satu dekade kemudian, eksekutif berusia 56 tahun ini telah mengubah AMD menjadi salah satu produsen chip AI terbesar di dunia, dengan nilai pasar sekitar $675 miliar dan harga saham yang melonjak tajam.

“Ini benar-benar salah satu kisah kebangkitan paling luar biasa dalam sejarah bisnis modern Amerika,” kata Chris Miller, seorang sejarawan industri semikonduktor, kepada majalah Time.

Kesuksesannya membuat ia dinobatkan oleh Time sebagai CEO of the Year 2024, menjadikannya wanita pertama yang meraih gelar tersebut.

Menurut Forbes, Su memiliki perkiraan kekayaan bersih sekitar $2,4 miliar per 20 Mei 2026. Kekayaannya itu diperkirakan melonjak hingga $3,4 miliar pada akhir 2026, yang terutama didorong oleh kepemilikan saham dan kompensasi berbasis kinerja.

Baca Juga: Tanpa Biaya Cloud, AMD dan Perplexity Boyong Agen AI ke PC

Dari Insinyur Lulusan MIT Hingga Menjadi CEO AMD

Lahir di Taiwan, Lisa Su pindah ke Amerika Serikat pada usia tiga tahun setelah keluarganya berimigrasi agar ayahnya, seorang ahli statistik, dapat menempuh pendidikan pascasarjana.

“Ayah saya sering menguji kemampuan saya dengan tabel matematika di meja makan. Begitulah awal mula ketertarikan saya pada matematika”, ujarnya dalam wawancara dengan Forbes pada 2023.

Ia tumbuh besar di New York City dan sejak dini menaruh minat pada sains dan teknik, serta menghabiskan waktu untuk belajar pemrograman.

Ayahnya mengungkapkan kepada Tatler Asia bahwa semasa kecil, Su sangat tertarik pada cara kerja berbagai benda dan sering membongkar mobil-mobilan untuk mengamati mekanisme di dalamnya.

Saat bersekolah di Bronx High School of Science—sekolah yang dikenal sering melahirkan ilmuwan dan peneliti terkemuka—Su dikelilingi oleh teman-teman sekelas yang sangat berbakat.

Lingkungan yang kompetitif itu mendorongnya untuk meraih prestasi gemilang, baik secara akademis maupun profesional.

Ia kemudian mengenang pengalamannya membuat proyek simulasi badai di dalam kotak menggunakan air mendidih dan jendela pengamatan untuk mempelajari efek badai tersebut.

Setelah lulus pada 1986, Su melanjutkan studi teknik elektro di Massachusetts Institute of Technology (MIT) karena menganggapnya sebagai jurusan yang paling sulit.

Namun ia mampu menuntaskan pendidikan di universitas terkemuka itu, bahkan mampu meraih gelar Ph.D. di bidang tersebut.

Pada tahun pertama kuliah, ia mulai bekerja di laboratorium penelitian semikonduktor.

Penelitian doktoralnya berfokus pada MOSFET—sakelar mungil yang mengendalikan aliran listrik di dalam chip komputer—yang turut membuka jalan bagi kariernya di industri semikonduktor.

Setelah lulus dari MIT, ia menghabiskan tahun-tahun awal kariernya di Texas Instruments dan IBM, dua raksasa teknologi generasi awal; pengalaman ini memberinya wawasan tentang cara menjalankan bisnis dan mengelola tim.

“Saya sangat beruntung di awal karier saya. Setiap dua tahun, saya mengerjakan hal yang berbeda”,  katanya.

Titik balik karirnya terjadi pada 2012, saat ia memutuskan bergabung dengan AMD sebagai wakil presiden senior dan manajer umum unit bisnis global perusahaan.

“Saya merasa seolah sedang menjalani pelatihan untuk meraih kesempatan melakukan sesuatu yang bermakna di industri semikonduktor. Dan AMD adalah kesempatan itu bagi saya”, kenangnya.

Dua tahun kemudian, ia menjadi CEO perempuan pertama AMD sejak perusahaan tersebut didirikan pada 1969.

Promosi jabatan itu terjadi di masa yang sulit. AMD telah memangkas sekitar seperempat tenaga kerjanya, menjual dan menyewa kembali kantornya di Austin, Texas, serta memisahkan operasi manufaktur chip yang memakan biaya besar di tengah melemahnya pasar PC global.

Mantan eksekutif AMD, Patrick Moorhead, mengenang kondisi perusahaan saat itu sebagai sesuatu yang “benar-benar mati suri,” ujarnya kepada Forbes.

Pada hari kedua menjabat sebagai CEO, Su berbicara kepada para karyawan dalam pertemuan seluruh perusahaan.

“Saya yakin kita bisa menciptakan yang terbaik,” ujarnya kepada staf.

Ia menyederhanakan rencana pemulihan AMD menjadi tiga tujuan: menciptakan produk yang lebih tangguh, memulihkan kepercayaan pelanggan, dan merampingkan operasional.

“Tiga hal saja, agar sederhana,” katanya. “Karena jika ada lima atau sepuluh, itu akan sulit.”

Salah satu keputusan strategis terbesar Su adalah mengalihkan fokus AMD dari produk dengan margin keuntungan rendah ke arah chip berkinerja tinggi untuk komputasi awan, pusat data, kecerdasan buatan (AI), dan game.

Teknologi-teknologi tersebut kini mendominasi pasar, namun Su harus mulai meletakkan dasarnya sejak 2014.

Pengembangan semikonduktor canggih merupakan proses yang memakan biaya besar dan berisiko tinggi serta bisa memakan waktu bertahun-tahun, yang menuntut perusahaan untuk memprediksi teknologi apa yang akan dibutuhkan pelanggan di masa depan.

“Sangatlah penting bagi perusahaan teknologi untuk menentukan bidang apa yang benar-benar mereka kuasai, karena Anda harus menjadi yang terbaik—entah nomor satu atau nomor dua,” kata Su.

“Intinya adalah fokus pada prinsip. Inilah DNA perusahaan, mari kita buat hal tersebut sebaik mungkin dalam hal apa yang bisa kita hadirkan ke pasar”, ujar Su.

Di bawah kepemimpinan Su, para insinyur AMD menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan arsitektur chip Zen yang diluncurkan pada 2017.

Langkah ini membantu perusahaan mendapatkan kembali daya saingnya melawan para pesaing seperti Intel dan Nvidia.

Pada 2020, prosesor AMD telah menjadi pemimpin industri dalam hal kecepatan dan kinerja, serta membantu perusahaan menjalin kemitraan dengan berbagai organisasi seperti NASA, Microsoft, Meta, Lenovo, Oracle, dan Dell Technologies.

Chip AMD juga terpilih untuk menggerakkan dua superkomputer paling tangguh di dunia: Frontier di Oak Ridge National Laboratory dan El Capitan di Lawrence Livermore National Laboratory.

Ambisi AMD di bidang AI semakin meningkat ketika perusahaan mengumumkan kemitraan bernilai miliaran dolar dengan OpenAI pada Oktober 2025.

Kesepakatan ini memungkinkan OpenAI untuk menggunakan unit pemrosesan grafis (GPU) AMD dengan kapasitas enam gigawatt, di mana tahap penggunaan pertamanya dijadwalkan pada paruh kedua 2026.

“Kemitraan ini merupakan langkah besar dalam membangun kapasitas komputasi yang diperlukan untuk mewujudkan potensi penuh AI,” ujar CEO OpenAI, Sam Altman.

Pada Juli lalu, AMD melaporkan kinerja keuangan kuartal pertama yang melampaui ekspektasi Wall Street seiring terus melonjaknya permintaan akan cip AI, menurut CNBC.

Perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartal kedua sekitar $11,2 miliar, angka yang berada di atas estimasi analis sebesar $10,52 miliar.

Nilai saham AMD telah meningkat lebih dari tiga kali lipat selama setahun terakhir, termasuk kenaikan sebesar 66% hingga pertengahan 2026 ini.

Sebagai salah satu dari sedikit CEO perusahaan Fortune 500 yang memiliki gelar PhD, latar belakang teknik yang dimiliki Lisa Su telah membantunya memelopori kemajuan teknologi di AMD yang mendorong kesuksesan perusahaan.

“Pada dasarnya saya adalah seorang insinyur, dan saya sering menghabiskan banyak waktu bersama kepala insinyur serta arsitek kami untuk memahami ke mana arah masa depan menurut pandangan mereka,” ujar Su kepada Fortune.

Ia menambahkan bahwa sebagai pimpinan eksekutif, “intuisi mengenai apa yang ingin Anda capai itu sangat membantu.”

Pemimpin yang Gigih Menantang Nvidia

Su dikenal kerap mengadakan rapat di akhir pekan dan meninjau laporan terperinci hingga larut malam. Saat prototipe chip tiba dari pabrik, ia sering memeriksanya sendiri di laboratorium.

Setiap kali Vamsi Boppana, Senior VP Artificial Intelligence AMD, memberikan kabar terbaru mengenai pengembangan perangkat lunak AI, Su sering kali menanggapi dengan pesan yang sama.

“Kerja bagus. Anda harus bergerak lebih cepat.”

Mereka yang pernah bekerja sama dengan Su menggambarkannya sebagai sosok yang analitis, memiliki standar tinggi, dan sangat fokus pada eksekusi.

“Saya tidak percaya pemimpin itu dilahirkan. Saya percaya pemimpin itu dibentuk melalui pelatihan,” ujarnya kepada Time.

Su berpendapat bahwa tantangan berat sangat penting bagi pertumbuhan.

Dalam pidato wisuda tahun lalu di Rensselaer Polytechnic Institute, New York, ia mengungkapkan bahwa upaya memulihkan kondisi AMD tidaklah mudah, namun ia menghadapinya secara langsung.

Ia mengambil inspirasi dari nasihat karier yang diberikan oleh eksekutif IBM, John Kelly, untuk “menyongsong masalah-masalah tersulit.”

“Masalah yang sulit akan menguji kemampuan Anda; masalah tersebut menuntut fokus, kreativitas, dan tekad. Hal-hal itu memberikan kepercayaan diri, pertumbuhan, dan dampak nyata,” kata Su kepada CNBC.

“Saat Anda memilih tantangan tersulit, Anda memilih jalan tercepat menuju pertumbuhan dan peluang terbesar untuk membuat perubahan berarti.”

Bisnis AMD telah tumbuh lebih dari seratus kali lipat sejak Su mengambil alih kepemimpinan, namun perusahaan ini masih jauh lebih kecil dibandingkan pesaingnya, Nvidia—yang kini menjadi perusahaan paling bernilai di dunia dengan valuasi melampaui $5 triliun.

Perbandingan antara kedua perusahaan ini semakin menarik perhatian karena adanya hubungan kekerabatan antara Su dan CEO Nvidia, Jensen Huang.

Keduanya adalah sepupu jauh (sepupu satu kali sepupu). Ibu Huang adalah saudara perempuan dari kakek Su.

Namun, karena Su tumbuh besar di New York sementara Huang menghabiskan sebagian masa kecilnya di Thailand sebelum pindah ke Oregon, keduanya baru bertemu saat mereka sudah dewasa.

“Kami berada di tempat yang sangat berjauhan, jadi kami tidak tumbuh besar bersama,” ujar Su dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg.

“Kami justru bertemu di sebuah acara industri. Jadi, pertemuan itu baru terjadi saat kami sudah cukup mapan dalam karier masing-masing.”

Saat ditanya apakah AMD mampu mengungguli Nvidia, Su mengatakan kepada Wired pada Agustus lalu bahwa ia tidak memandang industri ini sebagai pasar di mana pemenang mengambil segalanya (winner-takes-all), mengingat permintaan akan chip AI yang masih sangat besar.

Dengan sikap merendah, ia berpendapat bahwa AMD sedang mengejar ketertinggalan.

“Tanpa AMD, Nvidia bisa saja melipatgandakan harga mereka. Tidak ada yang ingin terkunci dalam ekosistem tertutup (proprietary). Strategi kami sebenarnya adalah: mari berinvestasi pada ekosistem terbuka. Lalu, biarlah chip terbaik yang menang”, ujar Su.

Para pendukungnya menilai Su berada pada posisi yang tepat untuk menghadapi tantangan ini. ”

Tidak ada orang yang lebih berkualifikasi untuk pekerjaan ini,” ujar Jerry Sanders, pendiri sekaligus CEO pertama AMD.

Saat ditanya apakah suatu hari nanti Su bisa mengalahkan Nvidia, ia dengan cepat menjawab.

“Saya sama sekali tidak meragukannya.”

Baca Juga: Otak Fei-Fei Li ‘Dihargai’ Rp129 Triliun, Siapa Ilmuwan AI yang Dibeli AMD?

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU