Selular.ID – Nama Fei-Fei Li kembali menjadi sorotan setelah AMD mengakuisisi World Labs, perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang didirikannya, senilai US$8,2 miliar atau sekitar Rp129 triliun.
Nilai fantastis tersebut seolah menjadi harga yang dibayar AMD untuk mendapatkan salah satu “otak” paling berpengaruh dalam perkembangan AI modern.
Tentu AMD tidak secara harfiah membayar Rp129 triliun untuk Fei-Fei Li seorang diri. Nilai tersebut merupakan harga akuisisi World Labs beserta teknologi, tim dan aset perusahaan.
Namun sosok Li menjadi pusat perhatian karena perusahaan tersebut dibangun berdasarkan visinya mengenai generasi AI berikutnya: mesin yang tidak hanya pintar berbicara, tetapi mampu memahami dunia fisik layaknya manusia.
Siapa Fei-Fei Li?
Fei-Fei Li merupakan ilmuwan komputer dan profesor di Stanford University. Namanya memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan computer vision dan kecerdasan buatan.
Salah satu karya yang membuat namanya mendunia adalah ImageNet, basis data visual berskala besar yang membantu mengubah cara mesin belajar mengenali objek dalam gambar.
ImageNet menjadi bagian penting dalam revolusi deep learning untuk pengenalan visual.
Teknologi computer vision kemudian berkembang pesat dan kini digunakan pada berbagai perangkat, mulai smartphone yang mengenali wajah hingga sistem kendaraan otonom.
Kontribusi tersebut membuat Li menjadi salah satu ilmuwan yang berada di balik kemampuan mesin untuk mulai “melihat” dunia. Kini ambisinya bergerak lebih jauh.
Baca juga:
- Tanpa Biaya Cloud, AMD dan Perplexity Boyong Agen AI ke PC
- Laptop Colorful Rimbook L1 Plus Berbasis AMD Ryzen Dijual Rp16 Jutaan
Dari Mengajari AI Melihat hingga Memahami Dunia
Pada 2024, Fei-Fei Li mendirikan World Labs dengan tujuan membangun bentuk kecerdasan buatan yang berbeda dari chatbot generatif yang populer saat ini.
Jika AI seperti chatbot sangat kuat dalam memahami dan menghasilkan bahasa, World Labs mengejar teknologi yang disebut world model.
Sederhananya, AI tidak cukup hanya mengetahui bahwa sebuah meja adalah “meja”.
Mesin perlu memahami bentuknya, posisinya dalam ruang, hubungannya dengan objek lain hingga memperkirakan apa yang terjadi ketika objek tersebut bergerak atau berinteraksi dengan lingkungan.
Kemampuan semacam inilah yang dibutuhkan robot apabila suatu hari harus bekerja berdampingan dengan manusia.
World model juga dapat memainkan peran penting untuk kendaraan otonom, simulasi, gim hingga berbagai mesin yang harus mengambil keputusan berdasarkan kondisi dunia nyata.
Marble Jadi Bukti Ambisi Fei-Fei Li
Salah satu teknologi yang telah dikembangkan World Labs bernama Marble.
Teknologi tersebut dapat menghasilkan lingkungan simulasi yang menyerupai dunia nyata.
Lingkungan digital semacam ini tidak hanya berpotensi digunakan untuk hiburan, tetapi juga menjadi tempat mesin berlatih sebelum beroperasi di dunia sebenarnya.
Konsepnya menjadi semakin penting ketika industri teknologi bergerak menuju physical AI.
Robot tidak bisa hanya dilatih membaca miliaran halaman teks. Mesin harus memahami ruang tiga dimensi, jarak, gerakan, objek dan konsekuensi tindakannya.
Di sinilah keahlian Fei-Fei Li menjadi aset strategis.
Mengapa AMD Berani Bayar Rp129 Triliun?
AMD sedang bertarung di salah satu industri paling bernilai di dunia: infrastruktur AI.
Perusahaan yang dipimpin Lisa Su selama ini dikenal sebagai salah satu pesaing utama Nvidia dalam CPU, GPU dan akselerator AI.
Namun kompetisi AI tidak lagi berhenti pada siapa yang mampu membuat chip paling cepat.
Nvidia telah bergerak membangun ekosistem lebih luas, termasuk software dan teknologi world model melalui Cosmos.
Dengan membeli World Labs, AMD mendapatkan jalan untuk memperkuat sisi AI sekaligus menghubungkannya dengan perangkat keras buatannya.
Karena itulah akuisisi senilai US$8,2 miliar atau Rp129 triliun tersebut dapat dilihat lebih jauh daripada sekadar membeli sebuah startup.
AMD membeli teknologi, tim dan terutama visi yang dibangun Fei-Fei Li mengenai masa depan AI.
Fei-Fei Li Masuk AMD
Setelah akuisisi selesai, Fei-Fei Li disebut akan bergabung langsung dengan AMD sebagai Wakil Direktur Utama sekaligus Kepala Ilmuwan.
Tim World Labs juga dibawa masuk ke dalam perusahaan.
“Kini kami memiliki bukti nyata atas kemungkinan yang ada, dan kami ingin melakukan segala yang kami bisa untuk mempercepat masa depan. Untuk itu diperlukan perluasan skala, jangkauan yang lebih luas, serta kedekatan langsung dengan perangkat keras,” ujar Li saat mengumumkan kesepakatan tersebut.
Pernyataan terakhir mengenai kedekatan dengan perangkat keras menjadi penting.
World Labs mempunyai teknologi AI, sementara AMD mempunyai chip dan infrastruktur komputasi untuk menjalankannya.
Menggabungkan keduanya dapat membantu AMD membangun ekosistem AI dari hardware hingga model.
‘Otak’ Rp129 Triliun untuk Lawan Nvidia
Nilai akuisisi World Labs tentu bukan harga literal untuk otak Fei-Fei Li.
Tetapi sulit memisahkan valuasi fantastis tersebut dari reputasi dan visi ilmuwan yang berada di belakang perusahaan itu.
Dulu, Fei-Fei Li membantu mengajari komputer melihat melalui revolusi computer vision.
Kini ia ingin membawa AI menuju tahapan berikutnya, yakni memahami dunia tempat manusia hidup.
Itulah aset yang sedang diperebutkan industri teknologi.
AMD pada akhirnya tidak hanya mengeluarkan Rp129 triliun untuk membeli sebuah perusahaan AI.
Perusahaan juga mempertaruhkan uang sebesar itu pada gagasan Fei-Fei Li mengenai seperti apa kecerdasan mesin generasi berikutnya.
Jika world model benar-benar menjadi fondasi robot dan physical AI masa depan, “otak” Fei-Fei Li senilai Rp129 triliun itu bisa menjadi senjata AMD paling berharga untuk menantang dominasi Nvidia.


