Singtel Tetap Rajanya Telekomunikasi Asia Tenggara dengan Nilai Pasar USD 61 Miliar

BACA JUGA

Selular.ID – Singapore Telecommunications Limited (Singtel) kembali memimpin daftar perusahaan telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara berdasarkan kapitalisasi pasar tahun 2025, dengan nilai mencapai sekitar USD 61,03 miliar.

Data ini dipublikasikan oleh Seasia Stats mencakup 14 perusahaan telekomunikasi dari enam negara di kawasan, mulai dari Singapura, Thailand, Indonesia, Malaysia, hingga Filipina.

Posisi Singtel di puncak ditopang oleh jaringan investasi regionalnya yang luas, termasuk kepemilikan saham di Advanced Info Service (AIS) Thailand, Telkom Indonesia, dan Globe Telecom Filipina.

Industri telekomunikasi Asia Tenggara terus berkembang pesat pada 2025, seiring meningkatnya permintaan layanan 5G, fiber broadband, komputasi awan, dan infrastruktur digital di seluruh kawasan.

Dinamika ini mendorong sejumlah perusahaan telecom di kawasan mencatatkan valuasi miliaran dolar, sekaligus mempertegas peran strategis Asia Tenggara dalam peta telekomunikasi global.

Di sisi Indonesia, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menempati posisi ketiga secara regional. Sepanjang tahun buku 2025, perusahaan telah membukukan kinerja transformatif di bawah kepemimpinan Direktur Utama Dian Siswarini.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Telkom Indonesia mencatat laba bersih Rp17,8 triliun dan Total Shareholder Return sebesar 35,7% sepanjang 2025, yang terdiri dari capital gain 28,4% dan dividend yield 7,3%.

Singtel kuasai Asia Tenggara dengan kapitalisasi USD 61,03 miliar per 2025. Telkom Indonesia berada di posisi ketiga dengan kapitalisasi USD 16,99 miliar, membukukan pendapatan konsolidasi Rp73 triliun pada semester I 2025 dan laba bersih Rp17,8 triliun sepanjang tahun buku 2025.

Peta Kekuatan Telekomunikasi Regional

Peringkat kedua ditempati oleh Advanced Info Service (AIS) dari Thailand, dengan kapitalisasi pasar USD 32,34 miliar. AIS mendominasi pasar seluler Thailand dan telah berekspansi agresif di layanan broadband dan digital.

Telkom Indonesia mengamankan posisi ketiga dengan kapitalisasi USD 16,99 miliar. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini memimpin sektor telekomunikasi Indonesia melalui Telkomsel, IndiHome, pusat data, dan berbagai proyek infrastruktur digital.

Di posisi keempat terdapat True Corporation (Thailand) dengan nilai pasar USD 15,46 miliar, yang menguat setelah merger antara True dan DTAC memperkokoh posisinya di pasar Thailand.

Malaysia hadir melalui CelcomDigi dengan kapitalisasi USD 9,07 miliar, yang mendapat dorongan dari peluncuran 5G nasional.

Dari Indonesia, selain Telkom Indonesia, terdapat tiga nama lain yang masuk daftar. Indoritel mencapai USD 7,71 miliar, sementara Indosat meraih USD 4,15 miliar setelah memperkuat jaringan 5G-nya secara nasional. XLSmart juga tercatat dengan nilai pasar USD 3,19 miliar.

Kehadiran tiga operator berbeda dari Indonesia dalam satu daftar mencerminkan kompetisi pasar telekomunikasi dalam negeri yang semakin ketat, sekaligus besarnya skala pasar dengan lebih dari 270 juta penduduk.

Baca Juga: Pendapatan Telkom Sepanjang 2025 Rp146 Triliun, Laba Bersih Rp17 Triliun

Filipina dan Infrastruktur Masuk Radar

Filipina diwakili dua nama besar: PLDT dengan kapitalisasi pasar USD 4,49 miliar dan Globe Telecom sebesar USD 4,23 miliar. Keduanya tengah berinvestasi besar-besaran pada internet fiber dan layanan keuangan digital.

Segmen infrastruktur pendukung telekomunikasi juga mencatatkan posisi signifikan. Dari Singapura, NetLink Trust membukukan kapitalisasi USD 3,07 miliar.

Sementara dari Indonesia, Elang Mahkota Teknologi dan Tower Bersama Infrastructure masing-masing mencapai USD 2,67 miliar dan USD 2,08 miliar.

Masuknya perusahaan infrastruktur menara dan jaringan fiber ke dalam daftar ini mencerminkan pergeseran model bisnis di industri telekomunikasi regional operator tidak lagi hanya berlomba memperluas pelanggan, tetapi juga memonetisasi aset infrastruktur pasif secara terpisah.

Transformasi Digital Dorong Nilai Perusahaan

Kinerja Telkom Indonesia sepanjang 2025 menjadi cerminan tren yang lebih luas di industri. Pada semester I 2025, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp73,0 triliun dengan margin EBITDA 49,5%.

Hingga Juni 2025, Telkomsel mengoperasikan 280.434 Base Transceiver Station (BTS), termasuk 229.214 BTS 4G dan 2.537 BTS 5G.

Di sisi investasi infrastruktur digital, Telkom mengoperasikan 35 pusat data dengan total kapasitas 44 MW untuk segmen enterprise dan hyperscale, tersebar di 30 lokasi dalam negeri dan 5 lokasi internasional termasuk Singapura, Hong Kong, dan Timor Leste.

Dari sisi Singtel, laporan keuangan FY2025 yang dipublikasikan perusahaan mengungkapkan rencana belanja modal total sekitar SGD 2,5 miliar.

Sebesar SGD 0,8 miliar di antaranya akan diinvestasikan di pusat data, kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, dan satelit termasuk satelit pengganti ST-2 yang dijadwalkan beroperasi sebelum 2028.

Peta kapitalisasi pasar telekomunikasi Asia Tenggara 2025 menunjukkan bahwa nilai perusahaan kini semakin ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan infrastruktur fisik dengan layanan digital dari 5G dan fiber hingga pusat data dan komputasi awan.

Telkom Indonesia sendiri tengah menjalankan transformasi menuju model strategic holding melalui program TLKM 30, termasuk pemisahan sebagian bisnis wholesale fiber connectivity ke entitas InfraNexia yang ditandai dengan penandatanganan Conditional Spin-off Agreement pada Desember 2025.

Baca Juga: Pengamat Sebut Tiga Operator Seluler Bakal Kebagian Pita Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU