Waspada! Ransomware Masih Menjadi Ancaman Serius Keamanan Siber

penjahat siber

Selular.ID – IBM melalui studi tahunan X-Force Threat Intelligence Index 2022, mengungkap manufaktur merupakan industri paling diincar oleh para penjahat siber khususnya di wilayah Asia.

Meski phishing masih menjadi penyebab paling umum dari serangan siber dalam satu tahun terakhir,  nyatanya IBM Security X-Force menemukan adanya peningkatan serangan siber sebesar 33% yang disebabkan oleh eksploitasi kerentanan perangkat lunak yang merupakan titik masuk paling diandalkan oleh pelaku ransomware selama 2021. Hal tersebut merupakan penyebab dari 44% dari serangan ransomware.

Charles Henderson, Head of X-Force menyebut di 2021 para pelaku ransomware berusaha untuk ‘meretakkan’ tulang punggung rantai pasokan global dengan serangan terhadap manufaktur, yang menjadi industri yang paling banyak diserang (23%) pada 2021, dan berhasil menyingkirkan serangan pada layanan keuangan dan asuransi setelah sekian lama berada di peringkat pertama.

Baca juga: 43 Persen Infrastruktur IoT Belum Terlindungi dari Ancaman Siber

“Penjahat siber menyadari bahwa gangguan yang diberikan pada organisasi manufaktur akan menyebabkan rantai pasokan hilir menekan organisasi untuk membayar uang tebusan,” ungkap Charles, Kamis (10/3).

“Sebanyak 47% serangan siber terhadap manufaktur disebabkan oleh kerentanan unpatched software yang belum atau tidak bisa diatasi sehingga hal ini menyoroti kebutuhan organisasi untuk memprioritaskan manajemen kerentanan,” sambungnya.

Catatan menariknya dalam laporan ini, ransomware ternyata bertahan sebagai metode serangan siber utama yang teramati pada 2021, dengan tidak adanya tanda-tanda para kelompok ransomware akan berhenti mengandalkan pola serangan tersebut, meskipun ada peningkatan dalam penghapusan ransomware.

“Menurut laporan, usia rata-rata kelompok ransomware sebelum dihentikan atau berganti nama ialah 17 bulan. X-Force mengungkapkan bahwa bisnis di Asia, Eropa dan MEA, kerentanan unpatched software menyebabkan sekitar 50% serangan pada 2021, yang memperlihatkan kesulitan terbesar bisnis yaitu kerentanan dalam patching,” ungkapnya.

Baca juga: IBM Akuisisi McD Tech Labs, Percepat Layanan Restoran Berbasis AI

Secara garis besar, penjahat siber umumnya menginginkan uang melalui jalur serangan ransomware. Pelaku bisnis kini perlu menyadari bahwa ketidak siapan keamanan siber yang mereka miliki menjadi sebuah ancaman berarti.

“Jangkauan serangan semakin tumbuh lebih luas, jadi alih-alih beroperasi dengan asumsi bahwa setiap kerentanan di lingkungan mereka telah di-patch, bisnis harus beroperasi dengan asumsi bahwa penyusupan selalu ada, dan meningkatkan manajemen kerentanan mereka dengan strategi Zero-Trust,” tutupnya.