Realme Bebas Dari Krisis Chipset, Begini Strateginya

Krisis Chipset

Selular.ID – Stok komponen chip semikonduktor global hingga saat ini masih mengalami kelangkaan. Badai krisis chipset ini berdampak hampir di seluruh industri teknologi, tak kecuali industri smartphone.

Kendati demikian, Realme memiliki tips jitu guna meredam ganasnya badai krisis chipset, yang membuat banyak brand-brand raksasa teknologi musti bertekuk lutut menunda peluncuran produk terbarunya, karena kelangkaan pasokan inti teknologi tersebut.

Public Relations Manager Realme Indonesia, Krisva Angnieszca menjelaskan untuk meredam persoalan krisis chipset tersebut Realme pasang kuda-kuda strategic business partners.

Baca juga: Produk AioT Realme di 2022 Bakal Lebih Lengkap di Indonesia  

“Soal kelangkaan chipset sebenarnya kita balik lagi mencari peluang melalui strategic business partners guna menjawab kelangkaan chipset yang melanda global saat ini. Kami dalam hal ini mengandeng Unisoc, meski pemain baru mereka berpotensi, kita coba produknya ke perangkat kita cocok dan bisa angkat produk Realme dan berjalan baik, dengan ditambah dengan komponen-komponen yang Realme miliki tentunya,” terangnya Karisva.

Lalu secara penerimaan pasar perangkat Realme dengan mengusung Chipset Unisoc pun terbilang baik.

“Kami menganggap strategic business partners bersama Unisoc sebagai sebuah upaya. Kami tidak ingin Krisis Chipset yang melanda global turut membawa kita. Kita tetap ingin menyediakannya dan mencari potensi yang ada,” tandasnya.

Sekedar tambahan ketersediaan chipset sepanjang 2021 ini memang tidak terlihat membaik jika dibandingkan dengan pendahulunya. Hal ini mempengaruhi banyak industri, bukan hanya industri PC dan smartphone saja, namun di industri otomotif dan lainnya.

Baca juga: Realme 8 5G Ludes Terjual, Begini Komitmen Realme Pada Perangkat 5G di 2022 

Bahkan CEO Intel Pat Gelsinger memperingatkan krisis chipset global akan bertahan lebih lama hingga 2023. Sehingga menurutnya perusahaan-perusahaan yang bergantung kepada chipset harus melakukan beberapa strategi bisnis seperti mengurangi produksi hingga meningkatkan harga jual barangnya.

“Kekurangan chipset saat ini adalah yang terburuk, tetapi akan menjadi lebih baik secara bertahap setiap kuartal tahun depan. Keseimbangan pasokan-permintaan tak dapat diharapkan hingga setidaknya 2023,” katanya.