Selular.ID – Siapa bilang ilmu ramal meramal hanya milik Ki Joko Bodo atau Mama Laurence. Para entrepreneur dan top executive, dewasa ini pun wajib memiliki ilmu meneropong yang bakal terjadi masa yang akan datang.
Trend Spotting, demikian istilah yang kini merupakan topik hangat diantara para CEO kelas dunia. Terutama sejak hantaman krisis, melanda perekonomian global. Ribuan perusahaan bangkrut dan banyak CEO yang harus kehilangan jabatan karena salah memprediksi arah pasar.
Mundurnya Ho Ching, istri Perdana Menteri Lee Hsien Loong, setelah lima tahun sebagai CEO Temasek Holdings, merupakan cerita kelabu salah satu perusahaan pengelola dana pemerintah terbesar di dunia.
Ho Ching dianggap bertanggung jawab atas memburuknya kinerja Temasek. Sejak Desember 2007, Temasek telah menanamkan miliaran dolar AS ke dalam bekas bank investasi Wall Street, Merrill Lynch, yang menderita kerugian besar-besaran dari subprime AS, atau investasi mortgage berisiko tinggi.
Sebelumnya, krisis telah memaksa CEO Merrill Lynch Stan O’Neal untuk meletakkan jabatan. O’Neal mundur setelah bank investasi global itu mencatat kerugian hingga miliaran dolar AS, yang merupakan angka kerugian terbesar dalam 93 tahun sejarah Merrill Lynch.
Kontras dengan Ho Ching dan O’Neal, CEO Apple Corp Steve Jobs justru semakin melaju. Sang jenius perfeksionis yang hampir tamat karirnya ini sempat merasakan pahitnya didepak dari Apple pada 1985, saat generasi pertama Mac kurang mendapat respon pasar.
Namun Jobs tetap pada keputusan untuk tidak mengubah fitur yang terdapat pada Mac. Jobs pun lompat ke perusahaan gurem NeXT, dimana ia sempat menciptakan PC seharga $ 10,000 yang penuh inovasi, namun tetap saja kelewat mahal.
Perjudian Jobs yang terbesar tentu saja adalah saat ini merogoh $ 50 juta dari koceknya, guna membiayai sendiri Pixar Animation yang saat itu tengah dilanda krisis keuangan.
Namun kali ini keberuntungan mulai hinggap, ketika film Toy Story buatan Pixar yang dirilis pada 1995, meraih box office.
Baca Juga: Sergey Brin Akui Google Glass Gagal karena Terlalu Pede Merasa Steve Jobs
Selanjutnya, dewi fortuna seakan tak ingin lepas dari Jobs. Akuisisi Apple atas NeXT setahun kemudian, memberi jalan baginya untuk mengalirkan darah baru bagi Apple, guna bersaing dengan raksasa peranti lunak Microsoft.
Setelah iMac (1999), produk fenomenal tentu saja adalah iPod (2001) yang mengguncang bisnis pemutar musik digital. Jobs kemudian meluncurkan iTunes (2003) yang memungkinkan label besar menjual lagu mereka secara on-line.
Dan yang paling anyar, Jobs meluncurkan iPhone, ponsel dengan kemampuan iPod. Tidak tanggung-tanggung produk ini diprediksi mampu terjual sebanyak 45 juta unit pada 2009.
Inovasi dan value, barangkali itulah yang menjadi kunci keberhasilan Steve Jobs dalam merumuskan trend produk di masa yang akan datang. Semoga kemampuan trend spotting juga menular pada para CEO kita, termasuk Karen Agustiawan yang kini menjadi nahkoda baru Pertamina.
Steve Jobs memainkan peran penting dan menyelamatkan film Toy Story. Setelah dipecat dari Apple pada tahun 1985, ia menginvestasikan $10 juta untuk membeli divisi grafis komputer Lucasfilm, dan mengganti namanya menjadi Pixar.
Jobs menjabat sebagai penyandang dana utama, CEO, dan Produser Eksekutif film tahun 1995 tersebut.
Diselamatkan dari Kepunahan: Pada awal tahun 1990-an, Pixar mengalami kerugian besar. Jobs hampir menjual perusahaan tersebut kepada Microsoft atau Hallmark, tetapi setelah melihat cuplikan awal Toy Story, ia memutuskan untuk menambah investasi. Ia menunda penjualan dan memilih untuk mendanai Penawaran Umum Perdana (IPO) untuk Pixar, yang secara resmi go public tepat satu minggu setelah Toy Story ditayangkan perdana.
Terobosan Miliaran Dolar: Kesuksesan Toy Story menjadikan Jobs seorang miliarder dalam semalam. Ketika Disney mengakuisisi Pixar pada tahun 2006, Jobs menjadi pemegang saham individu terbesar Disney (memegang 7% saham) dan bergabung dengan Dewan Direksi mereka.
Kepercayaan pada Cerita: Meskipun Jobs adalah seorang visioner teknologi, ia terkenal mengatakan bahwa kotak teknologi bersifat sementara, sedangkan cerita yang hebat akan abadi. Ia memprediksi bahwa orang-orang akan tetap menonton Toy Story beberapa dekade kemudian karena pada dasarnya film itu tentang persahabatan, bukan hanya tentang grafis komputer.
Toy Story adalah film yang meningkatkan standar dan mengubah animasi dari gambar tangan menjadi animasi digital dan efek visual. Namun, kunci dari proyek inovatif ini adalah kesepakatan senilai $26 juta antara Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studios yang menjadikan mereka tim yang kuat pada tahun 1991.
Pixar pada saat itu telah bereksperimen dengan beberapa animasi yang sukses seperti film pendek 2 menit Luxo Jr. yang dinominasikan Oscar pada tahun 1986, yang merupakan animasi pendek CGI pertama dan kemudian menjadi logo Pixar. Luxo Jr. diikuti oleh animasi pendek CGI 5 menit pemenang Oscar Pixar, Tin Toy, pada tahun 1988, yang merupakan film pendek animasi pertama yang memenangkan Academy Award. Dan pengalaman-pengalaman ini membuka jalan bagi pembuatan Toy Story.
Baca Juga: Strategi Baru, Disney Rancang Super App Untuk Pengguna Global




